Tahukah Anda

Pilihan Pribadi Mana yang Paling Besar Mengurangi Emisi Karbon?

Ketika membicarakan perubahan iklim, kita sering mendengar berbagai saran sederhana: mengurangi penerbangan, makan lebih sedikit daging, memakai transportasi umum, menggunakan energi terbarukan, atau memilih peralatan hemat energi.

Namun tidak semua tindakan memiliki dampak yang sama terhadap emisi.

Menurut World Resources Institute (WRI), salah satu perubahan gaya hidup dengan potensi dampak terbesar adalah hidup tanpa mobil pribadi atau car-free.

Dampaknya bahkan disebut dapat melampaui sejumlah tindakan individual populer lainnya.

Car-Free Bisa Memberi Dampak Sangat Besar

Dalam perbandingan potensi pengurangan emisi, hidup tanpa mobil pribadi memiliki dampak:

  • sekitar 2 kali lebih besar dibanding mengurangi penerbangan atau beralih ke energi terbarukan di rumah,
  • lebih dari 2 kali lebih besar dibanding beralih ke pola makan vegan atau lebih sering menggunakan transportasi umum,
  • sekitar 5 kali lebih besar dibanding carpooling atau memilih makanan lokal dan musiman,
  • dan sekitar 10 kali lebih besar dibanding menggunakan peralatan hemat energi atau melakukan komposting.

Perbandingan ini menunjukkan satu hal penting:

tidak semua tindakan iklim memiliki bobot yang sama.

Mematikan lampu tetap baik.

Mengurangi sampah tetap penting.

Namun jika tujuan utamanya adalah menurunkan emisi secara signifikan, kita perlu memahami tindakan mana yang memiliki dampak terbesar.

Mengapa Mobil Pribadi Punya Dampak Besar?

Mobil pribadi membutuhkan energi besar sepanjang siklus hidupnya.

Emisi tidak hanya berasal dari bahan bakar yang dibakar saat kendaraan digunakan.

Ada pula emisi dari produksi kendaraan, pembuatan bahan bakar, pembangunan jalan, parkir, dan infrastruktur pendukung.

Selain itu, sistem kota yang sangat bergantung pada mobil cenderung mendorong jarak perjalanan lebih panjang.

Rumah semakin jauh dari tempat kerja.

Pusat perbelanjaan semakin tersebar.

Transportasi publik menjadi kurang kompetitif.

Akibatnya, ketergantungan terhadap kendaraan pribadi semakin besar.

Jadi Apakah Semua Orang Harus Berhenti Menggunakan Mobil?

Tidak sesederhana itu.

Seseorang yang tinggal di pusat kota dengan transportasi publik yang baik mungkin dapat hidup tanpa mobil dengan relatif mudah.

Namun bagi orang yang tinggal di daerah suburban atau wilayah dengan transportasi publik terbatas, pilihan tersebut jauh lebih sulit.

Ada juga pekerja yang membutuhkan kendaraan untuk aktivitas profesional.

Karena itu, dampak potensial suatu tindakan tidak selalu sama dengan kemudahan penerapannya.

Individual Action Tetap Penting

Pertanyaan yang sering muncul adalah:

Apakah tindakan individu benar-benar dapat memberikan dampak terhadap perubahan iklim?

Jawabannya: bisa, tetapi konteksnya penting.

IPCC memperkirakan bahwa solusi dari sisi permintaan atau demand-side solutions di sektor transportasi, bangunan, dan pangan berpotensi menurunkan emisi di sektor-sektor tersebut sekitar 40–70 persen pada 2050.

Demand-side solutions mencakup perubahan teknologi, infrastruktur, dan pola konsumsi.

Misalnya:

  • berpindah dari mobil ke transportasi publik,
  • menggunakan bangunan hemat energi,
  • mengurangi pemborosan makanan,
  • menggunakan kendaraan listrik,
  • atau memilih pola konsumsi yang lebih rendah karbon.

Potensinya sangat besar.

Tetapi Ada Masalah Besar: Sistem

Potensi sebesar 40–70 persen tersebut tidak otomatis akan tercapai.

Menurut WRI, tanpa perubahan sistem yang membuat perilaku rendah karbon lebih mudah dilakukan, kita mungkin hanya dapat membuka sebagian kecil potensi tersebut.

Inilah perbedaan antara personal responsibility dan systemic change.

Seseorang mungkin ingin menggunakan transportasi publik.

Namun jika bus datang satu jam sekali, pilihan itu tidak praktis.

Seseorang mungkin ingin membeli kendaraan listrik.

Namun jika tidak ada charging station, keputusan tersebut menjadi sulit.

Seseorang mungkin ingin menggunakan listrik terbarukan.

Namun jika penyedia listrik tidak menyediakan opsi tersebut, konsumen tidak memiliki pilihan.

Pilihan Hijau Harus Menjadi Pilihan Termudah

Di sinilah peran pemerintah dan perencana kota menjadi sangat penting.

Kebijakan yang baik tidak hanya meminta masyarakat untuk berperilaku ramah lingkungan.

Sistem harus membuat perilaku tersebut lebih mudah, lebih murah, dan lebih nyaman.

Bayangkan dua kota.

Kota pertama memiliki trotoar sempit, transportasi publik buruk, jalur sepeda minim, dan permukiman berjauhan.

Kota kedua memiliki transportasi publik terintegrasi, jalur sepeda aman, trotoar nyaman, dan fasilitas publik dekat dengan permukiman.

Di kota kedua, masyarakat jauh lebih mudah memilih transportasi rendah karbon.

Infrastruktur Membentuk Perilaku

Perilaku manusia tidak terjadi dalam ruang kosong.

Kita membuat keputusan berdasarkan sistem yang tersedia.

Jika parkir murah dan transportasi umum buruk, mobil pribadi menjadi pilihan rasional.

Jika transportasi publik cepat dan nyaman, keputusan bisa berubah.

Jika jalur sepeda aman, lebih banyak orang mau bersepeda.

Jika trotoar teduh dan nyaman, berjalan kaki menjadi lebih menarik.

Artinya, desain kota dapat menjadi kebijakan iklim.

Kendaraan Listrik Juga Membutuhkan Sistem

Beralih ke kendaraan listrik sering dipandang sebagai salah satu solusi utama transportasi rendah karbon.

Namun keberhasilannya bergantung pada banyak faktor.

Charging station harus tersedia.

Jaringan listrik harus mampu menangani permintaan tambahan.

Sumber listrik juga perlu semakin rendah karbon.

Jika kendaraan listrik menggunakan listrik dari sistem yang sangat bergantung pada batu bara, manfaat emisinya dapat berkurang dibanding sistem listrik yang lebih bersih.

Karena itu, elektrifikasi transportasi perlu berjalan bersama transisi energi.

Transportasi Publik Memberi Manfaat Lebih dari Sekadar Karbon

Mengurangi ketergantungan pada mobil pribadi tidak hanya menurunkan emisi.

Ada berbagai manfaat tambahan.

Kemacetan dapat berkurang.

Kualitas udara dapat membaik.

Kebutuhan lahan parkir berkurang.

Masyarakat lebih aktif berjalan kaki.

Ruang kota dapat digunakan untuk taman atau ruang publik.

Karena itu, transformasi transportasi adalah contoh solusi iklim yang memiliki banyak co-benefits.

Makanan Juga Memiliki Jejak Karbon

Selain transportasi, makanan menjadi salah satu bidang dengan potensi pengurangan emisi yang besar.

Pola makan berbasis tumbuhan umumnya memiliki jejak karbon lebih rendah dibanding pola makan dengan konsumsi produk hewani yang tinggi.

Namun pilihan makanan juga dipengaruhi harga, budaya, akses, dan kebiasaan.

Sekali lagi, solusi tidak cukup hanya mengatakan kepada masyarakat:

“Makanlah lebih ramah lingkungan.”

Sistem pangan harus menyediakan pilihan tersebut dengan harga yang terjangkau.

Mengurangi Penerbangan Tetap Penting

Mengurangi perjalanan udara juga dapat memberikan dampak signifikan, terutama bagi orang yang sering terbang.

Emisi penerbangan sangat tidak merata.

Sebagian kecil populasi dunia melakukan sebagian besar perjalanan udara.

Karena itu, dampak individual dari mengurangi penerbangan sangat bergantung pada seberapa sering seseorang terbang sebelumnya.

Bagi orang yang tidak pernah terbang, tentu dampaknya hampir tidak ada.

Peralatan Hemat Energi Tetap Berguna

Walaupun dampaknya mungkin lebih kecil dibanding perubahan transportasi, penggunaan peralatan hemat energi tetap penting.

AC yang efisien.

Lampu LED.

Kulkas hemat energi.

Bangunan dengan insulasi yang baik.

Semua ini membantu mengurangi konsumsi listrik.

Jika diterapkan pada jutaan rumah, dampaknya menjadi besar.

Artinya, tindakan kecil tidak perlu diremehkan.

Kita hanya perlu memahami skalanya.

Komposting Juga Punya Manfaat

Komposting membantu mengurangi sampah organik yang masuk ke tempat pembuangan akhir.

Jika sampah organik membusuk dalam kondisi minim oksigen, material tersebut dapat menghasilkan metana.

Karena itu, komposting tetap menjadi praktik yang bermanfaat.

Namun dalam konteks total jejak karbon individu, dampaknya mungkin lebih kecil dibanding keputusan transportasi atau energi.

Jangan Terjebak pada “Perfect Green Lifestyle”

Salah satu risiko diskusi tindakan individu adalah munculnya kesan bahwa setiap orang harus menjalani gaya hidup yang sempurna.

Tidak menggunakan mobil.

Tidak terbang.

Tidak makan daging.

Tidak menggunakan plastik.

Tidak menghasilkan sampah.

Pendekatan seperti ini tidak realistis bagi banyak orang.

Perubahan iklim adalah masalah sistemik.

Karena itu, solusi juga harus bersifat sistemik.

Perubahan Individu dan Sistem Bukan Dua Hal yang Bertentangan

Diskusi iklim sering terjebak pada dua kubu.

Satu pihak mengatakan perubahan harus datang dari individu.

Pihak lain mengatakan hanya pemerintah dan perusahaan yang memiliki dampak.

Padahal keduanya saling berhubungan.

Individu membuat pilihan.

Tetapi sistem menentukan pilihan mana yang tersedia.

Kebijakan dapat mengubah infrastruktur.

Infrastruktur dapat mengubah perilaku.

Perilaku masyarakat juga dapat menciptakan tekanan politik dan pasar.

Contoh Sederhana: Kota Tanpa Pilihan Transportasi

Bayangkan seseorang ingin berhenti menggunakan mobil.

Namun rumahnya berjarak 20 kilometer dari kantor.

Tidak ada kereta.

Bus hanya lewat dua jam sekali.

Trotoar tidak aman.

Tidak ada jalur sepeda.

Dalam kondisi seperti itu, meminta orang tersebut menjadi car-free tidak realistis.

Masalahnya bukan kemauan.

Masalahnya adalah desain sistem.

Kota Harus Membuat Pilihan Rendah Karbon Menjadi Pilihan Default

Kota rendah karbon bukan kota yang memaksa masyarakat membuat pengorbanan besar.

Kota rendah karbon adalah kota yang membuat pilihan berkelanjutan menjadi pilihan paling mudah.

Transportasi publik harus cepat.

Berjalan kaki harus nyaman.

Bersepeda harus aman.

Energi bersih harus tersedia.

Bangunan harus efisien.

Makanan sehat harus terjangkau.

Ketika kondisi tersebut tersedia, perilaku masyarakat dapat berubah secara alami.

Personal Carbon Footprint Tetap Berguna

Konsep jejak karbon pribadi tetap memiliki nilai.

Ia membantu kita memahami dari mana emisi berasal.

Apakah dari transportasi?

Energi rumah?

Makanan?

Penerbangan?

Konsumsi barang?

Setelah mengetahui sumber terbesar, kita dapat memprioritaskan tindakan.

Tidak semua orang perlu melakukan tindakan yang sama.

Fokus pada High-Impact Actions

Daripada melakukan puluhan tindakan kecil sekaligus, seseorang dapat memulai dari sumber emisi terbesar dalam kehidupannya.

Jika sering mengendarai mobil, kurangi perjalanan kendaraan pribadi.

Jika sering terbang, kurangi penerbangan.

Jika rumah menggunakan banyak energi, tingkatkan efisiensi.

Jika pola makan sangat intensif karbon, lakukan perubahan secara bertahap.

Pendekatan ini lebih realistis dan efektif.

Namun Karbon Bukan Satu-satunya Ukuran

Penting juga diingat bahwa emisi bukan satu-satunya dampak lingkungan.

Sebuah pilihan dapat memiliki dampak terhadap:

  • biodiversitas,
  • penggunaan air,
  • polusi udara,
  • sampah,
  • penggunaan lahan,
  • serta kesehatan.

Karena itu, keputusan berkelanjutan tidak dapat hanya dinilai dari CO₂.

Sistem yang baik perlu melihat dampak secara lebih luas.

Perubahan Besar Terjadi Ketika Struktur dan Perilaku Bertemu

Potensi pengurangan emisi dari sisi permintaan sangat besar.

Namun potensi tersebut hanya akan terwujud jika teknologi, infrastruktur, kebijakan, dan perilaku bergerak bersama.

Kendaraan listrik membutuhkan charging station.

Transportasi publik membutuhkan investasi.

Energi terbarukan membutuhkan jaringan listrik.

Makanan rendah karbon membutuhkan sistem pangan yang mendukung.

Bangunan hemat energi membutuhkan standar dan insentif.

Pilihan Individual Tetap Penting—Tetapi Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Pesan terpenting dari berbagai studi ini bukan bahwa masyarakat harus memikul seluruh tanggung jawab perubahan iklim.

Sebaliknya.

Tindakan individu dapat memberikan dampak besar, terutama jika dilakukan pada aktivitas dengan emisi tinggi.

Namun dampaknya akan jauh lebih besar ketika sistem mendukungnya.

Kita tidak bisa meminta masyarakat meninggalkan mobil jika kota tidak menyediakan alternatif.

Kita tidak bisa meminta masyarakat menggunakan energi bersih jika mereka tidak memiliki akses terhadapnya.

Dan kita tidak bisa berharap perubahan gaya hidup terjadi dalam skala besar jika pilihan berkelanjutan selalu lebih mahal atau lebih sulit.

Karena itu, masa depan rendah karbon membutuhkan dua hal sekaligus:

masyarakat yang bersedia berubah dan sistem yang membuat perubahan tersebut mungkin.

Pada akhirnya, pilihan individual memang penting.

Tetapi perubahan terbesar terjadi ketika pilihan rendah karbon menjadi pilihan termudah.

https://www.linkedin.com/posts/majdfayyad_which-personal-choices-have-the-greatest-share-7505162114412683264-gfOp/?utm_source=share&utm_medium=member_desktop&rcm=ACoAAAtGGkQBsxwMBmX3lEJO8btihnfBCaHqTz4

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO