Karhutla Bukan Hanya Membakar Hutan, tetapi Juga Mengancam Kesehatan Jutaan Warga

Ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi, dampaknya tidak berhenti pada pepohonan yang hangus atau habitat satwa yang rusak. Kabut asap yang menyebar ke permukiman dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Lonjakan ratusan ribu kasus ISPA di sejumlah wilayah Indonesia menunjukkan bahwa karhutla juga harus dipandang sebagai krisis kesehatan publik.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sering kali lebih banyak diberitakan dari sisi luas wilayah yang terbakar, jumlah titik api, dan upaya pemadaman. Padahal, ada dampak lain yang tidak kalah mengkhawatirkan, yaitu paparan asap yang harus dihirup masyarakat setiap hari selama kebakaran berlangsung.
Asap karhutla mengandung partikel halus, terutama PM2,5, yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Paparan dalam intensitas tinggi maupun jangka panjang dapat memperburuk penyakit pernapasan, meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, serta menimbulkan iritasi pada mata dan saluran pernapasan.
Situasi ini kembali menjadi perhatian setelah anggota Komisi IX DPR RI, Asep Romy Romaya, meminta Kementerian Kesehatan memperkuat layanan medis bagi masyarakat terdampak karhutla. Permintaan tersebut disampaikan menyusul tingginya laporan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di berbagai wilayah Indonesia.
Lebih dari 401 Ribu Kasus ISPA di Tujuh Provinsi
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang dikutip ANTARA pada 5 November 2026, tercatat 401.586 kasus ISPA di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota terdampak karhutla. Bahkan, terdapat tambahan 3.906 kasus baru hanya dalam satu hari berdasarkan pemantauan yang dirujuk dalam pemberitaan tersebut.
Dari jumlah itu, kelompok balita tercatat mengalami 91.913 kasus, sedangkan kelompok lanjut usia mencapai 56.092 kasus. Ibu hamil juga termasuk kelompok yang memerlukan perhatian khusus karena paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi ibu maupun janin. ANTARA News+1
Angka tersebut memperlihatkan bahwa karhutla bukan semata persoalan lingkungan. Ketika asap menyebar hingga ke kawasan permukiman, fasilitas pendidikan, tempat kerja, dan ruang publik, dampaknya dapat menjangkau masyarakat yang bahkan tidak tinggal berdekatan dengan lokasi kebakaran.
Wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat juga masih menjadi perhatian karena tren kasus ISPA dilaporkan meningkat, meskipun beberapa daerah lain mulai menunjukkan perbaikan. Kondisi ini memperkuat kebutuhan layanan kesehatan yang tidak hanya terpusat di rumah sakit perkotaan, tetapi juga menjangkau masyarakat di wilayah terpencil.
Anak-anak, Lansia, dan Ibu Hamil Paling Membutuhkan Perlindungan
Tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap polusi udara. Anak-anak, terutama balita, masih memiliki sistem pernapasan yang berkembang sehingga lebih rentan terhadap dampak partikel halus. Pada lansia, paparan asap dapat memperburuk penyakit yang sudah ada, seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis, dan gangguan jantung.
Ibu hamil juga perlu mendapat perhatian karena kualitas udara yang buruk berpotensi memengaruhi kesehatan ibu dan perkembangan janin. Sementara itu, pekerja luar ruangan seperti petani, petugas lapangan, pengemudi, dan pekerja konstruksi memiliki risiko paparan lebih tinggi karena harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang tercemar.
Kementerian Kesehatan sebelumnya telah menginstruksikan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak untuk memberikan perlindungan ekstra kepada kelompok rentan. Upaya yang disiapkan mencakup penguatan tenaga kesehatan, penyediaan obat dan alat kesehatan, serta fasilitas ruang dengan udara lebih bersih bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Layanan Kesehatan Tidak Boleh Menunggu Warga Jatuh Sakit
Asep Romy Romaya meminta Kementerian Kesehatan memastikan ketersediaan obat-obatan, masker respirator, dan tabung oksigen di fasilitas kesehatan wilayah terdampak. Ia juga mendorong penguatan puskesmas dan rumah sakit serta penerjunan posko medis keliling ke daerah yang jauh dari akses pelayanan kesehatan.
Pendekatan tersebut penting karena masyarakat di wilayah terpencil sering menghadapi hambatan untuk memperoleh pemeriksaan dan pengobatan. Ketika gejala gangguan pernapasan muncul, jarak menuju fasilitas kesehatan, keterbatasan transportasi, dan biaya perjalanan dapat membuat penanganan terlambat.
