Berita

Karhutla di Kalimantan Tengah Kembali Meningkat: 821 Titik Panas dan 1.641 Hektare Lahan dalam Penanganan

Peningkatan titik panas dan luas kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah menjadi peringatan bahwa ancaman karhutla belum berakhir. Meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah, kebakaran di lahan gambut masih sulit dikendalikan karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 5 November 2026, Kalimantan Tengah (Kalteng) menjadi salah satu wilayah dengan peningkatan karhutla paling menonjol dibandingkan provinsi lain yang berada dalam pemantauan nasional.

Dalam laporan tersebut, BNPB mencatat 821 titik panas di Kalimantan Tengah, meningkat 93 persen dibandingkan hari sebelumnya. Sementara itu, luas lahan yang sedang dalam penanganan mencapai 1.641 hektare, atau meningkat 147 persen.

Secara nasional, terdapat 1.468 titik panas dan sekitar 2.645 hektare lahan yang sedang ditangani oleh satuan tugas gabungan. Data ini menunjukkan bahwa meskipun sejumlah wilayah mulai mengalami penurunan aktivitas kebakaran, ancaman karhutla masih memerlukan perhatian serius. ANTARA News+1

Kalimantan Tengah Menjadi Wilayah dengan Peningkatan Tertinggi

Peningkatan karhutla tidak hanya terjadi di Kalimantan Tengah. BNPB juga mencatat kenaikan titik api di Kalimantan Timur sebesar 53 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Sebaliknya, beberapa wilayah seperti Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku menunjukkan penurunan aktivitas kebakaran dalam kisaran 20–50 persen.

Menurut BNPB, kondisi tersebut turut dipengaruhi oleh hujan yang mulai mengguyur sejumlah kawasan terdampak. Namun, penurunan aktivitas kebakaran di suatu wilayah tidak selalu berarti seluruh sumber api telah padam. ANTARA News

Mengapa Hujan Belum Tentu Menghentikan Kebakaran Gambut?

Salah satu faktor yang membuat karhutla di Kalimantan Tengah sulit dikendalikan adalah karakteristik lahan gambut. Berbeda dengan kebakaran di permukaan tanah mineral, api pada lahan gambut dapat merambat melalui lapisan bahan organik di bawah permukaan tanah.

Ketika hujan turun, api yang terlihat di permukaan mungkin berhasil dipadamkan. Namun, bara di dalam lapisan gambut masih dapat bertahan dan kembali menyala ketika kondisi menjadi kering.

Fenomena ini menjelaskan mengapa peningkatan titik panas masih dapat terjadi meskipun beberapa wilayah sebelumnya telah menerima hujan. Pada awal November 2026, BNPB juga menjelaskan bahwa bara di bawah permukaan gambut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kebakaran kembali meningkat di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. detiknews+1

Kebakaran gambut juga memiliki dampak lingkungan yang lebih luas, antara lain:

  1. Melepaskan cadangan karbon. Gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar. Ketika terbakar, karbon yang tersimpan dilepaskan ke atmosfer dan memperburuk perubahan iklim.
  2. Merusak ekosistem hutan. Api dapat menghancurkan vegetasi, mengganggu habitat satwa liar, dan menghambat regenerasi alami.
  3. Mengganggu tata air. Kerusakan lapisan gambut dan perubahan kondisi hidrologis dapat membuat kawasan semakin rentan mengalami kekeringan.
  4. Menghasilkan kabut asap. Partikel halus dari kebakaran dapat menyebar ke permukiman dan menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan.

Penanganan Membutuhkan Lebih dari Sekadar Pemadaman

Menghadapi kondisi tersebut, penanganan karhutla harus dilakukan secara menyeluruh. Pemadaman api di permukaan perlu diikuti dengan pembasahan lahan, penyisiran bara, pendinginan, dan pemantauan berulang untuk memastikan tidak ada sumber api yang tertinggal.

BNPB bersama Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, pemerintah daerah, serta masyarakat terus melakukan patroli dan operasi pemadaman di sejumlah wilayah.

Pada 5 November, Kementerian Kehutanan juga melaporkan bahwa pemadaman masih berlangsung di Tanjung Taruna dan Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau. Kedua lokasi tersebut berada di lahan gambut dengan tipe kebakaran permukaan maupun bawah permukaan. Kehutanan

Selain tindakan darurat, pencegahan jangka panjang perlu mencakup pengelolaan tata air gambut, pemantauan tinggi muka air, perlindungan kawasan hutan, dan pengawasan aktivitas pembukaan lahan. Tanpa upaya tersebut, kawasan yang telah berhasil dipadamkan berisiko kembali terbakar ketika musim kering datang.

Karhutla Juga Menjadi Ancaman bagi Kesehatan Masyarakat

Dampak kebakaran tidak berhenti di lokasi hutan yang terbakar. Asap dapat menyebar ke kawasan permukiman, pusat kegiatan ekonomi, sekolah, dan fasilitas umum.

Partikel halus PM2,5 yang terkandung dalam asap dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan tersebut berpotensi memperburuk asma, meningkatkan risiko gangguan pernapasan, serta berdampak terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan melaporkan lebih dari 401 ribu kasus ISPA di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota terdampak karhutla hingga awal November 2026. Angka tersebut menunjukkan pentingnya memperkuat pelayanan kesehatan dan perlindungan masyarakat bersamaan dengan operasi pemadaman.

Masyarakat di wilayah terdampak perlu mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker respirator yang sesuai, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau gejala berat lainnya.

Jangan Biarkan Hutan yang Terbakar Kehilangan Masa Depannya

Peningkatan karhutla di Kalimantan Tengah menjadi pengingat bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan tidak dapat diselesaikan hanya dengan memadamkan api yang terlihat. Ancaman sebenarnya dapat tersembunyi di bawah permukaan gambut dan kembali muncul ketika kondisi lingkungan mendukung.

Pengendalian kebakaran harus berjalan bersama perlindungan ekosistem, pemulihan kawasan terdampak, pengawasan aktivitas manusia, dan keterlibatan masyarakat. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa kawasan bekas kebakaran tidak berubah menjadi ruang untuk aktivitas ilegal atau pembukaan lahan yang merusak.

Hutan gambut bukan sekadar hamparan tanah yang ditumbuhi pepohonan. Di dalamnya tersimpan cadangan karbon, sumber kehidupan berbagai satwa, dan sistem alami yang membantu menjaga keseimbangan lingkungan. Ketika gambut terbakar, yang hilang bukan hanya hutan hari ini, tetapi juga bagian penting dari perlindungan lingkungan untuk masa depan.

Referensi utama

  1. ANTARA – BNPB: Titik Panas dan Luas Karhutla di Kalteng Meningkat, 5 November 2026
  2. Kementerian Kehutanan – Hotspot Nasional Naik Jadi 338 Titik, Menhut Perkuat Penanganan Kalteng, 6 November 2026
  3. detikNews – Sempat Berkurang karena Hujan, Luas Karhutla di Kalteng Meningkat Lagi, 3 November 2026

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO