Praktik Baik

Biji Kepuh yang Terbuang Disulap Jadi Briket, Inovasi BIOBRIX UMG Tawarkan Energi Alternatif dari Limbah

Siapa sangka biji kepuh yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata dapat diolah menjadi sumber energi? Tim dari Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) mengembangkan inovasi BIOBRIX, briket biomassa berbahan biji kepuh dan limbah pertanian yang menawarkan alternatif energi sekaligus pemanfaatan limbah.

Mengusung filosofi “Mengubah Limbah Menjadi Energi Bernilai”, BIOBRIX menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat dipadukan dengan potensi sumber daya lokal untuk menjawab persoalan energi dan lingkungan.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh tim yang terdiri dari Dr. Hasan Basri, Rini Puji Astutik, Afakhrul Masub Bakhtiar, Adi Styawan, Syaiful Ashari, dan Arbi Alfian Mas’ud.

Dari Biji Terbuang Menjadi Sumber Energi

Kepuh merupakan tanaman yang menghasilkan biji yang belum banyak dimanfaatkan masyarakat. Ketika tidak memiliki nilai ekonomi, material tersebut berpotensi hanya menjadi limbah organik.

Tim UMG mencoba melihatnya dari perspektif berbeda.

Biji kepuh dikombinasikan dengan limbah pertanian kemudian diolah menjadi briket biomassa, sehingga material yang sebelumnya terbuang dapat memperoleh fungsi dan nilai baru sebagai bahan bakar.

BIOBRIX dikembangkan dengan karakteristik berupa nilai kalor yang baik, kadar air rendah, nyala relatif stabil, serta emisi asap yang diklaim lebih minim.

Karakteristik tersebut membuka peluang pemanfaatannya sebagai bahan bakar alternatif untuk berbagai kebutuhan.

Berpotensi untuk Rumah Tangga hingga UMKM

Briket biomassa dapat menjadi salah satu pilihan energi terutama untuk aktivitas yang membutuhkan sumber panas.

Pengembang BIOBRIX melihat potensi penggunaannya tidak hanya pada tingkat rumah tangga, tetapi juga UMKM serta sektor hotel, restoran, dan katering (HORECA).

Jika dapat diproduksi secara ekonomis dalam skala lebih besar, pemanfaatan biomassa seperti ini berpotensi memberikan alternatif terhadap penggunaan bahan bakar konvensional untuk kebutuhan tertentu.

Namun, pengembangan dari prototipe menuju penggunaan luas tetap membutuhkan pengujian lanjutan, termasuk konsistensi nilai kalor, emisi pembakaran, keamanan, biaya produksi, ketersediaan bahan baku, dan kemampuan produksi dalam skala besar.

Ekonomi Sirkular dari Limbah Pertanian

Nilai menarik BIOBRIX bukan hanya terletak pada briket yang dihasilkan.

Inovasi tersebut membawa prinsip ekonomi sirkular, yaitu mempertahankan material agar tetap memiliki nilai dan tidak langsung berakhir sebagai limbah.

Dalam sistem pertanian konvensional, sisa produksi sering kali dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang. Padahal, berbagai jenis biomassa masih menyimpan kandungan energi.

Melalui teknologi yang tepat, residu tersebut dapat dikembalikan ke dalam rantai ekonomi.

Dari sinilah muncul perubahan cara pandang:

limbah pertanian bukan selalu akhir dari sebuah proses produksi, tetapi dapat menjadi bahan baku untuk proses berikutnya.

Energi Bersih Bisa Dimulai dari Potensi Lokal

Indonesia memiliki sumber biomassa yang sangat besar karena aktivitas pertanian, perkebunan, dan kehutanan tersebar di berbagai daerah.

Jerami, sekam padi, tongkol jagung, tempurung kelapa, limbah kayu, hingga berbagai biji dan residu tanaman memiliki karakteristik yang berbeda dan sebagian berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Inovasi seperti BIOBRIX menunjukkan pentingnya menggali sumber energi berdasarkan potensi lokal masing-masing daerah.

Suatu wilayah tidak selalu harus bergantung pada teknologi energi berskala besar. Dalam konteks tertentu, sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat dapat dikembangkan menjadi solusi energi terdesentralisasi.

Dari Energi Bersih hingga Aksi Iklim

Pengembang BIOBRIX mengaitkan inovasi tersebut dengan sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 7 mengenai energi bersih dan terjangkau, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta SDG 13 mengenai aksi terhadap perubahan iklim.

Konsepnya sederhana.

Semakin banyak residu yang dapat dimanfaatkan kembali, semakin sedikit material yang menjadi limbah. Pada saat bersamaan, pemanfaatan biomassa secara bertanggung jawab dapat menjadi bagian dari diversifikasi sumber energi.

Meski demikian, manfaat lingkungan suatu bahan bakar biomassa tetap perlu dilihat dari keseluruhan siklus hidupnya, mulai dari pengumpulan bahan baku, proses produksi, transportasi hingga emisi ketika digunakan.

Dukungan Riset Jadi Kunci

Pengembangan BIOBRIX juga memperlihatkan pentingnya dukungan terhadap riset yang mampu menjawab persoalan nyata masyarakat.

Tim BIOBRIX menyampaikan apresiasi atas dukungan pendanaan pemerintah yang memungkinkan pengembangan prototipe tersebut.

Pendanaan penelitian menjadi penting karena banyak inovasi energi tidak dapat langsung berangkat dari ide menuju produksi komersial. Dibutuhkan proses panjang berupa penelitian, pembuatan prototipe, pengujian, penyempurnaan teknologi hingga analisis keekonomian.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha kemudian menjadi kunci agar inovasi tidak berhenti di laboratorium.

Jangan Biarkan Inovasi Berhenti sebagai Prototipe

Tantangan berikutnya bagi BIOBRIX justru dimulai setelah prototipe berhasil dibuat.

Apakah bahan bakunya tersedia secara berkelanjutan? Apakah biaya produksinya kompetitif? Seberapa besar emisi yang dihasilkan? Bisakah kualitas briket dipertahankan ketika diproduksi dalam jumlah besar? Dan apakah masyarakat serta pelaku usaha bersedia menggunakannya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar inovasi dapat berkembang dari penelitian menjadi solusi nyata.

Jika tantangan itu dapat dijawab, BIOBRIX berpotensi menjadi lebih dari sekadar briket alternatif.

Ia dapat menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi mengambil persoalan sederhana di sekitar masyarakat—limbah yang tidak dimanfaatkan—kemudian mengubahnya menjadi peluang energi dan ekonomi.

Sebab masa depan energi Indonesia mungkin tidak hanya datang dari proyek-proyek pembangkit berukuran besar.

Sebagiannya bisa berasal dari desa, kebun, sawah, dan sisa pertanian yang selama ini kita abaikan.

Biji kepuh yang kemarin dianggap limbah, hari ini bisa menjadi bahan bakar. Dan dari sesuatu yang terbuang, mungkin lahir salah satu bagian kecil dari kemandirian energi Indonesia.

https://www.kompasiana.com/sabialusama5548/6a86ceef34777c738a1794b6/biobrix-energi-bersih-dari-kepuh-untuk-kemandirian-masyarakat

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO