Bambang Patijaya: pengelolaan sampah jadi kunci ekonomi hijau, daerah perlu bangun ekosistem yang terintegrasi

Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menegaskan bahwa pengelolaan sampah merupakan salah satu pilar krusial dalam mewujudkan ekonomi hijau. Selain menjaga kelestarian lingkungan, tata kelola sampah yang tepat dinilai mampu menciptakan lapangan kerja baru dan memicu pertumbuhan sektor ekonomi sirkular.
Pernyataan tersebut disampaikan Bambang saat menjadi narasumber pada Musyawarah Wilayah (Muswil) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (23/07/2026).
Pergeseran Paradigma: Dari 3R Menuju Waste to Energy
Bambang menjelaskan bahwa pemerintah kini mulai menggeser fokus pengelolaan sampah. Selain menggalakkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R), pemerintah mendorong penerapan teknologi Waste to Energy (mengubah sampah menjadi energi listrik) guna mengatasi krisis kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
- Krisis TPA Nasional: Berdasarkan rekomendasi Komisi XII DPR kepada Menteri Lingkungan Hidup pada Februari 2025, tercatat sekitar 250 TPA di Indonesia dalam kondisi hampir penuh dan menjadi kontributor emisi gas rumah kaca yang signifikan.
- Solusi Ekonomi Sirkular: Sampah tidak lagi sekadar diangkut dan ditumpuk di TPA, melainkan dimanfaatkan secara optimal agar memiliki nilai tambah ekonomi.
Syarat Teknis Pembangunan PLTSa: Daerah Mampu vs Proyek Mangkrak
Meski teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) menjadi solusi modern, Bambang memperingatkan agar pemerintah daerah tidak terburu-buru membangunnya tanpa perhitungan yang matang.
| Kriteria Kelayakan PLTSa | Keterangan / Tantangan |
| Volume Sampah Minimum | Harus menghasilkan minimal 1.000 ton sampah/hari agar secara ekonomi layak (feasible). |
| Kota yang Memenuhi Syarat | Kota megapolitan/besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan. |
| Risiko Daerah Kecil | Jika dipaksakan tanpa pasokan sampah yang cukup, fasilitas berisiko mangkrak (menjadi monumen). |
Studi Kasus Portugal: Sampah Sebagai Komoditas Energi
Sebagai pembanding, Bambang mencontohkan Portugal yang telah mengembangkan sistem waste to energy selama belasan tahun. Fasilitas pengolahan di negara tersebut bahkan mengimpor sampah dari luar negeri untuk menjaga keberlanjutan operasional pembangkit listriknya.
Masalah Utama: Sistem Pengelolaan yang Masih Parsial
Bambang menyoroti kendala terbesar pengelolaan sampah di Indonesia, yaitu lemahnya integrasi sistem hulu-hilir.
“Edukasi memilah sampah berdasarkan warna di rumah tangga kerap menjadi sia-sia karena saat diangkut, sampah tersebut dicampur kembali ke dalam satu truk yang sama. Penanganan kita masih parsial dan belum membentuk satu ekosistem yang saling terhubung,” kritiknya.
Peluang Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat
Meskipun masih menghadapi tantangan infrastruktur, Indonesia memiliki peluang besar dalam menekan dampak limbah plastik.
- Konsumsi Plastik Per Kapita Indonesia: Sekitar 22 kg/orang/tahun.
- Pembanding (Korea Selatan): Mencapai 175 kg/orang/tahun.
Bambang mengimbau masyarakat untuk terus memperkuat budaya pengurangan sampah dari rumah tangga melalui prinsip 3R dan penggunaan kembali barang-barang yang masih layak pakai.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




