Berita

Peningkatan Emisi Gas Rumah Kaca Bisa Memperburuk Frekuensi El Niño Ekstrem

Para ilmuwan iklim memperingatkan bahwa bumi mungkin akan mengalami peristiwa El Niño ekstrem yang lebih sering terjadi pada tahun 2050 jika emisi gas rumah kaca terus meningkat. El Niño, fenomena iklim yang dikenal dengan pola cuaca ekstrem seperti panas berlebihan, banjir, dan kekeringan, telah menimbulkan dampak besar di seluruh dunia. Dalam studi baru yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 25 September 2024, para peneliti menyoroti betapa mendesaknya perubahan untuk mengurangi dampak ini.

Pedro DiNezio, salah satu penulis utama studi dari University of Colorado Boulder, menjelaskan bahwa jika peristiwa El Niño ekstrem terjadi lebih sering, masyarakat mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk pulih dan beradaptasi sebelum bencana berikutnya terjadi. Dampak yang timbul bisa sangat merusak, mulai dari kerugian ekonomi hingga kehancuran lingkungan.

Apa Itu El Niño Ekstrem?

El Niño terjadi ketika suhu air laut di sepanjang ekuator di Samudra Pasifik meningkat di atas rata-rata dalam jangka waktu yang lama. Saat kenaikan suhu ini mencapai 3,6°F (-16°C) di atas rata-rata, El Niño dikategorikan sebagai ekstrem. Sejak tahun 1950-an, dunia telah mencatat tiga hingga empat peristiwa El Niño ekstrem, termasuk yang terjadi pada musim dingin tahun 1997-98, yang membawa curah hujan ekstrem di California serta menyebabkan tanah longsor besar-besaran.

El Niño ekstrem juga berdampak buruk pada ekosistem laut. Selama peristiwa ekstrem tersebut, sekitar 15 persen terumbu karang di seluruh dunia hancur akibat pemanasan laut yang berkepanjangan.

Prediksi Kejadian El Niño Ekstrem pada Tahun 2050

Peneliti telah mencoba memahami bagaimana peristiwa El Niño dapat berubah di masa depan dengan menggunakan simulasi komputer. Berdasarkan model terbaru, jika emisi gas rumah kaca terus meningkat pada tingkat saat ini, ada kemungkinan bahwa satu dari dua kejadian El Niño pada tahun 2050 akan menjadi ekstrem.

Hal ini terkait dengan umpan balik Bjerknes, sebuah kondisi di mana angin yang melemah selama El Niño memungkinkan air hangat mengalir ke timur, sehingga memperparah pemanasan dan melemahkan angin lebih jauh. Proses ini membuat peristiwa El Niño ekstrem menjadi lebih mungkin terjadi dalam skala yang lebih sering.

Dampak Perubahan Iklim dan Solusi

Peristiwa El Niño ekstrem membawa dampak buruk pada cuaca global, dengan ancaman lebih besar bagi negara-negara berkembang yang sering kali lebih rentan terhadap cuaca ekstrem. Negara-negara pesisir seperti Indonesia, Filipina, dan Brasil dapat mengalami banjir lebih parah, sementara negara-negara kering mungkin akan menghadapi kekeringan yang lebih intens.

Pedro DiNezio menekankan bahwa dunia harus segera mengambil langkah-langkah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, guna menekan risiko cuaca ekstrem yang disebabkan oleh El Niño. Selain itu, negara-negara harus berfokus pada adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, terutama di wilayah yang paling rentan.

Membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius dianggap penting untuk menghindari dampak iklim yang lebih parah. Langkah-langkah seperti mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan investasi dalam energi hijau perlu segera dilakukan agar bumi tidak semakin rusak oleh dampak El Niño ekstrem dan peristiwa iklim lainnya.

Penelitian ini menjadi peringatan serius bahwa perubahan iklim yang tidak terkendali bisa memicu peristiwa El Niño ekstrem lebih sering dan dengan dampak yang lebih menghancurkan. Dengan memahami mekanisme El Niño, peneliti berharap masyarakat global memiliki kemauan untuk mengurangi emisi dan menciptakan solusi adaptif demi keberlangsungan planet ini.

Sumber:

https://lestari.kompas.com/read/2024/10/01/135053886/emisi-gas-rumah-kaca-sebabkan-el-nino-ekstrem-lebih-sering-terjadi

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO