Praktik Baik

Masyarakat adat dayak wehea dan kearifan menjaga hutan

Menjaga Hutan sebagai Jati Diri dan Solusi Krisis Iklim

Masyarakat Adat Dayak Wehea di Kabupaten Muara Wahau, Kalimantan Timur, memberikan pelajaran berharga tentang konservasi yang telah dipraktikkan turun-temurun. Bagi mereka, hutan bukan hanya sekadar ruang hidup, melainkan bagian integral dari jati diri dan warisan yang wajib dilindungi.

Kearifan lokal yang dipegang teguh oleh masyarakat Wehea menjadi pengingat bahwa solusi atas krisis iklim dan kerusakan lingkungan modern sering kali berakar pada pengetahuan tradisional.

Hukum Adat yang Lebih Kuat dari Undang-Undang

Perlindungan hutan oleh Dayak Wehea didasarkan pada sistem hukum adat yang kuat dan bersifat mutlak:

  • Sentralitas Raja: Ketua Adat Besar Dayak Wehea, Ledjie Be Leang Song, menjelaskan bahwa raja memegang peran sentral dalam menjaga keharmonisan alam.
  • Hukum Mutlak: Jika raja telah menetapkan suatu kawasan hutan tidak boleh diganggu, keputusan itu menjadi hukum alam yang tidak boleh dilanggar (“hukum tetap”). Prinsip ini telah dipegang teguh sejak tahun 1955.
  • Filsafat Keberlanjutan: Masyarakat Wehea memahami bahwa kehancuran alam (banjir, longsor, erosi) adalah konsekuensi nyata dari rusaknya hutan. Oleh karena itu, menjaga hutan adalah tanggung jawab lintas generasi, bukan hanya untuk hari ini.

Definisi Kekayaan Wehea: “Kekayaan sejati bukanlah harta benda yang fana, melainkan keberlanjutan alam. Hutan yang lestari akan terus memberi kehidupan jika dijaga dengan baik.”

Harmoni dengan Orangutan dan Kolaborasi

Kearifan lokal Dayak Wehea juga mencakup hubungan harmonis dengan satwa liar, termasuk Orangutan, yang bagi mereka bukan sekadar spesies dilindungi, melainkan bagian dari kehidupan bersama di hutan.

Masyarakat Wehea menyambut baik kolaborasi dengan pihak luar, termasuk para pegiat konservasi seperti Yayasan BOS (BOSF), asalkan sejalan dengan nilai-nilai pelestarian mereka.

CEO Yayasan BOS, Jamartin Sihite, menekankan bahwa konservasi Orangutan yang berhasil harus bersifat holistik:

“Melainkan juga, memulihkan ekosistem, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan menciptakan harmoni antara manusia dengan alam.”

Suara Masyarakat Adat Dayak Wehea berfungsi sebagai pengingat global bahwa pengakuan dan pemberdayaan kearifan lokal adalah fondasi esensial untuk memulihkan ekosistem dan mencapai keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam.

sumber:

https://mongabay.co.id/2025/10/26/upaya-warga-sekadau-beralih-dari-jamban-sungai-untuk-atasi-cemaran/

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO