Artikel

Sungai Kapuas dan Barito Menyusut, Krisis Iklim dan Ketergantungan Batu Bara Jadi Sorotan

Penyusutan debit Sungai Kapuas dan Sungai Barito di Kalimantan kembali memunculkan kekhawatiran terhadap dampak perubahan iklim dan tekanan lingkungan di wilayah tersebut.

Fenomena El Nino dan pemanasan global dinilai ikut memperburuk kondisi kekeringan. Di saat yang sama, sejumlah organisasi masyarakat sipil menilai tingginya tekanan aktivitas ekstraktif membuat daya dukung lingkungan Kalimantan semakin rentan.

Kondisi ini tidak hanya dipandang sebagai persoalan ekologis. Sejumlah lembaga juga mengaitkannya dengan risiko ekonomi, ketahanan energi, serta pembiayaan industri berbasis batu bara.

Sungai Besar Kalimantan Kehilangan Debit

Sungai Kapuas dan Sungai Barito merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Kalimantan.

Selain menjadi sumber air dan ruang hidup berbagai ekosistem, sungai juga memiliki fungsi ekonomi sebagai jalur transportasi barang dan aktivitas masyarakat.

Namun pada musim kemarau 2026, penyusutan debit semakin terlihat.

WALHI Kalimantan Tengah menilai kondisi tersebut berkaitan dengan kombinasi tekanan iklim dan perubahan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam dalam skala besar.

Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Tengah, Janang Firman Palanungkai, menyebut sekitar 60 persen dari total 15,3 juta hektare wilayah Kalimantan Tengah berada dalam kawasan konsesi, termasuk berbagai aktivitas pertambangan.

Musim Hujan Banjir, Musim Kemarau Karhutla

WALHI menyoroti pola bencana ekologis yang terus berulang.

Pada musim hujan, berbagai wilayah di Kalimantan Tengah menghadapi banjir.

Sebaliknya, ketika musim kemarau tiba, ancaman kebakaran hutan dan lahan meningkat.

Kini penyusutan dan pendangkalan sungai menjadi indikator lain dari tekanan terhadap ekosistem.

Sungai Barito bahkan selama ini menjadi salah satu jalur penting bagi aktivitas transportasi hasil industri ekstraktif.

Karena itu, perubahan debit sungai tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kegiatan ekonomi yang bergantung pada transportasi sungai.

El Nino Memperparah Kekeringan

El Nino dapat mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia dan meningkatkan risiko kekeringan.

Ketika kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan kenaikan suhu global, penguapan air dapat meningkat dan periode kering menjadi lebih berat.

Pada sungai yang telah menghadapi tekanan sedimentasi, perubahan tata guna lahan, dan gangguan daerah tangkapan air, kondisi kemarau ekstrem dapat terasa semakin parah.

Namun hubungan antara kondisi satu sungai dengan aktivitas tertentu tetap membutuhkan kajian hidrologi dan penggunaan lahan secara spesifik.

Karena itu, penyusutan sungai tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu faktor.

Batu Bara Masuk dalam Perdebatan Risiko Iklim

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies atau CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai kondisi tersebut perlu dibaca sebagai bagian dari risiko ekonomi yang lebih luas akibat krisis iklim dan ketergantungan pada industri batu bara.

Mengacu pada studi Toxic 20, Bhima menyebut nilai kerugian ekonomi yang dikaitkan dengan pemanfaatan batu bara untuk pembangkit listrik diperkirakan mencapai Rp1.813 triliun.

Angka tersebut merupakan estimasi dari kajian yang dirujuk CELIOS dan dapat mencakup berbagai komponen biaya eksternal, seperti dampak kesehatan, lingkungan, dan perubahan iklim.

Karena itu, angka tersebut tidak sama dengan kerugian kas langsung yang dibayarkan pada satu waktu.

Risiko Aset Batu Bara yang Bisa Menjadi Stranded Asset

Selain dampak lingkungan, perubahan kebijakan energi global juga menimbulkan risiko bagi aset batu bara.

Pembangkit listrik, tambang, pelabuhan, kapal tongkang, serta berbagai infrastruktur lain membutuhkan investasi besar dan memiliki umur operasi panjang.

Jika penggunaan batu bara menurun lebih cepat dari perkiraan, sebagian aset tersebut dapat menghadapi risiko menjadi stranded asset, yaitu aset yang kehilangan nilai ekonominya sebelum masa pakainya berakhir.

Risiko semacam ini menjadi perhatian karena dapat berdampak pada perusahaan energi, lembaga keuangan, investor, hingga pemerintah.

Bank Masih Membiayai Perusahaan Batu Bara

Laporan BersihkanBankmu yang dikutip Bisnis.com mencatat bahwa perbankan domestik masih menyalurkan pembiayaan kepada perusahaan batu bara.

Sepanjang 2021 hingga 2024, total pinjaman bank domestik kepada perusahaan batu bara disebut mencapai sekitar US$7,2 miliar.

Dari angka tersebut, sekitar US$5,6 miliar disebut berasal dari sejumlah bank besar seperti Bank Mandiri, BCA, BRI, BNI, dan Permata.

