Ironi TPA Galuga Bogor, sawah Nurdin berubah jadi gunung sampah

Ironi TPA Galuga Bogor: Lahan Pertanian Warga yang Berubah Jadi Gunung Sampah
BOGOR – Beroperasinya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga yang menampung sampah dari Kota dan Kabupaten Bogor menyisakan duka mendalam bagi warga sekitar. Salah satunya dirasakan oleh Nurdin, Ketua RW 05 Kampung Cimangir Tengah, Desa Galuga, Kabupaten Bogor. Sawah yang dahulu menjadi sumber penghidupannya kini telah lenyap, tertimbun gunungan sampah yang terus meninggi setiap hari.
Kronologi Hilangnya Lahan Produktif
Masalah ini berakar dari bencana lingkungan yang terjadi beberapa tahun lalu dan dampaknya terus meluas hingga sekarang:
- Tahun 2019 (Awal Mula): Terjadi longsoran sampah dari TPA Galuga yang menimbun lahan pertanian dan perkebunan produktif milik warga.
- Luas Area Terdampak: Timbunan sampah telah mengubur total sekitar 2,5 hektare lahan warga.
- Jumlah Korban: Sebanyak 18 pemilik tanah (sebagian besar petani) kehilangan aset dan mata pencaharian mereka secara permanen. Bagi Nurdin, kini yang tersisa dari sawahnya hanyalah selembar sertifikat tanah tanpa wujud fisik lahan yang bisa dilihat.
Kerusakan Lingkungan dan Alih Profesi Warga
Kehadiran TPA Galuga merubah total ekosistem dan struktur sosial di Kampung Cimangir Tengah:
| Aspek Lingkungan | Kondisi Dahulu | Kondisi Sekarang |
| Kualitas Air | Jernih, mengalir dari mata air, bisa langsung diminum, dan digunakan untuk budidaya ikan. | Air berbau busuk dan tercemar. Sumur warga rusak sehingga terpaksa beralih ke air perpipaan berbayar. |
| Polusi & Kenyamanan | Lingkungan asri khas pedesaan. | Ratusan truk sampah melintasi jalan kampung sempit setiap hari, memicu bau menyengat, debu pekat, dan kebisingan konstan. |
Akibat hilangnya sawah, para petani mengalami disrupsi ekonomi. Sebagian beralih menjadi pekerja serabutan, sebagian merantau keluar daerah, dan ironisnya, beberapa petani terpaksa menjadi pemulung di atas tanah mereka sendiri yang kini telah menjadi gunung sampah.
Ironi Nilai Kompensasi Lingkungan
Warga menerima dana kompensasi lingkungan setiap tahun dari pemerintah setempat. Namun jika dibedah secara matematis, nilainya dinilai sangat tidak sebanding dengan penderitaan harian yang mereka rasakan:
- Kategori Terendah: Rp50.000 / tahun (Hanya setara Rp137 / hari)
- Kategori Menengah: Rp200.000 / tahun (Hanya setara Rp547 / hari)
- Kategori Tertinggi: Rp250.000 / tahun (Hanya setara Rp685 / hari)
“Jelas tidak seimbang,” ujar Nurdin menggambarkan kontrasnya nilai uang tersebut dengan debu, bau, dan hilangnya mata pencaharian warga sepanjang tahun.
Tuntutan Warga yang Belum Terpenuhi
Sebagai Ketua RW sekaligus korban, Nurdin telah berulang kali menjembatani aspirasi warga ke pihak pemerintah. Tuntutan utama masyarakat Galuga meliputi:
- Kepastian ganti rugi atau pembebasan lahan yang adil atas tanah warga yang tertimbun sampah.
- Penyelesaian masalah pencemaran lingkungan (air dan udara) jangka panjang.
Hingga saat ini, proses pembebasan lahan dan ganti rugi tersebut masih menggantung dan belum menemui titik kejelasan yang tuntas dari Pemerintah Kota maupun Kabupaten Bogor.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




