Menunggu ekek geling jawa kembali berkicau di hutan

Menyelamatkan Burung Endemik Kritis dari Ancaman Kepunahan
Ekek geling jawa (Cissa thalassina), burung endemik asal Pulau Jawa khususnya wilayah Jawa Barat kini menghadapi ancaman serius di habitat aslinya. Keindahan corak kicaunya yang beragam dan bernada panjang membuat burung bertubuh hijau, berparuh merah, dan berkelopak mata hitam ini marak diburu untuk dijadikan master (pemancing kicau) bagi burung kompetisi.
Tingginya pemeliharaan di dalam sangkar justru mempercepat keterancaman spesies ini. Selain mempercepat laju perburuan liar, pemeliharaan ekek geling jawa di dalam kandang dapat mengubah warna bulunya yang hijau menjadi kebiruan serta memicu stres yang berdampak pada kematian.
Status Populasi: Menuju Ambang Kepunahan
International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah menetapkan status ekek geling jawa dalam kategori Kritis (Critically Endangered)—hanya berjarak dua tahap sebelum dinyatakan punah (Extinct).
- Populasi di Alam Liar: Diperkirakan hanya tersisa antara 50 hingga 249 individu. Lokasi perjumpaan di habitat aslinya tergolong sangat minim.
- Populasi Eks-Situ (Konservasi Terpadu): Tercatat ada lebih dari 120 individu yang tersebar di beberapa lembaga konservasi, seperti Prigen Conservation Breeding Ark, PPS Cikananga, Jatim Park, Taman Safari Indonesia, hingga beberapa fasilitas konservasi di Eropa.
Strategi Penangkaran Eks-Situ di Taman Safari Indonesia
Dalam kegiatan Orientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (Owaka) 2026 di Bogor (Sabtu, 22 Agustus 2026), Taman Safari Indonesia (TSI) memaparkan perkembangan program pembiakan (breeding) eks-situ untuk menyanggah populasi spesies ini.
- Hasil Pembiakan Generasi Kedua (F2): Headkeeper penangkaran burung TSI, Nunik Prabawaningtyas, mengonfirmasi bahwa dari empat pasang ekek geling jawa awal yang berasal dari donasi masyarakat tiga di antaranya telah berhasil menghasilkan keturunan hingga generasi kedua (F2).
- Manajemen Perkawinan Silang: Pencatatan silsilah (studbook) dilakukan secara ketat untuk mencegah terjadinya pembiakan sedarah (in-breeding) yang dapat memicu cacat fisik atau ketidaksempurnaan genetis pada anakan.
- Prosedur Penetasan: Telur ekek geling jawa menetas dalam kurun waktu 23 hari. Pada usia 80 hari, anakan burung akan dipasangi penanda berupa cincin (ring) di kakinya.
Catatan Fasilitas: Di luar penangkaran ekek geling jawa, tim yang terdiri dari lima orang perawat di TSI bertanggung jawab atas 230 individu dari 50 spesies burung terlindungi, termasuk elang jawa, curik bali, kakatua raja, julang mas, dan cucakrowo.
Peran Ekologis dan Tantangan Pelepasliaran (Reintroduction)
Pendiri Taman Safari Indonesia, Tony Sumampau, menyebutkan bahwa target akhir program eks-situ adalah pelepasliaran ke alam bebas, sebagaimana keberhasilan pemulihan populasi jalak bali di Taman Nasional Bali Barat yang meningkat dari 6 ekor hingga mencapai sekitar 600 individu di alam.
- Fungsi Ekologis: Ekek geling jawa berperan sebagai pengendali ekosistem alami. Burung ini merupakan predator bagi hama seperti jangkrik, ulat, dan tikus kecil.
- Ikon Silent Forest Campaign: Burung ini diangkat oleh European Association of Zoos and Aquaria (EAZA) sebagai simbol kampanye atas hilangnya suara-suara alami di hutan akibat maraknya perdagangan burung kicau di Asia Tenggara, di mana Indonesia menjadi salah satu wilayah dengan risiko ancaman kepunahan spesies burung tertinggi.
Tantangan Budaya Perdagangan Burung Kicau
Kurator Prigen Conservation Breeding Ark, Jochen Klaus Menner, menyoroti bahwa hambatan terbesar dalam konservasi burung kicau di Indonesia terletak pada aspek budaya pemeliharaan burung sebagai simbol status sosial maupun ajang kompetisi.
Jochen menegaskan pentingnya tahapan konservasi eks-situ sebelum satwa dikembalikan ke alam bebas. Mengembalikan satwa sitaan secara langsung tanpa penangkaran dan rehabilitasi terencana berisiko tinggi gagal baik karena dimangsa predator, infertil, maupun stres.
sumber:
https://www.ekuatorial.com/2026/08/menunggu-ekek-geling-jawa-kembali-berkicau-di-hutan/




