Karhutla Picu 1.700 Kematian, Polusi Udara Harian Ternyata Lebih Mematikan

Kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Analisis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) memperkirakan paparan asap karhutla berkontribusi terhadap sekitar 1.700 kematian pada Agustus 2026.
Namun, temuan yang lebih mengkhawatirkan adalah polusi udara dari sumber non-kebakaran justru diperkirakan menyebabkan sekitar 2.000 kematian pada bulan yang sama. Sumber polusi tersebut terutama berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil, industri, transportasi, serta berbagai aktivitas pembakaran lainnya.
Secara keseluruhan, sekitar 3.700 kematian terkait polusi udara diperkirakan terjadi di 15 provinsi yang paling terdampak sepanjang Agustus 2026.
Pulau Jawa mencatat jumlah kematian absolut tertinggi, hampir 1.600 kasus. Sebagian besar dikaitkan dengan polusi udara non-kebakaran yang terjadi sepanjang tahun. Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Banten termasuk wilayah dengan dampak besar karena jumlah penduduk yang tinggi serta aktivitas industri dan transportasi yang padat.
Situasi berbeda terlihat di Kalimantan. Risiko kematian per 100.000 penduduk di sejumlah provinsi diperkirakan jauh lebih tinggi, terutama akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan.
Konsentrasi partikel halus PM2.5 di Kalimantan juga mengalami peningkatan tajam sepanjang Agustus. Pada beberapa periode, konsentrasinya mencapai tingkat yang sangat berbahaya bagi kesehatan.
Pada 18 Agustus 2026, lebih dari 41 juta penduduk Indonesia diperkirakan terpapar kualitas udara dalam kategori tidak sehat atau lebih buruk. Kondisi ini menunjukkan betapa luasnya dampak pencemaran udara terhadap masyarakat.
Yang perlu menjadi perhatian, kebakaran hutan bukan satu-satunya sumber masalah. Bahkan ketika tidak ada kabut asap, masyarakat tetap terpapar polusi dari pembangkit listrik, kendaraan bermotor, industri, dan berbagai aktivitas pembakaran.
Karena itu, perbaikan kualitas udara tidak cukup hanya dengan memadamkan kebakaran hutan. Pemerintah juga perlu memperkuat pengendalian emisi industri, mendorong penggunaan energi bersih, memperbaiki transportasi publik, serta meningkatkan sistem pemantauan kualitas udara.
Udara bersih tidak seharusnya hanya menjadi perhatian ketika langit tertutup kabut asap. Ancaman terbesar justru bisa berasal dari polusi yang kita hirup setiap hari tanpa terlihat.
Sumber: Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA)
https://energyandcleanair.org/indonesias-fires-led-to-1700-deaths-in-august-but-regular-air-pollution-even-more/




