Berita

Pendaki Bersihkan Sampah di Gunung Seulawah, Tiga Kantong Besar Dibawa Turun

Belasan pendaki yang tergabung dalam Mapala Leuser Universitas Syiah Kuala dan aktivis lingkungan dari Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) melakukan aksi bersih-bersih sampah di jalur pendakian Gunung Seulawah, Kabupaten Aceh Besar.

Aksi tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap kondisi jalur pendakian yang semakin ramai dikunjungi masyarakat.

Ketua Umum Mapala Leuser Universitas Syiah Kuala, Rafly, mengatakan kegiatan dilakukan ketika rombongan turun dari puncak Gunung Seulawah.

Dalam perjalanan tersebut, para peserta berhasil mengumpulkan tiga kantong besar sampah yang ditemukan di sepanjang jalur.

Sampah Dikumpulkan Saat Turun dari Puncak

Aksi bersih-bersih dilakukan pada Minggu, 13 September.

Sebanyak 15 orang peserta dan seorang pemandu terlibat dalam kegiatan tersebut.

Tujuh peserta berasal dari Mapala Leuser, sementara delapan lainnya merupakan aktivis lingkungan dari Yayasan HAkA.

Saat menuruni jalur pendakian, mereka menemukan berbagai sampah yang ditinggalkan pendaki.

Sebagian besar berupa:

  • plastik,
  • kaleng,
  • bungkus makanan ringan,
  • serta botol air mineral.

Seluruh sampah tersebut kemudian dikumpulkan dan dibawa turun dari gunung.

Gunung Seulawah Semakin Populer sebagai Jalur Pendakian

Gunung Seulawah berada di wilayah Kecamatan Seulimeum dan Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar.

Gunung api ini memiliki ketinggian sekitar 1.726 meter di atas permukaan laut.

Gunung Seulawah menjadi salah satu tujuan pendakian yang cukup populer di Aceh.

Namun meningkatnya aktivitas pendakian juga membawa tantangan baru.

Salah satunya adalah sampah yang ditinggalkan pengunjung.

Semakin banyak orang datang, semakin besar pula potensi peningkatan sampah apabila tidak disertai perilaku bertanggung jawab.

Sampah di Gunung Bukan Persoalan Kecil

Satu bungkus makanan mungkin terlihat sepele.

Namun jika ratusan pendaki melakukan hal yang sama, jumlahnya dapat menjadi sangat besar.

Masalah semakin serius karena sebagian besar sampah pendakian berasal dari material yang sulit terurai, terutama plastik dan kaleng.

Material tersebut dapat bertahan sangat lama di lingkungan.

Di kawasan pegunungan, sampah juga lebih sulit ditangani karena tidak tersedia sistem pengangkutan seperti di perkotaan.

Akibatnya, sampah yang ditinggalkan dapat terus menumpuk.

Plastik Bisa Bertahan Lama di Lingkungan

Plastik memiliki karakter ringan dan tahan lama.

Karakter tersebut membuatnya sangat berguna sebagai kemasan, tetapi juga menjadi masalah ketika dibuang sembarangan.

Di alam, plastik tidak mudah terurai secara biologis.

Seiring waktu, material dapat pecah menjadi fragmen yang semakin kecil.

Karena itu, prinsip terbaik ketika melakukan kegiatan di alam adalah sederhana:

apa pun yang dibawa naik, harus dibawa turun kembali.

Leave No Trace dalam Aktivitas Pendakian

Dalam kegiatan alam bebas dikenal prinsip Leave No Trace.

Intinya adalah meminimalkan dampak terhadap lingkungan.

Pendaki diharapkan tidak meninggalkan jejak yang merusak alam.

Salah satu prinsip paling mendasar adalah membawa kembali seluruh sampah.

Bungkus makanan, botol, kaleng, tisu, dan berbagai barang pribadi harus kembali turun bersama pendaki.

Gunung bukan tempat pembuangan sampah.

Sampah Bisa Mengganggu Satwa

Sampah di kawasan pegunungan tidak hanya mengganggu pemandangan.

Satwa liar juga dapat terdampak.

Bau makanan dapat menarik satwa mendekati jalur pendakian atau area perkemahan.

Beberapa satwa bahkan dapat memakan plastik karena mengira material tersebut adalah makanan.

Selain membahayakan satwa, kondisi ini dapat mengubah perilaku alami mereka.

Karena itu, menjaga kebersihan jalur pendakian juga merupakan bagian dari perlindungan ekosistem.

Kaleng dan Plastik Memiliki Risiko Berbeda

Kaleng bekas minuman atau makanan dapat memiliki bagian tajam yang berisiko melukai manusia maupun satwa.

Sementara plastik dapat terbawa angin atau air menuju kawasan lain.

Saat hujan deras, sampah ringan dapat masuk ke aliran air.

Pada akhirnya, sampah dari gunung dapat berpindah menuju sungai dan lingkungan di bagian hilir.

Artinya, sampah yang dibuang di jalur pendakian tidak selalu berhenti di gunung.

Aksi Bersih Gunung Penting, tetapi Pencegahan Lebih Penting

Kegiatan yang dilakukan Mapala Leuser dan HAkA menunjukkan pentingnya aksi langsung dalam menjaga kawasan pendakian.

Namun kegiatan bersih-bersih tidak seharusnya menjadi satu-satunya solusi.

Masalah utama harus dicegah dari sumbernya.

Jika setiap pendaki membawa turun sampah masing-masing, kebutuhan untuk melakukan pembersihan besar dapat berkurang.

Dengan kata lain:

pendaki terbaik bukan hanya mereka yang mampu mencapai puncak, tetapi juga mereka yang meninggalkan gunung dalam kondisi tetap bersih.

Edukasi Pendaki Perlu Diperkuat

Pengelola kawasan maupun komunitas pendaki dapat memperkuat edukasi mengenai pengelolaan sampah.

Informasi dapat diberikan sebelum pendakian dimulai.

Misalnya melalui papan informasi, briefing, media sosial, atau petugas registrasi.

Pendaki perlu memahami sejak awal bahwa mereka bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan sendiri.

Sistem Check-In dan Check-Out Sampah

Beberapa kawasan wisata alam mulai menerapkan konsep pengawasan barang bawaan.

Pendaki dapat mencatat jenis kemasan yang dibawa saat masuk.

Ketika turun, sampah atau kemasan tersebut diperiksa kembali.

Pendekatan seperti ini dapat meningkatkan tanggung jawab pengunjung.

Namun sistem tersebut tetap membutuhkan pengelolaan yang baik agar tidak menjadi sekadar administrasi.

Komunitas Pendaki Punya Peran Besar

Komunitas pencinta alam memiliki posisi strategis dalam membangun budaya pendakian bertanggung jawab.

Mereka tidak hanya dapat melakukan aksi bersih gunung.

Komunitas juga dapat menjadi contoh.

Ketika pendaki berpengalaman menunjukkan kebiasaan membawa kembali sampah, pendaki baru lebih mudah mengikuti.

Budaya seperti ini dapat menyebar melalui komunitas.

Gunung Bukan Tempat untuk Meninggalkan Jejak Sampah

Mendaki gunung sering dianggap sebagai cara untuk menikmati keindahan alam.

Namun menikmati alam juga membawa tanggung jawab untuk menjaganya.

Tidak masuk akal jika seseorang datang untuk menikmati pemandangan yang bersih, tetapi kemudian meninggalkan sampah setelah pergi.

Karena itu, etika pendakian seharusnya sederhana:

datang membawa perlengkapan, pulang membawa sampah.

Sampah Bisa Mengurangi Kualitas Wisata Alam

Kawasan pendakian yang dipenuhi sampah akan kehilangan daya tarik.

Pengunjung berikutnya tidak lagi menikmati pemandangan alami, tetapi melihat botol plastik, bungkus makanan, dan kaleng berserakan.

Jika kondisi terus memburuk, citra kawasan wisata juga dapat terdampak.

Menjaga kebersihan berarti sekaligus menjaga nilai ekologis dan potensi wisata.

Tiga Kantong Sampah adalah Pengingat

Tiga kantong besar sampah yang dikumpulkan oleh para relawan menunjukkan bahwa persoalan ini nyata.

Jumlah tersebut berasal dari satu aksi dan satu jalur pendakian.

Bayangkan jika tidak ada yang mengambilnya.

Sampah akan tetap berada di gunung dan kemungkinan terus bertambah seiring datangnya pendaki baru.

Karena itu, aksi seperti yang dilakukan Mapala Leuser dan HAkA memiliki nilai penting sebagai kampanye lingkungan.

Jangan Tinggalkan Sampah di Gunung Seulawah

Rafly mengajak masyarakat yang mendaki Gunung Seulawah untuk tidak meninggalkan sampah, khususnya material yang sulit terurai seperti plastik dan kaleng.

Bungkus makanan dan minuman yang dibawa naik harus dibawa kembali ketika turun.

Pesannya sederhana:

“Jangan tinggalkan sampah di Gunung Seulawah.”

Ajakan tersebut menjadi semakin relevan karena Gunung Seulawah kini menjadi salah satu tujuan pendakian favorit.

Semakin banyak pengunjung berarti semakin besar tanggung jawab bersama untuk menjaganya.

Mendaki dengan Bertanggung Jawab

Pendakian tidak seharusnya hanya tentang mencapai puncak.

Ada tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga jalur, hutan, sumber air, dan ekosistem yang dilewati.

Prestasi pendakian seharusnya tidak diukur hanya dari seberapa tinggi seseorang berhasil naik.

Namun juga dari seberapa kecil jejak yang ditinggalkan setelah turun.

Aksi Mapala Leuser dan HAkA di Gunung Seulawah memberikan contoh sederhana bahwa menjaga alam dapat dimulai dari tindakan paling mendasar:

ambil sampah yang kita temukan, dan jangan pernah meninggalkan sampah yang kita bawa.

Karena gunung yang bersih bukan hanya tanggung jawab pengelola.

Ia adalah tanggung jawab setiap orang yang datang untuk menikmatinya.

https://www.antaranews.com/berita/5740487/belasan-pendaki-bersihkan-sampah-di-jalur-pendakian-gunung-seulawah

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO