Berita

Ilmuwan: Skema Carbon Offset Jauhkan Cita-cita Capai Nol Emisi

Populernya skema carbon offset atau penebusan emisi yang dilakukan oleh perusahaan dinilai memperlambat upaya dunia dalam mencapai pengurangan emisi yang sesungguhnya. Lebih dari 60 ilmuwan iklim ternama menyerukan agar dunia beralih dari konsep “net zero” menuju “real zero,” yaitu penghapusan emisi secara nyata, tanpa bergantung pada kompensasi karbon. Seruan ini tercermin dalam Real Zero Pledge, yang diselenggarakan oleh Lethal Humidity Global Council, dan diikuti oleh sejumlah ilmuwan terkenal seperti Profesor Michael Mann dari University of Pennsylvania, Profesor Johan Rockstrom dari Potsdam Institute for Climate Impact Research, dan Bill Hare dari Climate Analytics.

Skema Carbon Offset: Tidak Efektif dan Menghambat Transisi Energi

Dalam perjanjian yang mereka tanda tangani, para ilmuwan menegaskan bahwa skema carbon offset yang dijalankan oleh banyak perusahaan tidak efektif dan justru menghambat upaya transisi energi global. “Definisi net zero telah bergeser dari pengurangan substansial penggunaan bahan bakar fosil menjadi terus menggunakan bahan bakar fosil namun mengeklaim bisa ‘mengimbangi’ emisi,” tulis pernyataan tersebut. Ini artinya, banyak perusahaan yang tidak benar-benar mengurangi emisi gas rumah kaca secara langsung, melainkan hanya mencoba “menebus” emisi mereka melalui berbagai mekanisme offset, seperti proyek reboisasi atau perlindungan hutan.

Konsep net zero yang sering dipahami saat ini dinilai mengabaikan bukti ilmiah bahwa pengimbangan emisi dengan penyerap karbon alami seperti hutan tidak dapat diandalkan. Para ilmuwan berpendapat bahwa penyerap karbon alami, seperti pohon dan lahan gambut, sudah semakin melemah akibat dampak perubahan iklim. Selain itu, upaya-upaya ini tidak bersifat permanen, karena saat pohon-pohon mati, karbon yang tersimpan di dalamnya akan kembali terlepas ke atmosfer.

Pergeseran Fokus dari Net Zero ke Real Zero

Ilmuwan mengusulkan pendekatan real zero sebagai solusi yang lebih efektif untuk menekan krisis iklim. Alih-alih sekadar mengimbangi emisi yang terus dihasilkan, pendekatan ini menuntut penghapusan total penggunaan bahan bakar fosil dan sumber emisi lainnya. Berdasarkan data ilmiah terkini, para ahli menyatakan bahwa dunia harus berhenti membakar bahan bakar fosil sepenuhnya pada tahun 2030 agar memiliki kesempatan untuk membatasi kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celsius.

Dalam laporan yang dilansir dari The Guardian, Profesor Katrin Meissner dari Climate Change Research Centre di University of New South Wales mengungkapkan kekhawatirannya terhadap program offset yang fokus pada reboisasi. “Banyak program penebusan emisi yang berfokus pada penanaman pohon atau membiarkan area tumbuh kembali. Kenyataannya, program-program ini tidak dapat mengunci karbon selamanya. Ketika pohon mati, karbon yang terkandung akan kembali lepas ke atmosfer,” jelasnya.

Pernyataan ini diperkuat oleh Profesor Sarah Perkins-Kirkpatrick dari Australian National University, yang menuturkan bahwa konsep net zero hanya menawarkan solusi sementara. “Net zero tidak memperbaiki masalah pada sumbernya. Ketergantungan pada penebusan emisi tanpa pengurangan emisi yang nyata berbahaya dan merugikan,” tambah Perkins-Kirkpatrick.

Risiko dan Kegagalan Skema Carbon Offset

Banyak pihak yang mendukung skema carbon offset berpendapat bahwa program ini memungkinkan perusahaan untuk mengurangi dampak emisi mereka secara tidak langsung. Namun, para ilmuwan iklim menilai bahwa pendekatan ini lebih bersifat sementara dan tidak menyelesaikan masalah pada akarnya. Mereka menyoroti bahwa banyak proyek carbon offset, terutama yang melibatkan perlindungan hutan atau penghindaran deforestasi, tidak benar-benar menurunkan jumlah emisi global. Sebaliknya, proyek-proyek ini lebih mirip dengan permainan angka yang tidak mengurangi total karbon yang dilepaskan ke atmosfer.

Profesor Bill Hare dari Climate Analytics menyatakan, “Kita harus fokus pada pengurangan emisi yang nyata, daripada terlibat dalam permainan hitung-hitungan.” Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa skema penebusan emisi justru memberi ruang bagi perusahaan untuk tetap bergantung pada bahan bakar fosil sambil tetap memenuhi target iklim mereka secara teknis, tanpa mengurangi jumlah emisi yang sebenarnya mereka hasilkan.

Seruan untuk Transisi ke Real Zero

Para ilmuwan yang menandatangani sumpah Real Zero mendesak pelaku bisnis dan pemerintah untuk segera mengadopsi target real zero. Mereka mengharapkan adanya rencana transparan dari perusahaan-perusahaan tentang bagaimana mereka akan menghentikan penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap, dengan target jauh sebelum tahun 2040.

Mereka juga mengingatkan bahwa tidak ada jalan pintas dalam menghadapi perubahan iklim. Pengurangan emisi gas rumah kaca yang nyata, yang melibatkan penghapusan penggunaan bahan bakar fosil dan transisi penuh ke energi terbarukan, adalah satu-satunya jalan untuk mencegah dampak terburuk dari pemanasan global.

Skema carbon offset yang semakin populer dinilai oleh para ilmuwan sebagai upaya yang menunda tindakan nyata dalam pengurangan emisi global. Pendekatan ini, meskipun memberikan kesan bahwa perusahaan atau negara telah mencapai target net zero, sebenarnya hanya memberikan solusi sementara yang tidak mengatasi masalah pada akarnya. Para ilmuwan menekankan pentingnya transisi ke real zero, di mana penghapusan bahan bakar fosil menjadi prioritas utama. Untuk itu, perusahaan dan pemerintah diharapkan segera mengubah pendekatan mereka dari pengimbangan emisi ke penghapusan emisi secara nyata, sebagai langkah krusial dalam melawan krisis iklim yang semakin mendesak.

Source:

https://lestari.kompas.com/read/2024/10/28/130000286/ilmuwan–skema-carbon-offset-justru-jauhkan-cita-cita-capai-nol-emisi

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO