Berita

Polusi Udara Jakarta Masih Lampaui Batas Aman, PM2.5 Jadi Ancaman Paling Serius

Kualitas udara di Jakarta masih berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Selama periode 2019–2025, sejumlah parameter polutan udara tercatat melampaui ambang batas baku mutu tahunan, terutama untuk partikel halus dan ozon.

Kepala Sub Kelompok Pemantauan Kualitas Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Rahmawati, mengungkapkan bahwa polutan paling kritis adalah PM2.5—partikel udara berukuran sangat kecil yang berbahaya bagi kesehatan.

“Yang paling kritis adalah PM2.5, bisa hampir dua kali lipatnya dari baku mutu,” ujarnya dalam diskusi virtual, Jumat (13/3/2026).

Selain PM2.5, parameter lain seperti PM1.0 dan ozon permukaan tanah (O3) juga tercatat melebihi batas aman. Sementara itu, nitrogen dioksida (NO2) dan sulfur dioksida (SO2) masih berada di bawah ambang batas tahunan.

Berdasarkan hasil inventarisasi emisi, sektor transportasi menjadi penyumbang terbesar polusi udara di Jakarta. Emisi dari kendaraan bermotor mendominasi, terutama nitrogen oksida (NOx), karbon dioksida (CO2), serta partikel halus seperti PM1.0 dan PM2.5.

Kendaraan berat berbahan bakar diesel, seperti truk, menjadi kontributor terbesar emisi PM2.5. Di posisi berikutnya adalah sepeda motor, yang banyak berasal dari wilayah penyangga Jakarta.

Rahmawati menegaskan bahwa sumber polusi tidak hanya berasal dari dalam kota, tetapi juga dari daerah sekitar. Mobilitas tinggi kendaraan dari kawasan pinggiran memperparah kondisi kualitas udara ibu kota.

Krisis polusi udara pernah mencapai puncaknya pada tahun 2023 di kawasan Jabodetabek. Saat itu, kemarau panjang akibat fenomena El Nino menghambat proses alami pencucian polutan di atmosfer. Ditambah lagi, peningkatan aktivitas masyarakat pasca pandemi turut memperburuk kondisi udara.

Faktor arah angin juga berperan besar dalam menentukan tingkat pencemaran. Saat musim hujan, angin yang bertiup dari barat dan barat laut menyebabkan lebih dari 97 persen polusi berasal dari wilayah tersebut. Sebaliknya, pada musim kemarau, angin dari timur dan tenggara menyumbang lebih dari 72 persen polutan yang masuk ke Jakarta.

Meski pada 2025 terjadi penurunan tingkat polusi karena kondisi tahun yang lebih basah, situasi diperkirakan akan kembali memburuk pada 2026. Jakarta diprediksi menghadapi kemarau panjang mulai April, yang berpotensi meningkatkan konsentrasi polutan di udara.

Saat ini, Pemprov DKI Jakarta telah mengoperasikan 104 alat pemantau kualitas udara, terdiri dari 91 sensor berbiaya rendah (Low-Cost Sensor/LCS) dan 13 stasiun pemantau referensi. Jumlah ini diperkuat dengan kolaborasi bersama berbagai pihak, termasuk World Resources Institute dan Vital Strategies.

Langkah ini merupakan respons atas krisis polusi udara 2023 yang menjadi evaluasi besar bagi pemerintah daerah. Namun demikian, pemerintah pusat diharapkan dapat mengambil peran lebih besar melalui kebijakan nasional yang terintegrasi, mengingat pola penyebaran polusi yang lintas wilayah.

Peringatan juga datang dari Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kemendagri, Yusharto Huntoyungo, yang menilai risiko krisis polusi udara seperti tahun 2023 berpotensi terulang. Tingginya konsentrasi PM2.5 tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga dapat memicu hujan asam dan berbagai risiko lingkungan lainnya.

Kondisi ini menjadi alarm bagi semua pihak bahwa penanganan polusi udara tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas daerah dan kebijakan yang lebih tegas untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Sumber: https://lestari.kompas.com/read/2026/03/17/114805886/dlh-dki-jakarta-polusi-udara-jakarta-20192025-lampaui-baku-mutu.

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO