Target Listrik 100 GW dan Tantangan Lahan: Mengapa PLTS Tidak Harus Mengorbankan Pertanian

Pemerintah Indonesia tengah menatap masa depan energi dengan ambisi besar. Melalui berbagai rencana strategis, Indonesia menargetkan pembangunan kapasitas listrik baru berbasis energi bersih hingga sekitar 100 gigawatt (GW) dalam beberapa dekade mendatang. Target ini bukan sekadar angka, melainkan refleksi dari dua kebutuhan besar sekaligus: meningkatnya permintaan listrik nasional dan komitmen untuk mempercepat transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
Dalam peta besar tersebut, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menempati posisi yang sangat penting. Teknologi ini dinilai memiliki sejumlah keunggulan: waktu pembangunan yang relatif cepat, fleksibilitas skala—dari rumah tangga hingga pembangkit besar—serta biaya instalasi yang terus menurun seiring perkembangan teknologi global.
Namun, di balik optimisme tersebut, muncul satu pertanyaan mendasar: dari mana lahan untuk membangun PLTS skala besar akan diambil?
Dilema Lahan: Energi vs Pangan
Pembangunan PLTS skala besar atau solar farm memang membutuhkan area yang luas. Panel-panel surya biasanya dipasang dalam hamparan terbuka untuk memaksimalkan paparan sinar matahari. Di sinilah kekhawatiran mulai muncul.
Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki jutaan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Kekhawatiran bahwa proyek energi dapat “memakan” lahan pertanian bukanlah hal yang berlebihan. Jika tidak dikelola dengan baik, ekspansi energi bisa berbenturan langsung dengan ketahanan pangan nasional.
Kondisi ini menempatkan pemerintah pada posisi yang tidak mudah: di satu sisi harus memenuhi kebutuhan energi, di sisi lain harus menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
Namun, perkembangan teknologi dan pendekatan desain terbaru menunjukkan bahwa konflik ini tidak harus terjadi.
Pendekatan Baru: Satu Lahan, Dua Fungsi
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul konsep yang semakin banyak dibicarakan, yaitu pemanfaatan lahan multifungsi. Alih-alih memisahkan antara energi dan pertanian, pendekatan ini justru menggabungkan keduanya dalam satu ruang.
Panel surya dipasang di atas lahan dengan ketinggian dan jarak tertentu, sementara aktivitas pertanian atau peternakan tetap berjalan di bawahnya. Konsep ini dikenal secara global sebagai agrivoltaics.
Dengan pendekatan ini, lahan tidak kehilangan fungsi utamanya sebagai penghasil pangan. Sebaliknya, ia memperoleh fungsi tambahan sebagai penghasil energi listrik.
Pendekatan ini menjadi sangat relevan di tengah keterbatasan lahan dan meningkatnya kebutuhan energi. Jika satu bidang tanah bisa menghasilkan dua komoditas sekaligus—pangan dan listrik—maka tekanan terhadap pembukaan lahan baru dapat dikurangi secara signifikan.
Belajar dari PLTS Atap
Sebenarnya, konsep pemanfaatan ruang ganda bukan hal baru dalam pengembangan energi surya. Sebelumnya, PLTS atap telah lebih dulu menjadi solusi yang cukup efektif.
Dengan memanfaatkan atap rumah, gudang, dan bangunan komersial, PLTS atap mengubah ruang yang sebelumnya tidak produktif menjadi sumber energi. Tanpa mengganggu fungsi utama bangunan, listrik dapat dihasilkan secara mandiri dan tersebar.
Logika yang sama dapat diterapkan pada lahan terbuka. Jika atap bangunan bisa “ditumpangi” panel surya tanpa mengganggu aktivitas di dalamnya, maka lahan pertanian pun dapat dirancang agar tetap produktif meski dipasang instalasi energi.
Bagaimana Cara Kerjanya?
Dalam praktiknya, panel surya pada sistem agrivoltaics tidak dipasang menempel di tanah seperti solar farm konvensional. Panel dibuat lebih tinggi, dengan jarak tertentu agar sinar matahari masih bisa mencapai tanaman di bawahnya.
Desain ini memungkinkan:
- Tanaman tetap mendapatkan cahaya yang cukup
- Sirkulasi udara tetap terjaga
- Aktivitas pertanian tetap berjalan
Menariknya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini justru memberikan manfaat tambahan bagi tanaman.
Manfaat untuk Pertanian
Naungan parsial dari panel surya dapat:
- Menurunkan suhu tanah
- Mengurangi penguapan air
- Menjaga kelembapan tanah lebih lama
- Mengurangi stres panas pada tanaman
Dalam kondisi iklim yang semakin panas akibat perubahan iklim, manfaat ini menjadi semakin penting. Bahkan, pada beberapa jenis tanaman, produktivitas tidak menurun secara signifikan. Dalam kasus tertentu, efisiensi penggunaan air justru meningkat.
Artinya, keberadaan PLTS tidak selalu menjadi ancaman bagi pertanian. Dalam kondisi tertentu, ia justru dapat menjadi mitra yang mendukung keberlanjutan produksi pangan.
Integrasi dengan Peternakan
Selain tanaman, pendekatan yang lebih sederhana juga dapat diterapkan melalui integrasi dengan sektor peternakan.
Pada solar farm, vegetasi di bawah panel biasanya harus dipangkas secara rutin agar tidak mengganggu instalasi. Di sinilah peluang muncul: alih-alih menggunakan mesin, vegetasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami bagi ternak seperti domba atau kambing.
Model ini memberikan manfaat ganda:
- Mengurangi biaya pemeliharaan lahan
- Memberikan nilai ekonomi tambahan bagi peternak
- Menjaga ekosistem tetap alami
Pendekatan ini telah diterapkan di beberapa negara dan terbukti efektif secara ekonomi maupun lingkungan.
Tantangan Implementasi di Indonesia
Meski konsepnya menjanjikan, penerapan agrivoltaics di Indonesia tentu tidak tanpa tantangan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- Regulasi tata ruang dan penggunaan lahan
- Biaya investasi awal yang relatif tinggi
- Kesiapan teknologi dan SDM
- Edukasi kepada petani dan masyarakat
Selain itu, tidak semua jenis tanaman cocok dengan sistem ini. Diperlukan riset lebih lanjut untuk menentukan kombinasi tanaman dan desain panel yang paling optimal sesuai dengan kondisi lokal.
Menuju Transisi Energi yang Inklusif
Target 100 GW energi bersih adalah langkah besar menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Namun, keberhasilan transisi energi tidak hanya diukur dari kapasitas listrik yang terpasang, melainkan juga dari bagaimana proses tersebut dilakukan.
Transisi energi yang ideal adalah yang:
- Tidak mengorbankan sektor lain
- Memberikan manfaat ekonomi yang merata
- Tetap menjaga keseimbangan lingkungan
Pendekatan seperti agrivoltaics menunjukkan bahwa solusi inovatif dapat menjembatani kepentingan energi dan pangan sekaligus.
Penutup
Kekhawatiran bahwa pembangunan PLTS akan menggusur lahan pertanian memang beralasan. Namun, dengan pendekatan yang tepat, konflik tersebut tidak harus terjadi.
Sebaliknya, masa depan energi justru membuka peluang baru: lahan yang sama dapat menjadi sumber pangan sekaligus energi.
Indonesia memiliki kesempatan besar untuk menjadi pelopor dalam integrasi ini. Dengan perencanaan yang matang, dukungan kebijakan, dan inovasi teknologi, transisi energi tidak hanya menjadi upaya mengurangi emisi, tetapi juga langkah menuju pembangunan yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




