Yuk, Mengompos! Sayangi Alam Mulai dari Rumah

Setelah berjanji untuk memulai homesteading dalam tulisan sebelumnya, pada bulan Mei lalu saya akhirnya resmi mulai mengompos.
Composting atau mengompos adalah kegiatan mengolah sampah organik—seperti sisa makanan—dengan mencampurkannya bersama bahan kering seperti dedaunan, sekam, atau serabut kelapa hingga terurai menjadi pupuk yang bermanfaat bagi tanaman.
Sampah Hijau dan Sampah Coklat
Dalam praktik komposting, sampah organik dibagi menjadi dua kategori utama: sampah hijau dan sampah coklat.
- Sampah hijau mengandung nitrogen, seperti sisa sayuran, kulit buah, cangkang telur, kulit bawang, dan sisa makanan lainnya.
- Sampah coklat mengandung karbon, seperti dedaunan kering, serbuk kayu, serabut kelapa, tanah, dan kardus.
Kedua jenis bahan ini sebenarnya sangat mudah ditemukan di rumah. Coba saja lihat dapur Anda. Jika Anda sering memasak, pasti ada potongan sayur, kulit bawang, atau cangkang telur. Belum lagi buah yang terlalu lama di kulkas, sisa makanan yang tidak habis, atau bekal yang terlupakan. Biasanya, semua itu berakhir di tempat sampah.
Sampah Rumah Tangga yang Terus Menumpuk
Di rumah saya, dengan empat orang anggota keluarga dan aktivitas memasak yang cukup intens, sampah yang dihasilkan bisa mencapai dua hingga tiga kantong plastik ukuran sedang setiap hari. Selama ini, sampah tersebut langsung dibuang ke tong sampah depan rumah dan diangkut petugas setiap minggu untuk dibawa ke TPST Bantar Gebang.
Kami rutin membayar iuran sampah setiap bulan, dan tentu saja tidak ada yang salah dengan itu. Namun, masalahnya bukan hanya soal biaya, melainkan ke mana sampah itu berakhir.
TPST Bantar Gebang kini disebut sudah setinggi gedung 16 lantai dan menerima sekitar 15.000 ton sampah setiap hari. Bayangkan, jika satu rumah menghasilkan dua kantong sampah per hari, dikalikan 360 hari dalam setahun, lalu dikalikan usia hidup seseorang—berapa banyak sampah yang telah kita sumbangkan ke TPA?
Ancaman Nyata di Balik Tumpukan Sampah
Tumpukan sampah bukan hanya masalah estetika, tetapi juga ancaman serius bagi lingkungan dan manusia. Salah satu tragedi paling kelam adalah ledakan gas metana di TPA Leuwigajah, Bandung, pada tahun 2005, yang menewaskan 147 orang dan menghapus dua desa dari peta.
Gas metana terbentuk dari pembusukan sampah organik di TPA yang berlangsung tanpa oksigen (anaerob). Jika akumulasi gas ini tidak terkendali, risiko ledakan sangat besar.
Mengompos: Solusi Sederhana dari Rumah
Bayangkan jika kita mengompos seluruh sampah organik di rumah dan memilah sampah anorganik seperti plastik, botol, dan kardus untuk dikumpulkan ke pengepul. Sampah yang dikirim ke TPA bisa berkurang drastis—bahkan mendekati nol.
Manfaatnya pun berlipat:
- Bumi lebih terjaga,
- Pupuk organik tersedia gratis,
- Sampah anorganik bisa dijual dan menghasilkan uang.
Sambil menyelam, minum air kelapa—lingkungan selamat, dompet pun ikut sehat.
Mengompos Itu Mudah
Saya teringat slogan dosen bahasa Inggris saya dulu: “English is Easy.” Setelah menjelaskan materi yang rumit, beliau selalu menutup dengan kalimat itu, seolah ingin meyakinkan bahwa belajar bahasa Inggris sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan.
Kini saya ingin meniru slogan tersebut dan mengubahnya menjadi: “Mengompos itu Mudah.”
Dengan sedikit pengetahuan dan kebiasaan baru, setiap orang bisa mulai mengompos dari rumah. Tidak perlu teknologi canggih, cukup niat, konsistensi, dan kesadaran bahwa setiap sisa makanan yang kita kelola sendiri adalah kontribusi nyata untuk bumi.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.



