Diburu karena Suaranya, Ekek Sunda Kini Nyaris Menghilang dari Gunung Pangrango

BOGOR – Memiliki bulu hijau cerah, kaki dan paruh berwarna merah mencolok, serta garis hitam menyerupai topeng di sekitar matanya, Ekek Sunda (Cissa thalassina) merupakan salah satu burung khas pegunungan Jawa Barat. Namun, keindahan dan suaranya justru menjadi salah satu alasan keberadaan burung ini kini berada di ambang kepunahan.
Pendiri Taman Safari Indonesia (TSI) Tony Sumampau menyebut keberadaan Ekek Sunda, yang juga dikenal sebagai Ekek Geling Jawa, sudah sangat mengkhawatirkan karena tidak lagi mudah ditemukan di habitat asalnya, termasuk kawasan Gunung Pangrango.
Kondisi tersebut disampaikan Tony dalam kegiatan Orientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (Owaka) yang digagas Forum Konservasi Satwaliar Indonesia (Foksi) di Cisarua, Bogor.
“Bisa dikatakan keberadaan burung ini sudah nyaris punah karena tidak bisa ditemukan lagi di Gunung Pangrango,” kata Tony.
Saat ini, Ekek Sunda berstatus terancam kritis atau critically endangered, menunjukkan betapa tingginya risiko kepunahan spesies tersebut di alam.
Diburu untuk Dijadikan “Burung Master”
Salah satu tekanan yang dihadapi Ekek Sunda adalah perburuan untuk perdagangan dan pemeliharaan burung.
Menurut Tony, burung tersebut diburu antara lain untuk dijadikan “burung master”, yaitu burung yang dipelihara karena suaranya digunakan untuk melatih atau memancing burung kicau lain agar menirukan suara tertentu.
Ironisnya, Ekek Sunda justru merupakan burung yang memiliki tingkat stres tinggi ketika berada dalam kondisi pemeliharaan yang tidak sesuai.
Tony menjelaskan bahwa burung ini dapat mengalami stres dengan cepat ketika dijadikan burung master. Kondisi tersebut bahkan dapat berujung pada kematian.
Artinya, perburuan bukan hanya mengurangi jumlah individu yang hidup di alam, tetapi burung yang ditangkap pun belum tentu mampu bertahan hidup lama dalam pemeliharaan.
Dari Gunung Pangrango, Kini Sulit Ditemukan
Ekek Sunda merupakan burung yang hidup di kawasan hutan pegunungan dan dataran tinggi.
Habitatnya berada pada ketinggian sekitar 500 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut, terutama di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.
Gunung Pangrango menjadi salah satu kawasan yang secara historis dikenal sebagai habitat burung tersebut.
Namun, ketika burung endemik yang sebelumnya hidup di suatu kawasan semakin sulit ditemukan, kondisi tersebut menjadi peringatan serius terhadap keberlangsungan populasinya.
Kehilangan satu spesies dari habitat alaminya bukan hanya berarti kehilangan satu jenis burung.
Setiap satwa merupakan bagian dari jaringan kehidupan dalam sebuah ekosistem. Ketika satu spesies menghilang, hubungan ekologis yang telah terbentuk selama waktu yang sangat panjang juga dapat terganggu.
Si “Paruh Gincu” dari Jawa Barat
Ekek Sunda memiliki penampilan yang sangat khas.
Tubuhnya didominasi warna hijau cerah, sementara paruh dan kakinya berwarna merah terang. Pada bagian sekitar mata terdapat garis berwarna hitam yang terlihat menyerupai topeng.
Ukuran tubuhnya sekitar 32 sentimeter.
Paruh merahnya yang mencolok membuat burung tersebut juga dikenal dengan julukan “si paruh gincu.”
Di habitat alaminya, Ekek Sunda mengonsumsi berbagai jenis hewan kecil seperti jangkrik, kecoa, ulat, hingga katak kecil.
Keunikan fisik dan perilakunya membuat burung ini sebenarnya memiliki potensi besar menjadi salah satu simbol keanekaragaman hayati Jawa Barat.
Tony bahkan menilai Ekek Sunda dapat menjadi maskot Jawa Barat, berdampingan dengan satwa khas lainnya seperti Surili dan Macan Kumbang.
Empat Pasang Dikembangbiakkan
Di tengah kondisi populasinya yang mengkhawatirkan, masih terdapat harapan untuk mengembalikan Ekek Sunda ke habitat alaminya.
Taman Safari Indonesia saat ini memiliki empat pasang Ekek Sunda.
Burung-burung tersebut berasal dari donasi masyarakat dan kemudian dikembangbiakkan sebagai bagian dari upaya konservasi.
Rencananya, hasil pengembangbiakan tersebut akan diarahkan untuk dilepasliarkan kembali ke kawasan Gunung Pangrango.
Upaya seperti ini menjadi penting karena konservasi satwa yang populasinya sudah sangat sedikit membutuhkan kombinasi antara perlindungan habitat, pencegahan perburuan, pengembangbiakan, dan pelepasliaran yang dilakukan secara hati-hati.
Pelepasliaran juga bukan sekadar membuka kandang dan membiarkan satwa kembali ke alam. Kondisi habitat, ketersediaan makanan, keamanan kawasan, kemampuan satwa bertahan hidup, hingga ancaman perburuan harus diperhitungkan.
Pelepasliaran Saja Tidak Cukup
Mengembangbiakkan Ekek Sunda merupakan langkah penting, tetapi pekerjaan konservasi tidak berhenti sampai di sana.
Jika burung berhasil dikembangbiakkan dan dilepaskan, sementara perburuan masih berlangsung, maka siklus ancaman dapat kembali terjadi.
Karena itu, perlindungan Ekek Sunda harus dilakukan dari dua arah sekaligus: menambah kembali populasinya dan menghilangkan ancaman yang membuat populasinya berkurang.
Pengawasan terhadap perburuan dan perdagangan satwa liar perlu diperkuat. Edukasi kepada masyarakat dan komunitas penghobi burung juga tidak kalah penting.
Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua burung yang memiliki suara indah harus berakhir di dalam sangkar.
Untuk spesies yang berada di ambang kepunahan, membiarkannya hidup dan berkembang biak di habitat alami justru jauh lebih berharga.
Ketika Hutan Kehilangan Suaranya
Kisah Ekek Sunda menunjukkan sebuah ironi dalam hubungan manusia dengan satwa liar.
Manusia mengagumi keindahan bulunya.
Manusia menyukai suaranya.
Namun, keinginan untuk memiliki keindahan tersebut justru dapat menjadi salah satu penyebab burung itu menghilang dari alam.
Bayangkan sebuah hutan yang dahulu menjadi rumah bagi Ekek Sunda. Pepohonannya mungkin masih berdiri, udara masih sejuk, dan jalur-jalur hutan masih terlihat sama.
Tetapi ada sesuatu yang hilang: suara burung yang dahulu menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
Inilah mengapa kepunahan tidak selalu dimulai dengan hilangnya sebuah hutan secara keseluruhan.
Kadang-kadang, kepunahan berlangsung perlahan. Satu burung ditangkap, kemudian satu lagi. Populasi terus berkurang sampai suatu hari masyarakat baru menyadari bahwa satwa yang dahulu biasa ditemukan ternyata sudah tidak terdengar lagi.
Ekek Sunda kini berada pada titik yang sangat menentukan.
Empat pasang burung yang sedang dikembangbiakkan memberikan harapan bahwa suatu hari “si paruh gincu” dapat kembali terbang bebas di Gunung Pangrango.
Namun, keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada mereka yang mengembangbiakkan satwa.
Masyarakat juga memiliki pilihan sederhana: membiarkan burung tetap berada di hutan, bukan memindahkan keindahannya ke dalam sangkar.
Sebab suara burung paling indah bukanlah yang terdengar dari kandang di halaman rumah.
Suara paling berharga adalah suara yang tetap terdengar dari hutan tempat mereka seharusnya hidup.
https://www.antaranews.com/berita/5706753/tsi-sebut-burung-ekek-keling-sunda-nyaris-punah



