Praktik Baik

TPS 3R Tanah Sereal Jakarta Barat Olah 5 Ton Sampah per Hari: Inovasi RDF untuk Mengurangi Beban Bantargebang

Upaya mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap tempat pemrosesan akhir terus dilakukan melalui penguatan fasilitas pengolahan sampah di tingkat wilayah. Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Tanah Sereal, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, berhasil mengolah rata-rata lima ton sampah setiap hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 3,3 ton material anorganik dicacah dan dikirim ke TPST Bantargebang untuk mendukung pengolahan menjadi bahan bakar alternatif atau Refuse Derived Fuel (RDF). Namun, di balik pencapaian tersebut, masih terdapat tantangan pemilahan sampah, keterbatasan fasilitas, serta kesejahteraan petugas kebersihan.

TPS 3R Tanah Sereal Menunjukkan Kemajuan Pengelolaan Sampah

Persoalan sampah masih menjadi tantangan besar bagi Jakarta. Aktivitas rumah tangga, perdagangan, perkantoran, dan berbagai kegiatan ekonomi menghasilkan sampah dalam jumlah besar setiap hari.

Selama bertahun-tahun, sistem pengelolaan sampah Jakarta sangat bergantung pada pengumpulan dan pengangkutan menuju TPST Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Ketergantungan tersebut menimbulkan berbagai tantangan, mulai dari kebutuhan armada pengangkut, biaya transportasi, keterbatasan kapasitas pengolahan, hingga tekanan lingkungan pada fasilitas pemrosesan akhir.

Untuk mengurangi beban tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai memperkuat pengolahan sampah di tingkat wilayah.

Salah satu fasilitas yang menunjukkan perkembangan positif adalah TPS 3R Tanah Sereal di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Berdasarkan pemberitaan Metro TV pada 10 September 2026, fasilitas ini mampu menerima dan memproses rata-rata lima ton sampah setiap hari.

Kepala Satuan Pelaksana Lingkungan Hidup Kecamatan Tambora sekaligus Pengelola TPS 3R Tanah Sereal, Harun Agustin, menjelaskan bahwa sebagian besar sampah yang ditangani merupakan material anorganik.

Melalui pemanfaatan mesin pencacah, fasilitas tersebut menghasilkan sekitar 3,3 ton cacahan sampah anorganik yang kemudian dikirim ke TPST Bantargebang untuk pengolahan lebih lanjut.

Capaian ini menunjukkan bahwa fasilitas pengolahan berskala wilayah dapat mengambil peran dalam mengurangi jumlah sampah campuran yang langsung dibuang tanpa pengolahan awal.

Lima Ton Sampah Diolah Setiap Hari

Kapasitas pengolahan rata-rata lima ton per hari merupakan pencapaian yang cukup berarti bagi fasilitas persampahan tingkat kecamatan.

Apabila kegiatan operasional berlangsung selama 30 hari dengan volume yang sama, jumlah sampah yang diproses secara matematis dapat mencapai sekitar 150 ton per bulan.

Sementara itu, dalam satu tahun penuh, potensi volume pengolahan dapat mencapai sekitar 1.825 ton.

Namun, angka bulanan dan tahunan tersebut merupakan proyeksi berdasarkan rata-rata harian, bukan data realisasi yang telah diverifikasi.

Jumlah aktual sampah yang diproses tetap bergantung pada hari operasional, kondisi mesin, ketersediaan tenaga kerja, serta volume sampah yang diterima.

Dari rata-rata lima ton sampah yang diproses setiap hari, sekitar 3,3 ton dilaporkan menjadi cacahan material anorganik.

Secara matematis, jumlah tersebut setara dengan sekitar 66 persen dari berat sampah yang masuk.

Namun, angka tersebut tidak dapat langsung disebut sebagai tingkat pengurangan sampah sebesar 66 persen.

Material yang dicacah masih dikirim ke TPST Bantargebang untuk pengolahan lanjutan.

Keberhasilan pengurangan sampah secara keseluruhan baru dapat dinilai setelah diketahui berapa banyak material yang benar-benar dimanfaatkan dan berapa banyak residu akhir yang masih harus ditimbun.

Pembedaan ini penting agar capaian fasilitas dapat dipahami secara objektif.

Mengenal Teknologi Refuse Derived Fuel

Refuse Derived Fuel atau RDF merupakan bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari pengolahan fraksi sampah tertentu.

Material yang dapat digunakan umumnya berasal dari sampah dengan kandungan energi yang memadai, seperti sebagian jenis plastik, kertas, tekstil, dan material mudah terbakar lainnya yang tidak layak atau tidak terserap melalui jalur pemanfaatan yang lebih sesuai.

Proses pembuatan RDF dapat melibatkan pemilahan, pencacahan, pengurangan kadar air, serta pengendalian ukuran material.

Tujuannya adalah menghasilkan bahan bakar dengan karakteristik yang sesuai untuk kebutuhan fasilitas pengguna.

Dalam praktiknya, kualitas RDF dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama nilai kalor, kadar air, kadar abu, dan kandungan unsur tertentu seperti klorin.

RDF dapat digunakan sebagai substitusi sebagian bahan bakar konvensional pada fasilitas industri yang memiliki teknologi serta sistem pengendalian emisi yang sesuai.

Namun, tidak semua cacahan sampah otomatis memenuhi spesifikasi RDF siap pakai.

Material yang baru melalui proses pencacahan mungkin masih membutuhkan pengolahan dan pengujian tambahan.

Dalam kasus TPS 3R Tanah Sereal, Metro TV melaporkan bahwa cacahan sampah anorganik dikirim ke TPST Bantargebang sebagai bahan untuk pengolahan energi.

Dengan demikian, kegiatan Tanah Sereal dapat dipahami sebagai bagian dari rantai penyediaan bahan baku RDF, bukan bukti bahwa seluruh cacahan yang dihasilkan sudah menjadi bahan bakar akhir dengan spesifikasi tertentu.

Mesin Pencacah Menjadi Komponen Penting

Salah satu peralatan utama yang mendukung kegiatan TPS 3R Tanah Sereal adalah mesin pencacah sampah.

Mesin ini digunakan untuk memperkecil ukuran material sehingga lebih mudah ditangani, disimpan, dan diproses lebih lanjut.

Pencacahan juga dapat membantu menghasilkan ukuran material yang lebih seragam.

Namun, efektivitas mesin bergantung pada karakteristik sampah yang dimasukkan.

Material yang mengandung logam, batu, atau benda keras tertentu dapat menyebabkan kerusakan pada komponen mesin.

Karena itu, pemilahan sebelum pencacahan merupakan bagian penting dari proses operasional.

Selain meningkatkan kualitas hasil pengolahan, pemilahan juga membantu mengurangi risiko gangguan mesin.

Peralatan membutuhkan pemeriksaan dan pemeliharaan berkala agar dapat beroperasi secara konsisten.

Dalam fasilitas berskala wilayah, kerusakan mesin dapat langsung memengaruhi kapasitas pengolahan harian.

Oleh sebab itu, ketersediaan suku cadang, prosedur pemeliharaan, dan tenaga operator yang terlatih menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan kegiatan.

Pengiriman Cacahan Sampah ke Bantargebang

Salah satu perkembangan yang disampaikan Harun Agustin adalah pengiriman hasil cacahan sampah dari TPS 3R Tanah Sereal menuju TPST Bantargebang.

Pada 10 September 2026, Harun menyebut bahwa sebanyak 33 wadah atau dustbin berisi cacahan sampah telah dikirim pada pagi hari.

Informasi tersebut menunjukkan adanya kegiatan pengiriman material hasil pengolahan dari fasilitas tingkat kecamatan menuju fasilitas pengolahan lanjutan.

Namun, jumlah 33 wadah tidak dapat langsung dikonversi menjadi tonase tanpa mengetahui kapasitas dan berat muatan setiap wadah.

Pengiriman material hasil pencacahan merupakan bagian dari sistem pengolahan sampah yang melibatkan beberapa fasilitas.

TPS 3R berperan dalam menyiapkan material, sementara fasilitas penerima melakukan tahapan pengolahan berikutnya sesuai teknologi yang tersedia.

Pendekatan ini dapat membantu membagi proses pengelolaan sampah berdasarkan fungsi masing-masing fasilitas.

Namun, sistem tersebut membutuhkan koordinasi logistik yang baik.

Jadwal pengiriman, kualitas material, kapasitas penerimaan, serta pencatatan tonase perlu dikelola secara terstruktur.

Dengan demikian, proses pengolahan tidak hanya bergantung pada kemampuan satu fasilitas, tetapi juga pada kelancaran seluruh rantai operasional.

Mengurangi Ketergantungan Jakarta terhadap Bantargebang

TPST Bantargebang memiliki peran sangat penting dalam sistem persampahan Jakarta.

Selama bertahun-tahun, fasilitas tersebut menjadi tujuan utama pengangkutan sampah dari berbagai wilayah ibu kota.

Namun, pengelolaan sampah yang terlalu bergantung pada satu lokasi dapat menimbulkan risiko jangka panjang.

Gangguan transportasi, keterbatasan kapasitas, atau persoalan operasional dapat memengaruhi pelayanan persampahan di wilayah yang luas.

Karena itu, pengembangan fasilitas pengolahan tingkat kecamatan menjadi bagian penting dari upaya memperkuat sistem.

TPS 3R dapat membantu melakukan pemilahan dan pengolahan awal sebelum material dikirim ke fasilitas lanjutan.

Namun, manfaatnya perlu dilihat secara tepat.

Dalam kasus Tanah Sereal, cacahan sampah masih dikirim ke Bantargebang. Artinya, fasilitas tersebut belum sepenuhnya menghilangkan kebutuhan pengangkutan material ke lokasi tersebut.

Kontribusinya terletak pada pengolahan awal dan penyiapan material yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku energi.

Pengurangan beban penimbunan akhir baru dapat dihitung berdasarkan hasil pengolahan lanjutan dan jumlah residu yang tersisa.

Jakarta Mengubah Sistem Pengelolaan Sampah

Penguatan TPS 3R Tanah Sereal berlangsung ketika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang mendorong perubahan pendekatan pengelolaan sampah.

Melalui Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026, pemerintah memperkuat gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.

Pendekatan yang sebelumnya berorientasi pada pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan diarahkan menjadi sistem pemilahan, pengangkutan, dan pengolahan.

Perubahan tersebut bertujuan meningkatkan jumlah sampah yang dapat ditangani sebelum menjadi residu akhir.

Dalam kebijakan yang diumumkan pada Juli 2026, pemerintah juga mendorong optimalisasi fasilitas TPS 3R yang telah tersedia.

Saat itu, Jakarta memiliki 29 fasilitas TPS 3R, tetapi pemanfaatan kapasitasnya dilaporkan masih sekitar 21 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya ruang untuk meningkatkan kinerja fasilitas tanpa selalu harus membangun infrastruktur baru.

Optimalisasi dapat dilakukan melalui perbaikan peralatan, peningkatan tenaga kerja, penguatan sistem pengumpulan, serta penyediaan material yang telah dipilah.

Namun, setiap fasilitas membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah pelayanannya.

Pemilahan Sampah dari Rumah Masih Menjadi Tantangan

Salah satu persoalan yang disoroti Harun Agustin adalah rendahnya kesadaran sebagian masyarakat untuk memilah sampah.

Menurutnya, masih terdapat warga yang beranggapan bahwa kewajiban mereka telah selesai setelah membayar pelayanan pengangkutan.

Pandangan tersebut menjadi tantangan bagi pengembangan sistem pengolahan sampah modern.

Pembayaran pelayanan persampahan memang penting untuk mendukung biaya

https://www.metrotvnews.com/read/bzGCeZ2e-sukses-olah-sampah-tps-3r-tanah-sereal-jakbar-kirim-cacahan-rdf

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO