Artikel

Melacak jalur pembangkit listrik batu bara global

Pada 2025, dunia membangun lebih banyak pembangkit batu bara, namun justru menggunakannya lebih sedikit. Penambahan kapasitas baru pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara mencapai salah satu tingkat tertinggi yang pernah tercatat,meskipun produksi listrik berbasis batu bara mengalami penurunan. Kesenjangan ini sangat terlihat di Cina dan India, di mana energi angin dan surya memenuhi sebagian besar bahkan seluruh permintaan baru, sehingga menekan produksi listrik dari batu bara meskipun komisioning PLTU mencapai level tertinggi dalam satu dekade.
Seiring melebarnya kesenjangan antara pembangkitlistrik batu bara dan daya yang dihasilkan, kapasitas batu bara semakin dipertahankan bukan sebagai sumber utama pembangkitan, melainkan sebagai bentuk “asuransi sistem”, yang diandalkan karena ketersediaannya saat kondisi krisis, bukan untuk penggunaan sehari-hari. Hal initerlihat pada tahun 2025 baik di negara dengan produksi batu bara domestik besar seperti Cina, India, dan Amerika Serikat maupun di kawasan pengimpor batu bara,termasuk sebagian wilayah Uni Eropa.
Di Cina, rekor usulan pembangunan PLTU batu bara baru dibenarkan sebagai upaya menyediakan fleksibilitas bagi sistem kelistrikan serta menjaga pasokan energi domestik. Di India, proyek pengembangan batu bara terus berkembang untuk tahun kelima berturut-turut dengan argumen serupa terkait keandalan dan ketahanan energi.
Di Amerika Serikat, kewenangan daruratfederal mempertahankan operasi sejumlah PLTU yang seharusnya sudah pensiun, sementara beberapa negara Uni Eropa juga menunda rencana penghentian PLTU dengan alasan keamanan energi. Namun, kondisi yang membuat batu bara tampak “diperlukan” justru sekaligus menjadikannya semakin tidak relevan. Di Cina dan India, PLTU batu bara dibangun untuk menopang ekspansi energiterbarukan yang pada saat yang sama mulai menggeser peran batu bara itu sendiri.Bagi negara pengimpor batu bara, volatilitas harga yang kadang membuat batu bara tampak lebih kompetitif dibanding gas justru memperkuat alasan untuk beralih sepenuhnya dari bahan bakarfosil. Krisis energi 2021-2022 menunjukkan hal demikian: kenaikan harga gas turut mengerek harga batu bara,
sehingga mempercepat pengembangan energi bersih alih-alih memicu kebangkitan batu bara yang berkelanjutan.
Ketika kapasitas PLTU batu bara dipertahankan melebihi kebutuhan sistem kelistrikan, penyerapan kapasitas semakin terjadi melalui penurunan tingkat utilisasi, bukan peningkatan produksi. Hal ini menekan keekonomian pembangkit dan meningkatkan risiko stranded assets. Amerika Serikat menjadi pengecualian sebagai satu-satunya ekonomi besar pada 2025 yang justru meningkatkan produksi listrik dari batu bara, didorong oleh perubahan kebijakan yang secara eksplisit membatasi pengembangan energi bersih, sehingga melindungi batu bara daritekanan kompetitif yang dihadapi di wilayah lain.

sumber:
https://globalenergymonitor.org/research/boom-and-bust-coal-2026

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO