Berita

Akankah China jadi sekutu nuklir Indonesia?

Ambisi Nuklir Indonesia, Memburu PLTN 2032 di Tengah Geopolitik

Indonesia bertekad mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertamanya pada tahun 2032 sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi sektor energi. Ambisi ini menempatkan Indonesia di garis depan pengembangan nuklir di Asia Tenggara, namun juga menghadapkan negara pada tantangan teknis dan tarik ulur geopolitik, terutama dalam pemilihan mitra asing.

Target Ambisius Indonesia

Pemerintah telah mengesahkan kebijakan yang menargetkan:

Target Kapasitas Nuklir IndonesiaJangka Waktu
250 Megawatt (MW)Beroperasi pada 2032 (PLTN perdana)
45–54 Gigawatt (GW)Kapasitas nuklir total pada 2060

Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, energi nuklir kini ditempatkan setara dengan energi terbarukan lainnya untuk menyeimbangkan dan mencapai target dekarbonisasi nasional.

Persaingan Asia Tenggara

Indonesia memimpin dalam memacu proyek nuklir di kawasan, mendahului negara-negara tetangga:

  • Vietnam: Berencana membangun dua reaktor dengan dukungan Rusia pada 2030.
  • Filipina: Menghidupkan kembali pembangkit Bataan dan bermitra dengan NuScale (AS) untuk proyek Small Modular Reactor (SMR) senilai $7,5 miliar (target operasi 2032).
  • Malaysia: Memilih opsi hati-hati, menunggu hingga 2035.

Kriteria Pemilihan Mitra Strategis

Pemilihan mitra internasional adalah kunci. Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, Syaiful Bakhri, menetapkan tujuh kriteria utama:

  1. Kesesuaian teknologi dengan kebutuhan energi nasional.
  2. Kepatuhan terhadap standar keselamatan internasional.
  3. Jaminan rantai pasok.
  4. Rekam jejak dalam rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (EPC).
  5. Peluang alih teknologi dan keterlibatan tenaga kerja lokal.
  6. Solusi pengelolaan limbah yang efisien.
  7. Kondisi finansial yang sehat dan kemampuan beradaptasi.

Desain reaktor yang dipertimbangkan adalah Generation III+ dan Small Modular Reactor (SMR), yang keunggulannya dapat dibangun dalam waktu kurang dari lima tahun.

Keunggulan Kompetitif China

China National Nuclear Corporation (CNNC) muncul sebagai salah satu kandidat terkuat, bersama Rosatom (Rusia), Rolls-Royce (Inggris), EDF (Prancis), dan NuScale (AS).

Faktor-Faktor yang Menguntungkan China:

  • Teknologi SMR: China telah mengembangkan SMR ACP100 berkapasitas 125 MW, yang telah lulus penilaian keselamatan IAEA pada 2016.
  • Rantai Pasok dan EPC: Penelitian menunjukkan China memiliki keunggulan kompetitif dalam kesiapan rantai pasok dan EPC berkat industri terintegrasi, dukungan pemerintah, desain terstandarisasi, dan konstruksi multi-unit.
  • Biaya Konstruksi: Biaya konstruksi reaktor di China adalah sekitar $3.828 per kilowatt, menjadikannya sangat kompetitif secara global (bersaing dengan Prancis dan Korea Selatan).
  • Kolaborasi Historis: BRIN dan CNNC telah menjalin kerja sama teknologi nuklir sejak 2016, berfokus pada berbagai jenis reaktor, termasuk high-temperature gas-cooled reactor (HTGR). Kemitraan ini bahkan ditingkatkan menjadi kemitraan strategis di bawah Belt and Road Initiative (BRI) China.

Strategi Mitigasi Risiko Geopolitik

Meningkatnya rivalitas AS–China dan kebijakan AS seperti “friendshoring” menimbulkan risiko geopolitik jika Indonesia terlalu bergantung pada satu negara. Oleh karena itu, Dewan Energi Nasional (DEN) menetapkan strategi:

  1. Seleksi Terbuka (Beauty Contest): Pemerintah akan mengadakan proses seleksi yang terbuka dan transparan dengan kriteria yang jelas untuk memilih mitra terbaik. Ini bertujuan untuk membatasi kerentanan geopolitik dan memastikan keputusan dibuat secara adil.
  2. Keterlibatan NEPIO: Nuclear Energy Program Implementing Organization (NEPIO), yang melibatkan banyak kementerian/lembaga, akan mengawasi pemilihan mitra, menentukan garis waktu proyek, dan melindungi proyek dari campur tangan politik.
  3. Mengundang Multipel Vendor: NEPIO akan mengundang berbagai penyedia teknologi, termasuk CNNC (China), NuScale dan Torch (AS), Rosatom (Rusia), KHNP (Korea Selatan), serta perusahaan dari Kanada dan Prancis.

Lokasi Proyek dan Kelayakan Ekonomi

Indonesia telah memprioritaskan tiga dari 28 lokasi potensial, dengan dua calon terdepan:

Lokasi PotensialKeunggulanPertimbangan Teknis
Muria (Jawa Tengah)Stabilitas geoteknik dan aktivitas manusia rendah. Cocok untuk reaktor skala besar guna memenuhi permintaan listrik Jawa dan Sumatera.SMR berpotensi menyebabkan fluktuasi pada sistem grid yang besar.
Bangka BelitungFleksibilitas untuk pengembangan bertahap menggunakan reaktor besar dan kecil. Pulau Gelasa menjadi lokasi yang sangat mungkin untuk PLTN perdana.Studi kelayakan sedang berlangsung (dilakukan oleh ThorCon dari AS dan CNNC dari China).

Kelayakan Ekonomi: Proyek ini tidak boleh membebani fiskal negara. Target tarif listrik yang dihasilkan harus lebih rendah dari biaya produksi dasar PLN, idealnya sekitar $0,07 per kWh.

Keberhasilan Indonesia dalam proyek ini tidak hanya akan memperkuat transisi energi, tetapi juga mengukuhkan posisi strategisnya di tengah persaingan teknologi nuklir global.

sumber:

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO