Praktik Baik

Terinspirasi Kearifan Lokal Betawi, Warga Setu Sulap Drum Bekas Jadi “Biopori Gede” Pengolah Sampah Organik

Jakarta – Kearifan lokal masyarakat Betawi dalam mengelola limbah rumah tangga menginspirasi warga RW 03 Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, untuk menghadirkan solusi pengelolaan sampah organik berbasis komunitas. Melalui inovasi sederhana, warga memanfaatkan drum bekas yang ditanam di dalam tanah sebagai media pengolahan sampah organik berkapasitas besar, yang kemudian dikenal dengan sebutan “biopori gede”.

Ketua RW 03 Kelurahan Setu, Maah, menjelaskan bahwa gagasan tersebut berawal dari praktik masyarakat Betawi tempo dulu yang mengelola limbah organik dengan menggali lubang berukuran sekitar 2 x 2 meter di pekarangan rumah. Lubang tersebut digunakan untuk menampung sisa makanan, rumput, hingga kotoran ternak yang kemudian terurai secara alami dan menjadi pupuk penyubur tanah.

“Dulu orang Betawi memanfaatkan lubang besar untuk mengolah limbah organik. Setelah terurai, hasilnya menjadi pupuk yang membuat kebun tetap subur,” ujar Maah.

Namun, menurutnya, cara tradisional tersebut kini sulit diterapkan karena lahan pekarangan semakin terbatas seiring meningkatnya jumlah penduduk dan perubahan pola permukiman. Di sisi lain, komposisi sampah rumah tangga juga berubah dengan meningkatnya penggunaan kemasan plastik sekali pakai.

Berangkat dari kondisi tersebut, warga kemudian memodifikasi konsep lama menjadi sistem pengolahan yang lebih praktis. Lubang berukuran besar digantikan dengan drum bekas berkapasitas sekitar 200 liter yang ditanam sedalam kurang lebih dua meter. Selain lebih hemat biaya, penggunaan drum juga menjaga struktur tanah agar tidak tertimbun sampah secara langsung.

Berbeda dengan lubang biopori konvensional yang hanya berdiameter sekitar 10–15 sentimeter, biopori gede mampu menampung sampah organik rumah tangga dalam volume yang jauh lebih besar, mulai dari sisa makanan, kulit buah, sayuran, tulang, hingga kepala ikan.

Tidak hanya memanfaatkan barang bekas, warga juga menyulap lahan sisa proyek pembangunan jalan menjadi kawasan pengolahan sampah organik yang kini dikenal sebagai Kampung Biopori. Pengembangan kawasan tersebut dilakukan setelah berkoordinasi dengan pemerintah setempat sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Saat ini, Kampung Biopori telah memiliki 10 unit drum biopori yang dikelola secara kolektif. Setiap dua drum dimanfaatkan oleh sekitar 30 kepala keluarga, sehingga pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab bersama warga.

Inisiatif ini menjadi contoh bagaimana kearifan lokal dapat dipadukan dengan inovasi sederhana untuk menjawab tantangan perkotaan. Selain membantu mengurangi volume sampah organik yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA), sistem ini juga menghasilkan kompos yang bermanfaat bagi penghijauan lingkungan sekaligus memperkuat budaya gotong royong di tengah masyarakat.

Model “biopori gede” yang dikembangkan warga Setu menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak selalu memerlukan teknologi yang rumit. Dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan semangat kolaborasi, masyarakat mampu menciptakan solusi yang murah, mudah diterapkan, dan berkelanjutan.

https://lestari.kompas.com/read/2026/07/06/073055486/terinspirasi-kearifan-betawi-warga-setu-kelola-sampah-organik-dengan-biopori

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO