Tak terlihat, tak terkendali: Pembangkit batubara captive sebesar 31 GW mempertaruhkan target ekonomi dan pengurangan emisi Indonesia

Laporan ini merupakan laporan ketiga dalam rangkaian publikasi bersama antara Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) dan Global Energy Monitor (GEM). Laporan ini merangkum perkembangan sektor Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) captive di Indonesia dalam kurun waktu satu tahun terakhir serta tren dalam tiga tahun terakhir.
Fokus utama laporan ini adalah pembangkit batu bara industri yang tidak terhubung dengan jaringan listrik nasional, atau dikenal sebagai PLTU captive, yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan energi sektor industri secara langsung.
Analisis dalam laporan ini mencakup dua kelompok utama, yaitu:
- Seluruh armada PLTU di Indonesia, baik yang terhubung dengan jaringan listrik nasional yang dioperasikan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai penyedia listrik milik negara, maupun yang dibangun oleh Independent Power Producers (IPP)—perusahaan lokal maupun asing yang telah menandatangani Perjanjian Pembelian Daya (Power Purchase Agreement/PPA) untuk membangun dan mengoperasikan pembangkit listrik serta menjual listriknya secara eksklusif kepada PLN.
- Unit PLTU captive, yaitu pembangkit listrik batu bara yang beroperasi untuk kebutuhan industri dan tidak terhubung ke jaringan listrik nasional.
Laporan-laporan sebelumnya yang diterbitkan pada September 2023 dan November 2024 telah mencatat pertumbuhan pesat PLTU yang didorong oleh kebutuhan industri di Indonesia. Temuan tersebut didasarkan pada data Global Coal Plant Tracker (GCPT) milik GEM, dengan rilis utama pada Juli 2023, Juli 2024, dan Juli 2025 sebagai sumber referensi.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