Koalisi BersihkanBankmu membandingkan nilai tersebut dengan kebutuhan pendanaan sejumlah proyek energi terbarukan dalam kerangka Just Energy Transition Partnership atau JETP.

Mengapa Pembiayaan Energi Menjadi Penting?

Arah pembiayaan menentukan teknologi apa yang dapat berkembang.

Jika modal masih dominan mengalir ke proyek fosil, pengembangan energi terbarukan dapat menghadapi persaingan yang lebih berat dalam mendapatkan pendanaan.

Sebaliknya, peningkatan pembiayaan terhadap energi bersih dapat mempercepat pembangunan pembangkit surya, angin, penyimpanan energi, efisiensi energi, dan infrastruktur listrik yang lebih rendah emisi.

Namun peralihan pendanaan juga perlu mempertimbangkan keamanan energi, kondisi industri, pekerja, dan kesiapan jaringan.

Kebijakan Energi Nasional Diminta Dievaluasi

CERAH menilai kondisi lingkungan di Kalimantan seharusnya menjadi momentum untuk meninjau kembali arah ketergantungan Indonesia terhadap industri ekstraktif.

Koordinator Outreach and Advocacy CERAH, Dzatmiati Sari, menyebut beberapa dokumen kebijakan seperti Kebijakan Energi Nasional, RUEN, dan RUPTL masih memberikan ruang besar terhadap batu bara.

Ia juga menyoroti Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia atau TKBI.

Menurut CERAH, kerangka tersebut perlu lebih jelas dalam memberikan sinyal terhadap pembiayaan proyek beremisi tinggi.

Pandangan tersebut merupakan rekomendasi kebijakan dari organisasi masyarakat sipil dan menjadi bagian dari perdebatan lebih luas mengenai kecepatan transisi energi Indonesia.

Sungai dan Energi Ternyata Saling Berkaitan

Kondisi Sungai Kapuas dan Barito memperlihatkan bahwa persoalan energi dan lingkungan tidak selalu berdiri sendiri.

Batu bara dapat bergantung pada sungai untuk transportasi.

Sungai bergantung pada kondisi daerah aliran sungai, tutupan lahan, curah hujan, dan kestabilan iklim.

Sementara perubahan iklim dapat meningkatkan risiko kekeringan dan cuaca ekstrem.

Ketika salah satu komponen terganggu, dampaknya dapat menjalar ke sektor lain.

Penyusutan sungai, misalnya, bukan hanya memengaruhi ekosistem dan masyarakat.

Kondisi tersebut juga dapat mengganggu logistik dan kegiatan ekonomi.

Risiko Iklim Kini Menjadi Risiko Ekonomi

Selama bertahun-tahun, perubahan iklim sering dibahas sebagai persoalan lingkungan.

Kini perspektif tersebut mulai berubah.

Kekeringan dapat mengganggu produksi.

Banjir dapat merusak infrastruktur.

Karhutla dapat meningkatkan beban kesehatan.

Penyusutan sungai dapat mengganggu transportasi dan rantai pasok.

Semua itu mempunyai konsekuensi ekonomi.

Karena itu, pemerintah, perusahaan, dan lembaga keuangan mulai dituntut untuk memasukkan risiko iklim ke dalam proses pengambilan keputusan.

Transisi Energi Membutuhkan Peta Jalan yang Jelas

Mengurangi ketergantungan pada batu bara tidak dapat dilakukan dalam satu malam.

Indonesia masih menggunakan batu bara dalam jumlah besar untuk pembangkitan listrik dan berbagai kegiatan industri.

Transisi membutuhkan pengembangan energi pengganti, jaringan transmisi, penyimpanan listrik, investasi, serta perlindungan terhadap pekerja dan masyarakat yang bergantung pada industri fosil.

Karena itu, tantangan utamanya adalah memastikan transisi berlangsung dengan terencana.

Target yang jelas dan kepastian regulasi dapat membantu memberikan arah kepada investor, perusahaan energi, dan lembaga keuangan.

Kalimantan Menjadi Pengingat akan Risiko Pembangunan

Kondisi Sungai Kapuas dan Barito menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi memiliki hubungan erat dengan daya dukung lingkungan.

El Nino dan pemanasan global memang dapat memperburuk kekeringan.

Namun ketahanan suatu wilayah terhadap perubahan iklim juga sangat dipengaruhi oleh kondisi hutan, daerah tangkapan air, tata ruang, dan pemanfaatan sumber daya alam.

Karena itu, solusi terhadap persoalan ini tidak cukup hanya dengan menunggu musim hujan kembali.

Perbaikan tata kelola daerah aliran sungai, rehabilitasi lingkungan, perlindungan hutan, diversifikasi ekonomi, dan transformasi sektor energi perlu berjalan bersama.

Pada akhirnya, kondisi sungai di Kalimantan bukan hanya cerita tentang air yang menyusut.

Ia juga menjadi peringatan mengenai bagaimana krisis iklim, tata kelola sumber daya alam, kebijakan energi, dan risiko ekonomi saling terhubung.

https://hijau.bisnis.com/read/20260904/651/2001436/sungai-kapuas-dan-barito-mengering-emisi-karbon-dari-batu-bara-jadi-sorotan

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO