Berita

Menteri LH Dorong Universitas di Borneo Jadikan Kalimantan Paru-Paru Dunia

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menekankan pentingnya peran universitas di wilayah Borneo dalam menyusun skenario konservasi untuk mengembalikan Kalimantan sebagai paru-paru dunia.

“Kalimantan memiliki keunggulan komparatif luar biasa — mulai dari ekosistem gambut hingga mangrove yang luas. Sekarang tantangannya adalah membangun keunggulan kompetitif melalui riset kolaboratif lintas negara,” ujar Hanif Faisol saat membuka 2nd KUUB Postgraduate by Research Colloquium (KPRC) dan The 6th International Conference on Chemical Engineering and Applied Sciences (ICChEAS) di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (17/10).

Dalam pidato bertema “Green Chemistry”, Hanif menegaskan bahwa kimia hijau bukan sekadar kerangka ilmiah, melainkan juga kompas etis bagi inovasi modern. Ia menambahkan, keberhasilan menuju industri hijau berkelanjutan berawal dari dunia pendidikan yang berorientasi pada nilai etika, empati sosial, dan tanggung jawab lingkungan.

Sebagai alumni Fakultas Kehutanan ULM, Hanif mengungkapkan kebanggaannya atas kiprah almamaternya yang menjadi tuan rumah forum internasional penggabung riset teknik kimia dengan konservasi lingkungan di Kalimantan.

Rektor ULM, Prof. Ahmad Alim Bachri, menyatakan bahwa konferensi tersebut merupakan wujud nyata komitmen ULM terhadap isu global dan penguatan riset berkelanjutan. “ULM bertekad menghasilkan riset yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga memberikan solusi konkret bagi tantangan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana KPRC ICChEAS, Prof. Muthia Elma, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari Konsorsium Universiti Universitas Borneo (KUUB) yang melibatkan perguruan tinggi dari Malaysia, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Melalui jejaring ini, ULM juga berkolaborasi dengan peneliti dari Amerika Serikat, Australia, China, Jepang, dan Prancis untuk berbagi pengalaman serta solusi terkait pelestarian alam.

Konferensi internasional bertema “Borneo’s Mangroves: A Nexus of Biodiversity, Sustainable Future, and Carbon Sequestration” tersebut dihadiri peneliti dari sembilan negara, baik secara daring maupun luring. Forum ini menjadi wadah bagi akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi industri untuk bersama-sama merumuskan strategi pelestarian ekosistem mangrove sebagai pusat keanekaragaman hayati dan penyerap karbon alami dunia.

Sumber: Antara News – Menteri LH jadikan kembali Kalimantan sebagai paru-paru dunia

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO