Berita

Putri Mahkota Swedia Tanam Terumbu Karang di Gili Meno, Dorong Perlindungan Laut dan Ekonomi Biru

Putri Mahkota Kerajaan Swedia, Victoria, menanam terumbu karang di Pulau Gili Meno, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, sebagai bagian dari upaya mendukung pelestarian ekosistem laut.

Kegiatan tersebut dilakukan dalam kapasitasnya sebagai Duta Kehormatan United Nations Development Programme (UNDP), bersama Resident Representative UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella, Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard, serta Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal.

Penanaman terumbu karang ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan Putri Victoria di Lombok pada 5–6 September 2026.

Gili Meno Jadi Lokasi Asuransi Terumbu Karang

UNDP menyebut Gili Meno sebagai salah satu lokasi penerapan awal skema asuransi terumbu karang di Indonesia.

Skema ini dirancang untuk membantu menyediakan pembiayaan bagi pemulihan terumbu karang ketika terjadi kerusakan akibat tekanan iklim maupun bencana.

Sara Ferrer Olivella mengatakan UNDP juga mendorong pembentukan payung hukum dan mekanisme pembiayaan melalui Marine Biodiversity Trust atau Blue Window.

Pendekatan ini menarik karena perlindungan terumbu karang tidak hanya mengandalkan anggaran konservasi konvensional, tetapi juga mulai menggunakan instrumen pembiayaan inovatif.

Indonesia Memiliki Sekitar 16 Persen Terumbu Karang Dunia

Indonesia memiliki posisi penting dalam konservasi laut global karena menyimpan sekitar 16 persen terumbu karang dunia.

Ekosistem tersebut memiliki peran besar bagi perikanan, pariwisata, perlindungan pesisir, serta kehidupan masyarakat yang bergantung pada laut.

Di kawasan Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, pariwisata berbasis terumbu karang disebut menghasilkan nilai ekonomi lebih dari Rp9,5 triliun per tahun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa terumbu karang bukan hanya aset ekologis, tetapi juga aset ekonomi yang sangat penting bagi daerah.

Namun, nilai ekonomi yang besar itu juga memperlihatkan mengapa perlindungan ekosistem harus dilakukan secara serius.

Jika terumbu karang rusak, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh biota laut, tetapi juga oleh nelayan, pelaku wisata, dan masyarakat pesisir.

Terumbu Karang sebagai Pelindung Pesisir

Terumbu karang memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi tempat hidup ikan.

Struktur karang membantu meredam energi gelombang dan melindungi kawasan pesisir dari abrasi.

Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, kenaikan suhu laut, badai ekstrem, dan tekanan aktivitas manusia, fungsi ini menjadi semakin penting.

Kerusakan terumbu karang dapat membuat wilayah pesisir menjadi lebih rentan.

Karena itu, investasi dalam konservasi laut sebenarnya juga merupakan investasi dalam perlindungan masyarakat pesisir.

Asuransi Terumbu Karang, Pendekatan Baru dalam Konservasi

Salah satu gagasan yang menarik dari program ini adalah penggunaan asuransi terumbu karang.

Dalam skema seperti ini, tersedia mekanisme pembiayaan yang dapat digunakan untuk mendukung pemulihan cepat ketika terumbu karang rusak akibat peristiwa tertentu.

UNDP pada 2026 juga meluncurkan laporan pembelajaran dan panduan praktis mengenai asuransi terumbu karang yang dapat menjadi rujukan bagi negara lain.

Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas instrumen ekonomi biru, termasuk melalui blue bond dan berbagai mekanisme pembiayaan berbasis konservasi.

Gagasannya sederhana: jika ekosistem laut memiliki nilai ekonomi besar, maka perlindungannya juga perlu memiliki sistem pendanaan yang kuat dan berkelanjutan.

Konservasi Harus Melibatkan Masyarakat Pesisir

Dalam kunjungannya, Putri Victoria juga bertemu dengan komunitas pembudidaya rumput laut bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan serta akademisi dari Universitas Mataram.

Pertemuan ini menunjukkan bahwa konservasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat lokal.

Masyarakat pesisir merupakan pihak yang paling dekat dengan sumber daya laut sekaligus paling terdampak ketika ekosistem mengalami kerusakan.

Karena itu, perlindungan laut akan jauh lebih efektif jika masyarakat tidak hanya menjadi objek program, tetapi juga menjadi bagian utama dari pengelolaan dan pemulihan.

Menjaga Laut Berarti Menjaga Ekonomi

Kisah dari Gili Meno memperlihatkan bahwa konservasi dan ekonomi tidak harus saling bertentangan.

Terumbu karang yang sehat dapat menopang pariwisata, perikanan, usaha lokal, dan perlindungan pesisir sekaligus.

Sebaliknya, kerusakan terumbu karang dapat menimbulkan biaya ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan biaya yang dibutuhkan untuk menjaganya.

Karena itu, pendekatan ekonomi biru menjadi penting.

Laut tidak hanya dilihat sebagai ruang untuk dieksploitasi, tetapi sebagai ekosistem yang harus dijaga agar manfaatnya dapat terus dirasakan dalam jangka panjang.

Dari Gili Meno untuk Masa Depan Laut Indonesia

Penanaman terumbu karang yang dilakukan Putri Mahkota Victoria mungkin terlihat sebagai aksi sederhana.

Namun simbolismenya cukup kuat.

Konservasi laut kini tidak lagi hanya berbicara tentang penyelaman, transplantasi karang, atau larangan menangkap ikan.

Ia juga menyentuh kebijakan, pembiayaan, inovasi, pariwisata, dan masa depan masyarakat pesisir.

Indonesia memiliki kekayaan terumbu karang yang luar biasa.

Tantangannya adalah memastikan kekayaan tersebut tidak hanya dinikmati hari ini, tetapi juga tetap hidup untuk generasi mendatang.

Menjaga terumbu karang berarti menjaga ikan, menjaga pesisir, menjaga ekonomi lokal, dan menjaga masa depan laut Indonesia.

https://www.antaranews.com/berita/5728295/putri-mahkota-swedia-tanam-terumbu-karang-di-gili-meno

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO