Bahlil Dorong Kemandirian Energi Bertahap

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan komitmennya untuk membawa Indonesia menuju kemandirian energi nasional. Ia menekankan bahwa ketergantungan pada impor bahan bakar harus dihentikan melalui peningkatan produksi dalam negeri, pembangunan industri kilang, serta program substitusi energi berbasis sumber daya domestik.
Bahlil bahkan menyatakan dirinya sebagai salah satu menteri yang secara terbuka menentang pola impor energi yang selama ini menjadi persoalan struktural dalam tata kelola energi nasional.
Empat Pilar Energi Nasional
Dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR di Senayan, Jakarta, Kamis (22/1/2026), Bahlil menjelaskan mandat Presiden Prabowo Subianto terkait empat pilar utama kebijakan energi nasional, yaitu:
- Kedaulatan energi
- Ketahanan energi
- Kemandirian energi
- Swasembada energi
Menurut Bahlil, saat ini ketahanan energi Indonesia masih sangat rentan. Cadangan energi nasional hanya cukup untuk sekitar 21 hari, sehingga pembangunan fasilitas penyimpanan energi (storage) menjadi kebutuhan mendesak.
“Kalau ketahanan energi kita cuma 21 hari, maka yang harus kita lakukan adalah membangun storage,” ujar Bahlil.
Kemandirian Energi Harus dari Produksi Dalam Negeri
Bahlil menegaskan bahwa ketahanan energi berbeda dengan kemandirian energi. Kemandirian baru tercapai jika seluruh kebutuhan bahan bakar diproduksi di dalam negeri, bukan bergantung pada impor.
Untuk itu, pemerintah mendorong Pertamina membangun dan memperluas kilang minyak, agar kapasitas produksi BBM nasional mampu memenuhi konsumsi domestik.
“Kita harus mendorong Pertamina segera membangun kilang-kilang atau melakukan ekspansi kilang agar produksi bisa memenuhi kebutuhan konsumsi,” katanya.
Bioenergi Jadi Solusi Transisi
Sambil menunggu pembangunan kilang yang membutuhkan waktu panjang, pemerintah menyiapkan strategi transisi melalui substitusi energi berbasis nabati, salah satunya kebijakan mandatori etanol dalam bensin.
Bahlil menyebut, jika etanol dicampurkan sebesar 10 persen, Indonesia bisa menghemat impor bensin hingga 3,9 juta kiloliter.
“Kalau etanolnya 10 persen, itu bisa melakukan efisiensi impor sebesar 3,9 juta,” jelasnya.
🌱 Arah Baru Kebijakan Energi
Langkah ini menunjukkan arah baru kebijakan energi Indonesia: mengurangi ketergantungan impor, memperkuat industri dalam negeri, serta memanfaatkan sumber daya lokal sebagai bagian dari transisi menuju kemandirian energi nasional.
https://rmol.id/politik/read/2026/01/22/694748/bahlil-dorong-kemandirian-energi-bertahap
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