Layanan kesehatan dalam situasi karhutla sebaiknya mencakup beberapa langkah berikut:
- Posko kesehatan dan layanan bergerak. Menjangkau desa dan permukiman yang jauh dari puskesmas, terutama ketika kabut asap berlangsung dalam waktu lama.
- Ketersediaan obat dan oksigen. Memastikan fasilitas kesehatan memiliki persediaan sesuai kebutuhan serta kemampuan menangani pasien dengan gangguan pernapasan.
- Pemeriksaan kelompok rentan. Melakukan pemantauan kesehatan balita, lansia, ibu hamil, dan warga dengan penyakit penyerta.
- Ruang dengan udara bersih. Menyediakan tempat berlindung dari paparan asap bagi masyarakat yang mengalami keluhan atau tidak memiliki ruang dengan kualitas udara memadai di rumah.
- Informasi kesehatan yang mudah diakses. Memberikan panduan mengenai kualitas udara, pembatasan aktivitas luar ruangan, penggunaan pelindung pernapasan, dan tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis.
Kemenkes juga telah menjelaskan pentingnya penggunaan masker respirator seperti N95, pengurangan aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, serta deteksi dan penanganan dini melalui fasilitas kesehatan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Masker Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Dampak Kabut Asap
Penggunaan masker respirator yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan partikel halus, tetapi bukan berarti masyarakat sepenuhnya terlindungi dari risiko kabut asap.
Masker N95 yang terpasang dengan benar dapat menyaring partikel, tetapi tidak dirancang untuk melindungi penggunanya dari semua gas berbahaya. Efektivitasnya juga bergantung pada kualitas masker dan kerapatan saat digunakan.
Karena itu, perlindungan kesehatan perlu dilakukan secara berlapis. Masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara tidak sehat, menutup celah masuknya asap, menggunakan penyaring udara dalam ruangan jika tersedia, serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah.
Apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala berat lainnya, masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit pernapasan sebaiknya mendapatkan perhatian lebih awal ketika keluhan mulai muncul.
Penanganan Karhutla Harus Berjalan Bersama Perlindungan Kesehatan
Permintaan penguatan layanan medis menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman api. Selama asap masih menyelimuti permukiman, masyarakat tetap menghadapi risiko kesehatan meskipun lokasi kebakaran berada jauh dari tempat tinggal mereka.
Pemerintah perlu mengintegrasikan data titik api, kondisi kualitas udara, dan laporan kesehatan masyarakat agar respons dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran. Daerah dengan paparan asap tinggi harus memperoleh dukungan tenaga medis, obat-obatan, fasilitas pemeriksaan, serta sarana perlindungan yang memadai.
Di sisi lain, upaya pencegahan kebakaran dan pemulihan ekosistem juga harus diperkuat. Tanpa penanganan sumber masalah, masyarakat berpotensi terus menghadapi siklus kebakaran dan kabut asap yang berulang setiap musim kemarau.
Udara Bersih adalah Hak Masyarakat
Karhutla memperlihatkan bahwa kerusakan lingkungan memiliki konsekuensi langsung terhadap kehidupan manusia. Hutan yang terbakar bukan hanya kehilangan pepohonan dan habitat satwa, tetapi juga dapat menghasilkan asap yang mengancam kesehatan masyarakat lintas wilayah.
Jumlah kasus ISPA yang dilaporkan menunjukkan betapa pentingnya menempatkan perlindungan kesehatan sebagai bagian utama dari penanganan bencana ekologis. Masyarakat tidak seharusnya dibiarkan menghadapi kabut asap tanpa akses terhadap informasi, perlindungan, dan layanan medis yang memadai.
Memadamkan api adalah langkah darurat, tetapi melindungi manusia dari dampak asap merupakan tanggung jawab yang harus berjalan sejak awal hingga kondisi benar-benar pulih. Sebab, hutan yang terbakar dapat ditanam kembali, tetapi kesehatan dan nyawa manusia tidak boleh menjadi korban yang diabaikan.
Referensi utama
- ANTARA – Anggota DPR Minta Kemenkes Perkuat Layanan Medis bagi Korban Karhutla, 5 November 2026
- Kementerian Kesehatan – Kemenkes Perkuat Perlindungan Kelompok Rentan Hadapi Karhutla, 26 Agustus 2026
- DPR RI – Yahya Zaini Minta Pemerintah Perkuat Layanan Kesehatan bagi Korban Karhutla, 12 Oktober 2026




