Artikel

Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan, Mengapa Terus Terjadi?

Di Bulan Agustus ini, Indonesia khususnya di wilayah Pulau Kalimantan kembali dilanda bencana, yaitu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Provinsi Kalimantan Barat, Tengah, Selatan hingga Timur, terdapat kejadian karhutla di hampir seantero wilayah provinsi-provinsi tersebut. 

Kejadian karhutla tersebut mayoritas terjadi di kawasan berupa ekosistem gambut. Kebakaran lahan gambut lebih berbahaya dibandingkan kebakaran pada lahan kering (tanah mineral).

Selain kebakaran vegetasi di permukaan, lapisan gambut juga terbakar dan bertahan lama, sehingga menghasilkan asap tebal akibat terjadi pembakaran tak sempurna. Kebakaran lahan gambut tidak hanya merusak ekosistem di permukaan, namun sampai di kedalaman lapisan gambut. Sehingga pemadaman sangat sulit dan membutuhkan banyak air.

Api yang membakar hutan (sumber: Balai Taman Nasional Tanjung Puting)

Api yang membakar hutan (sumber: Balai Taman Nasional Tanjung Puting)

Pembakaran lahan gambut bisa disengaja maupun tidak sengaja. Namun, keduanya akan menyebabkan kerusakan lahan. Adapun penyebab pembakaran lahan merupakan cara yang paling murah dan cepat dibanding harus memotong pohon-pohon di lahan tersebut untuk pembukaan lahan. Baik masyarakat maupun korporasi membakar lahan untuk pembukaan lahan merupakan pilihan yang mudah karena menghasilkan lahannya bersih, mudah dikerjakan, bebas hama dan penyakit.

Kebakaran lahan gambut di Kalimantan banyak terjadi di kawasan lahan bergambut. Misal di Kalimantan Tengah karhutla terjadi tahun 1997 di areal eks PLG (proyek lahan gambut sejuta hektar) Kalimantan Tengah dan tahun 2002. Kebakaran juga terjadi lagi tahun 2006 ini dengan titik-titik api (hotspot) yang banyak tersebar.

Berbagai penelitian menyatakan bahwa kebakaran lahan dan hutan di Kalimantan ini, 100% disebabkan oleh manusia. Pernyataan ini didukung kuat oleh kebakaran atau titik api selalu dimulai dari akses yang dilalui manusia yaitu jalan, sungai, danau dan adanya kegiatan sementara masyarakat di dalam hutan rawa gambut.

Dengan berbagai kejadian kebakaran ini membuktikan bahwa pengelolaan gambut tidaklah mudah sehingga perlu penanganan khusus.  Sejak lima tahun terakhir, kebakaran besar tiap tahun selalu terjadi, misalnya di tahun 2013 dan 2014 dan yang paling parah adalah tahun 2015. Setiap tahun di saat musim kemarau selalu terjadi karhutla. Dan di tahun 2026 ini, kembali terjadi karhutla.

Kebakaran ini memicu krisis kemanusiaan dan ekologi. Kebakaran merupakan salah satu penyebab utama kerusakan hutan lahan gambut di Kalimantan. Ironisnya kebakaran bisa terjadi berkali kali di tempat yang sama.

Kenangan penulis saat mengikuti Rakor Pengendalian Karhutla 2017 (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Kenangan penulis saat mengikuti Rakor Pengendalian Karhutla 2017 (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Mengenal Gambut

Gambut (peat), atau dalam bahasa melayu dikenal dengan sebutan ‘gedang’ atau ‘redang’ adalah bahan organik yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang menumpuk dalam kondisi basah, sehingga sisa-sisa tumbuhan ini tidak bisa membusuk secara sempurna. Gambut banyak dijumpai di daerah rawa-rawa dan memiliki ketebalan yang bervariasi dari 50 sentimeter sampai lebih dari 4 meter (CIFOR, 2019).

Jadi gambut ini akhirnya berupa sedimen organik yang menumpuk pada lingkungan jenuh air. Karenanya oksigen terbatas masuk sehingga memperlambat penguraian material organik sisa-sisa tumbuhan (bisa berupa batang, dahan, ranting hingga daun-daun). 

Sehingga akhirnya gambut terus menumpuk selama ribuan tahun karena akumulasi penumpukannya lebih cepat daripada penguraiannya. Proses ini disebut “peatifikasi”, yang merupakan tahap awal pembentukan batubara. Sehingga wajar jika di Kalimantan, banyak ditemukan potensi mineral berupa batu bara. 

Gambut dengan kedalaman lebih dari 3 meter, idealnya, dilindungi karena memiliki manfaat lingkungan yang tinggi dan tidak potensial sebagai lahan pertanian karena tidak subur dan sangat asam (derajat keasaman atau pH-nya rendah), sementara tanaman-tanaman pertanian membutuhkan tanah yang subur dan pH netral.

https://www.kompasiana.com/firkan/6a8aa59ac925c47ac61d0729/kebakaran-hutan-dan-lahan-di-kalimantan-mengapa-terus-terjadi

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO