Berita

Jateng Tanam 92.290 Mangrove dan Pohon Pesisir, Perkuat Benteng Hijau Hadapi Abrasi dan Perubahan Iklim

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dengan aksi penanaman serentak 92.290 bibit mangrove dan tanaman pesisir di 16 kabupaten dan kota pesisir. Kegiatan yang dipusatkan di Pantai Tirang ini menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan kawasan pantai dari ancaman abrasi, rob, dan dampak perubahan iklim.

Sejak pagi hari, kawasan Pantai Tirang dipenuhi oleh berbagai elemen masyarakat yang bergotong royong menanam bibit mangrove dan cemara laut. Suasana pesisir yang biasanya tenang berubah menjadi simbol semangat bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan dan masa depan wilayah pantai Jawa Tengah.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, serta melibatkan unsur pemerintah, komunitas lingkungan, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat sekitar. Di lokasi utama kegiatan dilakukan penanaman 2.750 bibit mangrove dan 200 batang cemara laut sebagai bagian dari total puluhan ribu bibit yang ditanam serentak di sepanjang pesisir Jawa Tengah.

Menurut Ahmad Luthfi, menjaga lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Ia menegaskan bahwa persoalan lingkungan harus dihadapi melalui kesadaran kolektif dan aksi nyata yang berkelanjutan.

Penanaman pohon tersebut merupakan bagian dari program Gerakan Mageri Segoro, sebuah inisiatif yang bertujuan melindungi kawasan pesisir dan laut dari ancaman abrasi serta banjir rob. Dalam filosofi Jawa, “Mageri Segoro” berarti memberi pagar pada laut, yang diwujudkan melalui penanaman vegetasi pantai sebagai benteng alami perlindungan garis pantai.

Luthfi menyoroti kondisi sejumlah wilayah pesisir Pantai Utara Jawa yang terus menghadapi tekanan akibat abrasi. Karena itu, penanaman mangrove dan tanaman pesisir dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus melindungi permukiman masyarakat.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program penghijauan tidak berhenti pada proses penanaman. Perawatan tanaman menjadi faktor penting agar bibit yang ditanam dapat tumbuh optimal dan memberikan manfaat ekologis secara maksimal.

Untuk itu, pemerintah daerah meminta seluruh pihak, termasuk dinas terkait, komunitas lingkungan, dan kawasan industri, ikut mengawasi serta merawat tanaman yang telah ditanam, terutama karena kegiatan berlangsung menjelang musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kematian bibit.

Selain persoalan abrasi, Gubernur Jawa Tengah juga menyoroti pentingnya pengendalian pengambilan air tanah di kawasan pesisir. Menurutnya, eksploitasi air tanah yang berlebihan dapat mempercepat penurunan muka tanah yang pada akhirnya memperparah risiko rob dan kerusakan lingkungan.

Sebagai solusi, pemerintah mendorong penguatan layanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) melalui badan usaha milik daerah serta pengembangan teknologi desalinasi untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat pesisir, khususnya nelayan.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Luthfi juga menegaskan komitmen Jawa Tengah mendukung target nasional menuju zero waste pada 2029 sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah provinsi telah memetakan penanganan sampah di seluruh daerah dengan pendekatan yang disesuaikan berdasarkan volume timbulan sampah masing-masing wilayah.

Kawasan dengan produksi sampah tinggi akan menggunakan sistem pengelolaan regional atau aglomerasi, seperti di Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya. Sementara daerah dengan volume sampah lebih rendah diarahkan memanfaatkan teknologi refuse-derived fuel (RDF), yang memungkinkan sampah diolah menjadi bahan bakar alternatif untuk industri semen.

Salah satu peserta kegiatan dari Saka Kalpataru, Aisyah, berharap penanaman mangrove yang dilakukan dapat menjaga keberlanjutan Pantai Tirang dan melindunginya dari ancaman abrasi yang terus mengintai kawasan pesisir.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Jawa Tengah mengusung tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim”. Tema tersebut dinilai sangat relevan mengingat dampak perubahan iklim semakin nyata dirasakan masyarakat, mulai dari meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi hingga ancaman terhadap kawasan pesisir dan sumber daya alam.

Melalui gerakan penanaman puluhan ribu mangrove dan tanaman pesisir ini, Jawa Tengah menunjukkan bahwa upaya menghadapi perubahan iklim memerlukan kolaborasi lintas sektor, aksi nyata di lapangan, serta komitmen jangka panjang untuk menjaga lingkungan bagi generasi mendatang.

https://www.detik.com/sulsel/makassar/d-8520321/hari-lingkungan-hidup-appi-ingatkan-warga-makassar-peduli-sampah-dan-iklim

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO