Pesan

Lindungi Satwa Liar, Bukan Sekadar Membangun Data Center: Kemajuan Digital Harus Berjalan Bersama Konservasi Alam

Di tengah perlombaan membangun infrastruktur untuk kecerdasan buatan dan ekonomi digital, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: teknologi membutuhkan ruang, energi, dan sumber daya alam. Pembangunan pusat data tidak seharusnya mengorbankan hutan dan habitat satwa liar.

Seekor anak rusa yang berbaring di padang rumput dengan latar hutan dan cahaya matahari senja menjadi pusat perhatian dalam ilustrasi yang dibagikan oleh akun IIA Environment and Climate di LinkedIn. Di bagian bawahnya tertulis pesan tegas: “Protect Wildlife, Not Data Centers.”

Pesan tersebut sederhana, tetapi menyentuh persoalan yang semakin relevan. Ketika dunia berlomba mengembangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), komputasi awan, dan berbagai layanan digital, kebutuhan terhadap pusat data terus meningkat. Infrastruktur ini menjadi fondasi bagi aktivitas digital modern, tetapi pembangunannya juga membawa konsekuensi terhadap penggunaan lahan, energi, air, dan ekosistem.

Pertanyaannya bukan apakah manusia membutuhkan pusat data. Infrastruktur digital memang semakin penting bagi kehidupan dan perekonomian. Persoalannya adalah bagaimana membangunnya tanpa mengorbankan keanekaragaman hayati dan ruang hidup satwa liar.

Pusat data bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan ruang hidup

Pusat data membutuhkan lahan yang cukup luas untuk bangunan server, sistem pendingin, gardu listrik, jaringan transmisi, dan infrastruktur pendukung. Kebutuhan tersebut dapat memicu perubahan penggunaan lahan, terutama ketika pengembangan fasilitas dilakukan di kawasan yang belum memiliki infrastruktur memadai.

Jika pembangunan berlangsung di dekat hutan, lahan basah, sungai, atau habitat satwa, dampaknya dapat melampaui batas tapak proyek. Pembukaan lahan dan pembangunan akses jalan berpotensi memecah habitat, mengganggu jalur pergerakan satwa, mengubah tata air, serta meningkatkan tekanan terhadap ekosistem di sekitarnya.

Ancaman terhadap satwa liar juga tidak selalu muncul dalam bentuk hilangnya hutan secara langsung. Perubahan kualitas air, kebisingan, pencahayaan malam, aktivitas konstruksi, dan gangguan terhadap sumber pakan dapat memengaruhi kehidupan satwa. Untuk spesies yang memiliki wilayah jelajah luas atau bergantung pada koridor ekologis tertentu, perubahan kecil pada bentang alam dapat menimbulkan konsekuensi yang lebih besar.

Karena itu, pembangunan pusat data perlu dinilai berdasarkan dampak ekologis secara menyeluruh, bukan sekadar luas lahan yang digunakan atau pemenuhan persyaratan administratif.

Jejak lingkungan AI tidak berhenti pada konsumsi listrik

Persoalan lingkungan pusat data juga berkaitan dengan kebutuhan energi dan air. International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi listrik pusat data global mencapai sekitar 415 TWh pada 2024 dan dapat meningkat menjadi sekitar 945 TWh pada 2030. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh meningkatnya kebutuhan komputasi, termasuk untuk pengembangan dan penggunaan AI. IEA+1

Di balik kebutuhan listrik tersebut terdapat konsekuensi terhadap penggunaan sumber daya alam. Pembangkit listrik membutuhkan lahan dan sumber daya, sementara teknologi pendinginan pusat data dapat memerlukan air dalam jumlah besar. IEA memperkirakan konsumsi air global yang berkaitan dengan pusat data dapat meningkat dari sekitar 560 miliar liter per tahun menjadi 1,2 triliun liter pada 2030 dalam skenario dasar yang dibahas dalam laporannya. Konsumsi tersebut mencakup penggunaan langsung untuk pendinginan, kebutuhan air dalam penyediaan energi, dan proses manufaktur semikonduktor. BUILD UP

Dampak terhadap ekosistem air juga mulai menjadi perhatian penelitian ilmiah. Sebuah kajian yang terbit pada Februari 2026 mengidentifikasi sejumlah jalur risiko pusat data terhadap keanekaragaman hayati air tawar, termasuk pengambilan air untuk pendinginan dan perubahan pola operasi pembangkit listrik. Kajian ini menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk mengukur dampak tersebut secara lebih terperinci. ScienceDirect

Dengan demikian, jejak ekologis AI tidak dapat dinilai hanya dari efisiensi perangkat lunak atau kemampuan teknologi mengurangi pekerjaan manusia. Infrastruktur fisik yang menopangnya juga harus diperhitungkan.

Memilih lokasi pembangunan menjadi keputusan penting

Salah satu langkah paling efektif untuk mengurangi dampak pembangunan pusat data adalah memastikan lokasi proyek tidak berada di kawasan yang memiliki nilai ekologis tinggi.

Kawasan hutan alam, habitat spesies terancam, lahan basah, koridor satwa, dan daerah resapan air perlu menjadi pertimbangan utama dalam proses pemilihan lokasi. Pengembang juga perlu mengutamakan lahan yang telah mengalami gangguan atau kawasan industri yang memiliki infrastruktur pendukung, dibandingkan membuka kawasan alami yang masih berfungsi secara ekologis.

Pendekatan tersebut sejalan dengan rekomendasi Bipartisan Policy Center yang mendorong prioritas pembangunan pusat data pada lahan brownfield, kawasan industri yang telah digunakan, atau lokasi yang sudah memiliki akses listrik, air, dan jaringan komunikasi. Prinsipnya adalah membangun dengan memanfaatkan infrastruktur yang tersedia sebelum mengubah kawasan hijau menjadi kawasan industri baru. Bipartisan Policy Center

Selain itu, kajian lingkungan harus dilakukan sejak tahap awal perencanaan. Identifikasi spesies, pemetaan habitat, analisis koridor ekologis, kajian ketersediaan air, serta penilaian dampak kumulatif perlu menjadi bagian dari keputusan investasi. Apabila suatu lokasi memiliki nilai konservasi tinggi, menghindari pembangunan merupakan pilihan yang lebih bertanggung jawab daripada mencoba mengganti kerusakan ekologis melalui program kompensasi.

Pelajaran bagi Indonesia: jangan sampai kawasan alami menjadi korban ekonomi digital

Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi, mulai dari hutan tropis, lahan gambut, mangrove, kawasan karst, hingga ekosistem sungai dan pesisir. Berbagai ekosistem tersebut menjadi habitat bagi satwa liar sekaligus menyediakan jasa lingkungan yang menopang kehidupan masyarakat.

Dalam konteks ekspansi pusat data, pemerintah dan investor perlu memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi digital tidak mendorong tekanan baru terhadap kawasan-kawasan tersebut. Ketersediaan lahan yang luas atau kedekatan dengan jaringan listrik tidak boleh menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan lokasi pembangunan.

Perencanaan pusat data perlu terintegrasi dengan tata ruang, perlindungan kawasan lindung, pengelolaan daerah aliran sungai, serta strategi konservasi keanekaragaman hayati. Penilaian lingkungan juga harus memperhitungkan infrastruktur pendukung seperti pembangkit listrik, jaringan transmisi, jalan akses, dan sistem penyediaan air.

Transparansi menjadi hal yang tidak kalah penting. Masyarakat perlu mengetahui dari mana listrik dan air diperoleh, berapa besar sumber daya yang digunakan, bagaimana dampak terhadap lingkungan dipantau, serta siapa yang bertanggung jawab apabila terjadi kerusakan.

Pusat data yang dibangun dengan standar teknologi tinggi belum tentu otomatis menjadi infrastruktur berkelanjutan. Keberlanjutannya harus dibuktikan melalui pengelolaan sumber daya, perlindungan ekosistem, dan tanggung jawab terhadap masyarakat di sekitar lokasi.

Kemajuan teknologi tidak boleh mengalahkan kepentingan kehidupan

AI dan ekonomi digital akan terus berkembang. Keduanya memiliki potensi besar untuk mendukung inovasi, meningkatkan produktivitas, memperbaiki layanan publik, bahkan membantu pemantauan lingkungan. Namun, manfaat tersebut tidak boleh membuat manusia mengabaikan konsekuensi ekologis dari infrastruktur yang dibangun untuk menopangnya.

Tidak semua pembangunan pusat data harus ditolak. Yang perlu ditolak adalah pendekatan pembangunan yang menempatkan investasi dan kapasitas komputasi di atas keselamatan ekosistem. Teknologi seharusnya berkembang dengan menghormati batas daya dukung lingkungan, bukan menjadikan alam sebagai sumber daya yang dapat dikorbankan tanpa perhitungan.

Pesan dalam ilustrasi anak rusa tersebut mengingatkan kita bahwa hutan bukan sekadar lahan kosong yang menunggu untuk dikembangkan. Hutan adalah rumah bagi satwa liar, penyimpan karbon, pengatur tata air, dan bagian dari sistem kehidupan yang jauh lebih besar daripada satu fasilitas industri.

Kita membutuhkan teknologi untuk membangun masa depan, tetapi kita juga membutuhkan alam agar masa depan itu tetap memiliki kehidupan. Lindungi satwa liar, bukan sekadar memperbanyak pusat data.

Referensi utama

  1. IIA Environment and Climate. Unggahan LinkedIn dengan ilustrasi Protect Wildlife, Not Data Centers. Lihat unggahan.
  2. International Energy Agency (IEA). Energy and AI – Executive Summary. Baca laporan.
  3. International Energy Agency (IEA). Energy and AI, pembahasan kebutuhan air pusat data. Baca laporan.
  4. Data Centers: An Emerging Threat to Freshwater Biodiversity in the United States (2026). Baca penelitian.
  5. Bipartisan Policy Center. Key Considerations for Data Center Development. Baca kajian.

Konten Terkait

Baca juga
Close
Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO