Terancam kegiatan eksploitatif

Kisah Kegigihan Menyelamatkan Rammang-Rammang Hingga Menjadi Ekowisata Dunia
Kawasan Karst Rammang-Rammang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, kini dikenal sebagai salah satu destinasi ekowisata perbukitan kapur (karst) terbesar dan terindah di dunia. Namun, keindahan alam ini tidak hadir begitu saja—ada perjuangan panjang seorang warga lokal yang gigih menyelamatkannya dari ancaman eksploitasi tambang.
Perjuangan Melawan Penambangan Eksploitatif
Pada awalnya, kawasan karst Rammang-Rammang terancam rusak parah akibat izin industri penambangan semen dan batu kapur. Menolak melihat ruang hidup dan kelestarian alam desa kakek-moyangnya hancur, sosok pemuda lokal memimpin gerakan penolakan secara damai.
- Penolakan Tambang: Menggalang dukungan warga desa untuk menolak kompensasi singkat dari perusahaan tambang demi kelangsungan lingkungan jangka panjang.
- Peralihan Ekonomi: Membuktikan kepada masyarakat bahwa menjaga kelestarian alam dapat memberikan manfaat ekonomi yang jauh lebih berkelanjutan dibandingkan menjual lahan untuk ditambang.
Mengubah Karst Menjadi Destinasi Ekowisata Berbasis Masyarakat
Melalui pendekatan berbasis komunitas (Community-Based Tourism), potensi keindahan pegunungan karst, sungai, dan gua-gua bersejarah di Rammang-Rammang mulai dikembangkan secara bijak:
- Pemberdayaan Warga Lokal: Warga yang dulunya berpotensi menjadi buruh tambang kini beralih profesi menjadi penyedia jasa perahu (jontro), pemandu wisata (tour guide), pemilik homestay, hingga pengrajin kuliner lokal.
- Pengakuan Internasional: Kegigihan menjaga lanskap alam ini berhasil membawa kawasan Karst Maros-Pangkep masuk ke dalam jaringan UNESCO Global Geopark, menjadikannya magnet wisatawan mancanegara.
sumber:



