Berita

Korban jiwa capai 1.000 lebih, mengapa heatwave di Eropa mematikan?

Mengapa Gelombang Panas di Eropa Begitu Mematikan? Ini Penjelasan Ilmiah dan Faktor Penyebabnya

Gelombang panas (heatwave) ekstrem kembali melanda kawasan Eropa, memicu kebakaran hutan hebat, dan menyebabkan lonjakan korban jiwa yang mengkhawatirkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa suhu ekstrem yang menembus angka 40°C hingga 41,7°C (seperti yang tercatat di Jerman) telah menyebabkan lebih dari 1.300 kematian hanya dalam waktu singkat sejak akhir Juni 2026.

Spanyol melaporkan 1.028 korban jiwa lonjakan dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu sementara Prancis mencatat sekitar 1.000 kematian di luar perkiraan normal.

Namun, muncul pertanyaan: Mengapa suhu 40°C di Eropa begitu mematikan, padahal angka tersebut adalah hal yang biasa di beberapa negara lain (seperti di Timur Tengah atau sebagian Asia)?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama para ahli merangkum tiga faktor utama penyebabnya:

1. Faktor Meteorologi: Fenomena “Kubah Panas” (Heat Dome)

Secara ilmiah, cuaca ekstrem ini dipicu oleh fenomena meteorologi yang dikenal sebagai Kubah Panas (Heat Dome).

  • Cara Kerja: Udara panas terjebak di satu wilayah karena adanya tekanan tinggi di atmosfer. Udara tersebut bergerak turun, terkompresi (menyusut), dan suhunya menjadi jauh lebih panas.
  • Efek Pemblokiran: Fenomena ini diperparah oleh pola cuaca omega block, yang bertindak seperti dinding tak kasatmata. Pola ini mengunci sistem udara panas di atas Eropa selama berhari-hari dan mencegah terbentuknya awan yang bisa menghalangi sinar matahari atau mendatangkan hujan pendingin.

2. Faktor Infrastruktur: Rumah yang Dirancang Menahan Panas

Infrastruktur di Eropa mayoritas dibangun untuk beradaptasi dengan iklim dingin, bukan musim panas yang ekstrem.

  • Rumah Berubah Menjadi “Oven”: Mayoritas bangunan tua di Eropa dirancang dengan isolasi termal yang kuat untuk menahan panas di dalam ruangan agar penghuninya bertahan selama musim dingin yang panjang. Saat gelombang panas melanda, struktur ini justru memerangkap panas berlebih di dalam rumah.
  • Minimnya Pendingin Ruangan (AC): Diperkirakan hanya sekitar 19% rumah di Eropa yang memiliki AC. Angka ini sangat timpang jika dibandingkan dengan Amerika Serikat atau negara tropis. Tanpa adanya AC, warga tidak memiliki sarana untuk mendinginkan suhu ruangan secara instan.

3. Faktor Demografis dan Karakteristik Lingkungan

Kombinasi antara populasi yang rentan dan kondisi alam membuat situasi di Eropa kian kritis:

  • Populasi Lansia yang Tinggi: Sekitar 22% populasi di Uni Eropa adalah lansia berusia 65 tahun ke atas. Secara biologis, kelompok usia ini memiliki kemampuan termoregulasi (pengaturan suhu tubuh) yang lebih lemah, membuat mereka sangat rentan terhadap serangan panas fatal (heatstroke).
  • Efek Kelembapan Tingg: Udara lembap yang bertiup dari perairan di sekitar laut Eropa membuat indeks kentara (real feel) menjadi jauh lebih menyiksa. Suhu udara bisa terasa 5 hingga 10 derajat Celsius lebih panas daripada angka yang tertera di termometer.
  • Suhu Malam Hari yang Tetap Tinggi: Di beberapa wilayah seperti Prancis, suhu malam hari bertahan di angka 26–28°C dan tidak kunjung turun. Akibatnya, tubuh manusia kehilangan kesempatan krusial pada malam hari untuk beristirahat, memulihkan diri, dan menurunkan suhu inti tubuh.

Kematian massal akibat gelombang panas di Eropa bukan sekadar karena angka di termometer yang tinggi, melainkan akibat kombinasi fatal antara fenomena cuaca yang mengunci panas (heat dome), desain bangunan yang justru memerangkap panas, minimnya fasilitas pendingin (AC), serta populasi lansia yang besar yang tidak mendapatkan waktu pemulihan bahkan di malam hari.

sumber:
https://news.detik.com/berita/d-8558252/korban-jiwa-capai-1-000-lebih-mengapa-heatwave-di-eropa-mematikan

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO