Strategi Reformasi dan Peta Jalan Elektrifikasi Transportasi Publik Kota Pekanbaru

Kementerian Perhubungan Republik Indonesia menargetkan elektrifikasi hingga 90% angkutan umum di 42 wilayah perkotaan pada tahun 2030. Untuk mendukung ambisi tersebut, ITDP Indonesia bersama ViriyaENB telah menyusun peta jalan strategis pada 2024, termasuk penetapan 11 kota prioritas yang ditargetkan mencapai elektrifikasi 100%.
Salah satu kota yang masuk dalam daftar prioritas tersebut adalah Pekanbaru. Berdasarkan analisis awal, elektrifikasi penuh transportasi publik di kota ini berpotensi menurunkan emisi Gas Rumah Kaca hingga sekitar 25.704 ton CO₂eq pada 2030. Selain manfaat lingkungan, langkah ini juga diperkirakan dapat mengurangi hingga 50 kasus penyakit pernapasan akibat polusi udara.
Secara nasional, implementasi elektrifikasi di 11 kota prioritas diproyeksikan mampu memangkas sekitar 25% emisi GRK dari skenario Business-as-Usual, atau setara dengan pengurangan sekitar 900.000 ton CO₂eq. Hal ini menjadikan elektrifikasi transportasi publik sebagai salah satu strategi penting dalam agenda dekarbonisasi sektor transportasi.
Namun, kondisi eksisting transportasi publik di Pekanbaru masih menghadapi berbagai tantangan. Layanan utama Trans Metro Pekanbaru (TMP) saat ini hanya mencakup sekitar 16% populasi kota, dengan tingkat penggunaan (mode share) yang masih rendah, yakni 1–3%. Padahal, berdasarkan kebijakan pemerintah daerah, terdapat total 48 rute transportasi publik yang direncanakan, termasuk layanan trunk, feeder, bus kota, dan angkutan kota.
Studi kelayakan juga merekomendasikan pengembangan 11 rute Bus Rapid Transit (BRT) untuk meningkatkan jangkauan layanan. Namun, keterbatasan anggaran masih menjadi kendala utama. Dari kebutuhan subsidi operasional sekitar Rp73 miliar per tahun, saat ini Pemerintah Kota baru mampu mengalokasikan sekitar Rp30 miliar untuk mengoperasikan 8 rute utama.
Minimnya cakupan layanan berdampak langsung pada tingginya ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi serta layanan ojek dan taksi, baik daring maupun konvensional. Akibatnya, beban pengeluaran rumah tangga untuk transportasi di Pekanbaru tergolong tinggi, bahkan mencapai lebih dari 30%.
Selain itu, kualitas layanan TMP juga masih perlu ditingkatkan. Beberapa aspek krusial yang menjadi perhatian antara lain kondisi infrastruktur pendukung, frekuensi kedatangan armada (headway), serta sistem informasi bagi penumpang.
Melihat kondisi tersebut, reformasi sistem transportasi publik menjadi langkah yang tidak bisa ditunda. Upaya ini diperlukan untuk mengoptimalkan penggunaan subsidi yang ada, sekaligus mempersiapkan transisi menuju elektrifikasi yang membutuhkan investasi besar.
Tanpa perbaikan mendasar pada sistem layanan, elektrifikasi berisiko tidak berjalan optimal. Sebaliknya, dengan reformasi yang tepat, Pekanbaru berpeluang menjadi contoh sukses transformasi menuju transportasi publik yang bersih, efisien, dan berkelanjutan di Indonesia.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




