Berita

WMO tetapkan 2024 sebagai tahun terpanas

Sejak Revolusi Industri, penggunaan bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak bumi telah menjadi sumber utama energi untuk pertumbuhan ekonomi global. Namun, eksploitasi bahan bakar ini membawa dampak lingkungan yang serius, baik dalam jangka pendek maupun panjang.

Dampak Eksploitasi Bahan Bakar Fosil

Pertambangan batu bara dan minyak bumi mengakibatkan pencemaran tanah, air, dan udara. Alih guna lahan untuk kegiatan tambang menyebabkan deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, serta meningkatkan risiko bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Ketika bahan bakar fosil dibakar untuk menghasilkan energi, polusi udara yang dihasilkan—terutama karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4)—berkontribusi besar terhadap efek rumah kaca dan pemanasan global.

Konsentrasi Emisi Gas Rumah Kaca Meningkat Tajam

Menurut data terbaru dari Scripps Institution of Oceanography, konsentrasi CO2 di atmosfer global pada 9 Januari 2025 mencapai 425,81 ppm, jauh melebihi batas aman 350 ppm. Sementara itu, data dari NOAA menunjukkan tingkat emisi metana telah melampaui 1.936,64 ppb—level tertinggi dalam 50 juta tahun terakhir. Metana memiliki efek gas rumah kaca 28 kali lebih kuat dibandingkan CO2, serta berkontribusi 86 kali lebih besar terhadap pemanasan global dalam periode 100 tahun.

Pemanasan Global Kian Mengkhawatirkan

Akibat terus meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, suhu bumi terus meningkat. Data terbaru dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang dirilis pada 10 Januari 2025 menunjukkan bahwa suhu rata-rata permukaan bumi telah naik 1,55°C dibandingkan dengan era pra-industri (1850-1900). Selain itu, periode 2015-2024 tercatat sebagai dekade terpanas dalam sejarah.

Ancaman Gagalnya Target Persetujuan Paris

Persetujuan Paris menargetkan pembatasan kenaikan suhu global di bawah 1,5°C untuk mencegah dampak terburuk perubahan iklim. Namun, dengan tren saat ini, target tersebut berada dalam bahaya besar. Para ilmuwan terus menyerukan transisi menuju energi bersih, perbaikan tata kelola lingkungan, serta transformasi menuju pembangunan berkelanjutan. Sayangnya, peringatan ini belum cukup untuk menghentikan eksploitasi sumber daya alam yang merusak.

Ketimpangan Global dalam Krisis Iklim

Negara-negara maju yang menjadi penghasil utama emisi gas rumah kaca masih terus meningkatkan produksi dan konsumsi energi fosil. Dampaknya lebih banyak dirasakan oleh negara berkembang, yang mengalami bencana hidrometeorologi lebih sering dan intens akibat perubahan iklim. Di sisi lain, demi mengejar pertumbuhan ekonomi, banyak negara berkembang menggantikan hutan alam dengan perkebunan monokultur, yang mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati dan pencemaran lingkungan.

Jika eksploitasi sumber daya alam dan polusi tidak dihentikan, krisis iklim akan semakin parah. Seperti yang pernah dikatakan Alanis Obomsawin: “Saat pohon terakhir telah ditebang, saat ikan terakhir telah ditangkap, saat udara yang mereka hirup telah tercemari, saat itulah mereka menyadari, bahwa uang mereka di bank tak bisa mereka makan.” Kini saatnya bagi pemerintah, perusahaan, dan masyarakat untuk bertindak demi menyelamatkan bumi bagi generasi mendatang.

sumber :

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO