Berita

Laporan ungkap tiap tahun hutan hilang nyaris 11 juta hektar

Laporan FRA 2025 FAO: Deforestasi Global Melambat, Namun Hutan Tetap di Bawah Tekanan Berat

Bali, 21-23 Oktober 2025 – Laporan lima tahunan Global Forest Resources Assessment 2025 (FRA 2025) yang dirilis oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengungkapkan sebuah tren ganda: laju deforestasi global melambat, namun ekosistem hutan dunia secara keseluruhan masih menghadapi tekanan besar.

Laporan komprehensif ini, yang melibatkan 236 negara dan wilayah, diluncurkan pada acara Global Forest Observations Initiative (GFOI) Plenary di Bali.

Tren Deforestasi: Melambat, Tapi Masih Tinggi

Meskipun ada perlambatan, hutan global telah menyusut 200 juta hektar sejak tahun 1990, menurut Anssi Pekkarinen, Senior Forestry Officer FAO.

PeriodeLaju Deforestasi Tahunan (Juta Hektar)Laju Perluasan Hutan Baru Tahunan (Juta Hektar)
1990–200017,6
2000–20159,88
2015–202510,96,78

Data menunjukkan bahwa laju deforestasi menurun signifikan dari 17,6 juta hektar per tahun (1990–2000) menjadi 10,9 juta hektar per tahun (2015–2025). Namun, laju kehilangan hutan tahunan ini, yang setara nyaris 11 juta hektar, masih tergolong tinggi.

Di sisi lain, laju perluasan hutan baru (reforestasi dan ekspansi alami) juga mengalami penurunan, dari 9,88 juta hektar per tahun (2000–2015) menjadi 6,78 juta hektar per tahun (2015–2025), menunjukkan kemampuan regenerasi alami hutan juga menurun.

Status Hutan Global Saat Ini

  • Total Luas: Hutan masih menutupi sekitar 4,14 miliar hektar, atau sekitar sepertiga dari total daratan dunia.
  • Hutan Primer: Mencakup setidaknya 1,18 miliar hektar, sekitar sepertiga dari total luas hutan.
  • Hutan Tanaman: Mencakup sekitar 8% dari total luas hutan, setara 312 juta hektar. Luasnya meningkat, tetapi laju peningkatannya melambat dalam dekade terakhir.

Kemajuan dalam Pengelolaan Hutan Lestari

Laporan FRA 2025 juga menyoroti kabar positif terkait upaya pengelolaan hutan:

  • Pengelolaan: Lebih dari separuh kawasan hutan (sekitar 55%) kini telah terkelola dalam rencana pengelolaan jangka panjang formal.
  • Perlindungan: Sekitar seperlima hutan (813 juta hektar) berada dalam kawasan lindung yang ditetapkan secara hukum, meningkat 251 juta hektar sejak 1990.
  • Biomassa & Karbon: Stok biomassa hutan dunia terus tumbuh (diperkirakan mencapai 630 miliar meter kubik), dan stok karbon hutan telah meningkat, mencapai 714 gigaton.

Ancaman Utama: Kebakaran dan Kerusakan Lain

Meskipun pengelolaan semakin baik, ancaman terhadap hutan masih besar:

  • Kebakaran Hutan: Masih menjadi ancaman utama yang berdampak pada 261 juta hektar lahan setiap tahun, hampir setengahnya berupa hutan.
  • Regenerasi: Kemampuan hutan untuk meregenerasi secara alami mencapai 90%, namun kemampuan ini menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sorotan untuk Indonesia

Laporan ini juga mencatat beberapa data relevan terkait Indonesia:

  • Agroforestri: Luas agroforestri sebagai tutupan hutan di Indonesia dinilai meningkat, dari 22,0 juta hektar (1990) menjadi 25,7 juta hektar (2000), sejalan dengan peningkatan terbesar di Asia Selatan dan Tenggara.
  • Mangrove: Berdasarkan data FRA 2020, Indonesia memiliki 21% dari total luas mangrove dunia.
  • Sawit: Luas sawit bertambah lebih dari dua kali lipat antara 1990-2025, dengan Asia menyumbang lebih dari 80% peningkatan global.
  • Tutupan Hutan Nasional: Kementerian Kehutanan merilis, luas lahan berhutan di Indonesia pada 2024 mencapai 95,5 juta hektar (51,1% dari daratan).
  • Kehilangan Hutan Primer: Menurut Global Forest Watch, dari 2002-2024, Indonesia kehilangan 10,7 juta hektar hutan primer basah.

Menurut Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu, data FRA 2025 adalah evaluasi global yang paling komprehensif dan transparan. Data ini penting untuk mendukung keputusan, kebijakan, dan investasi terkait hutan dan jasa ekosistem yang disediakannya, termasuk Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Persetujuan Paris tentang Perubahan Iklim.

sumber:

https://mongabay.co.id/2025/10/29/laporan-fra-hutan-hilang-nyaris-11-juta-hektar-per-tahun/

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO