Berita

Transisi Energi di Indonesia Masih Lambat: Ketergantungan pada Batu Bara Jadi Kendala Utama

Proses transisi energi di Indonesia dinilai masih berjalan lambat akibat ketergantungan yang besar terhadap batu bara sebagai sumber energi utama. Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), menyoroti bahwa batu bara masih dianggap vital karena berkontribusi signifikan terhadap penerimaan negara sekaligus menjadi tulang punggung bagi sistem tenaga listrik nasional.

“Banyak pihak melihat batu bara sebagai komponen penting,” ungkap Fabby. Namun, ia menekankan bahwa sebenarnya biaya pembangkitan listrik dari batu bara tidaklah murah jika subsidi melalui kebijakan domestic market obligation (DMO) tidak diterapkan. Saat ini, harga batu bara untuk pembangkit listrik PLN dipatok sebesar 70 dolar AS per ton, yang membuat biaya listrik dari batu bara tampak lebih ekonomis dibandingkan sumber energi lainnya.

Fabby juga menggarisbawahi bahwa ketergantungan terhadap batu bara, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor, menjadi penghambat utama upaya transisi menuju energi terbarukan. “Jika pemerintah serius berkomitmen pada transisi energi, sumber energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) perlu digenjot. PLTS atap, khususnya, bisa menjadi solusi cepat menambah kapasitas energi baru terbarukan,” ujarnya.

Meski pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025 sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, kenyataannya pada 2024 angka tersebut baru mencapai sekitar 14 persen. Target antara untuk 2024 yang seharusnya mencapai 19,49 persen juga tidak tercapai.

Sementara itu, konsumsi batu bara di dalam negeri justru terus meningkat dari tahun ke tahun. Ketergantungan ini menjadi tantangan besar bagi Indonesia untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan mempercepat langkah menuju keberlanjutan energi.

Fabby menyebut bahwa tantangan utama dalam transisi energi adalah ketakutan terhadap sifat intermitten atau ketergantungan cuaca dari energi surya. Hal ini menyebabkan kebijakan pengembangan energi surya tidak mendapatkan prioritas yang cukup tinggi.

Pemerintah harus melakukan upaya lebih serius untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara dengan mengoptimalkan sumber energi terbarukan. Selain memberikan manfaat besar bagi keberlanjutan energi, langkah ini juga akan membantu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Sumber berita, kunjungi artikel aslinya di Kompas.com.

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO