Berita

Laporan PBB: negara termiskin alami pemanasan suhu lebih cepat

Krisis Iklim Perparah Ketimpangan Global, Negara Termiskin Menghadapi Pemanasan Lebih Cepat

Sebuah laporan penting dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti fakta bahwa negara-negara termiskin di dunia akan mengalami dampak pemanasan global secara lebih cepat dan intens dibandingkan negara-negara maju, sebuah temuan yang memperingatkan potensi pelebaran jurang ketimpangan global.

Laporan gabungan ini, yang dirilis oleh United Nations Development Programme (UNDP) dan Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI), secara tegas menghubungkan kerentanan sosial dengan risiko iklim.

Proyeksi Kenaikan Suhu dan Dampak Ketimpangan

Kajian ini menganalisis data iklim dan survei kemiskinan dari 108 negara untuk memproyeksikan perbedaan paparan suhu ekstrem:

  • Disparitas Hari Panas Ekstrem: Negara-negara dengan tingkat kemiskinan tinggi diproyeksikan akan mengalami lebih banyak hari dengan suhu di atas 35 derajat Celsius (°C) dibandingkan negara dengan tingkat kemiskinan rendah.
  • Proyeksi Skenario Terburuk (Emisi Tinggi): Dalam skenario emisi tinggi, peneliti memperkirakan:
    • Negara-negara termiskin akan menghadapi tambahan sekitar 37 hari panas ekstrem per tahun pada 2059.
    • Negara-negara dengan tingkat kemiskinan rendah akan mengalami peningkatan yang lebih kecil, yaitu sekitar 24 hari.

Pedro Conceição, Direktur Kantor Laporan Pembangunan Manusia UNDP, menyimpulkan bahwa perubahan iklim berpotensi “memperlebar kesenjangan ketimpangan global,” menyebabkan mereka yang sudah rentan akan semakin tertinggal.

Kerentanan Berlapis: Paparan Bahaya Iklim

Laporan tersebut juga menyajikan data mengejutkan mengenai besarnya populasi miskin yang sudah terdampak oleh berbagai ancaman iklim:

  • Populasi Terdampak: Sekitar 80% dari 1,1 miliar orang di dunia yang hidup dalam kemiskinan saat ini sudah menghadapi dampak parah akibat setidaknya satu dari empat bahaya iklim utama, yaitu: gelombang panas, kekeringan, banjir, dan polusi udara.
  • Risiko Berlapis: Sebagian besar populasi miskin ini menghadapi risiko berganda:
    • 651 juta orang (sekitar 59%) terpapar dua atau lebih bahaya iklim.
    • 309 juta orang (sekitar 28%) harus menghadapi tiga hingga empat bahaya iklim sekaligus.

Kawasan Paling Rentan

Asia Selatan diidentifikasi sebagai wilayah dengan kerentanan paling tinggi terhadap bahaya iklim berlapis. Di wilayah ini, 99% populasinya saat ini tinggal di area yang terdampak setidaknya oleh satu jenis bahaya iklim.

Para penulis laporan menegaskan bahwa “keterkaitan antara risiko iklim dan kemiskinan diperkirakan makin menguat pada masa mendatang,” menekankan urgensi tindakan global untuk mengatasi kerentanan ini.

sumber:

https://hijau.bisnis.com/read/20251020/651/1921635/laporan-pbb-negara-termiskin-alami-pemanasan-suhu-lebih-cepat

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO