Praktik Baik

Beton yang Bisa Menjadi Habitat: Masa Depan Kota Hijau dari TU Delft

Bagaimana jika masa depan kota hijau bukan hanya tentang menambah taman, pot tanaman, atau ruang terbuka hijau?

Bagaimana jika bangunan itu sendiri bisa menjadi tempat tumbuh kehidupan?

Gagasan inilah yang sedang dikembangkan para peneliti di TU Delft, Belanda, melalui konsep bioreceptive concrete atau beton bioreseptif.

Berbeda dari beton konvensional yang cenderung menjadi permukaan keras dan tidak ramah kehidupan, beton bioreseptif dirancang agar dapat membantu organisme seperti lumut tumbuh langsung pada permukaannya.

Konsep ini membuka kemungkinan baru dalam pembangunan kota berkelanjutan: infrastruktur tidak lagi hanya menjadi benda mati, tetapi dapat berfungsi sebagai bagian dari ekosistem perkotaan.

Apa Itu Beton Bioreseptif?

Beton bioreseptif adalah material beton yang permukaannya direkayasa agar lebih cocok untuk mendukung pertumbuhan organisme tertentu, terutama lumut.

Karakteristik seperti tekstur permukaan, porositas, kemampuan menahan air, dan komposisi material dapat disesuaikan agar lumut lebih mudah menempel dan berkembang.

Alih-alih menambahkan tanaman melalui pot, taman vertikal, atau sistem irigasi yang kompleks, pendekatan ini mencoba membuat permukaan bangunan menjadi media tumbuh itu sendiri.

Artinya, dinding, elemen fasad, atau struktur beton di perkotaan berpotensi berubah menjadi permukaan hidup.

Lumut Bisa Membantu Mendinginkan Lingkungan

Salah satu manfaat yang sedang diteliti adalah kemampuan lumut dalam membantu mengurangi panas permukaan.

Ketika lumut memiliki cukup air, proses evaporasi dapat menghasilkan efek pendinginan sementara.

Dalam lingkungan perkotaan yang dipenuhi beton dan aspal, efek ini berpotensi membantu mengurangi suhu lokal pada permukaan bangunan.

Namun manfaat tersebut sangat bergantung pada kondisi air.

Saat lumut mengering, kemampuan pendinginannya akan menurun secara signifikan.

Karena itu, beton berlumut tidak dapat dianggap sebagai solusi tunggal untuk mengatasi fenomena urban heat island.

Potensi Menyerap Suara

Selain memberikan manfaat ekologis, permukaan beton yang ditumbuhi lumut juga berpotensi meningkatkan kemampuan penyerapan suara.

Penelitian menunjukkan bahwa lapisan lumut dapat membantu meningkatkan absorpsi suara, terutama pada frekuensi yang lebih tinggi.

Jika dikembangkan lebih lanjut, konsep ini dapat memiliki manfaat untuk kawasan perkotaan yang memiliki tingkat kebisingan tinggi.

Bayangkan dinding beton di sepanjang jalan raya, kawasan transportasi, atau area padat bangunan yang tidak hanya menjadi pembatas fisik, tetapi juga membantu mengurangi kebisingan.

Membantu Pengelolaan Air Hujan

Permukaan hidup juga berpotensi memainkan peran dalam pengelolaan air hujan.

Lumut mampu menyerap dan menahan air dalam jumlah tertentu.

Pada skala bangunan dan kawasan, permukaan bioreseptif dapat membantu memperlambat aliran air hujan serta meningkatkan retensi air di lingkungan perkotaan.

Meski dampaknya kemungkinan tidak sebesar infrastruktur hijau seperti taman kota atau wetland, teknologi ini dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan air berbasis alam.

Menciptakan Mikrohabitat Baru

Salah satu aspek paling menarik dari beton bioreseptif adalah potensinya untuk menciptakan mikrohabitat di tengah kota.

Kota modern memiliki banyak permukaan keras yang kurang mendukung kehidupan.

Jika sebagian dari dinding, fasad, atau struktur beton dapat mendukung pertumbuhan lumut, permukaan tersebut dapat menyediakan ruang baru bagi mikroorganisme dan organisme kecil lainnya.

Dalam jangka panjang, pendekatan ini dapat membantu meningkatkan kompleksitas ekosistem di kawasan perkotaan.

Kota tidak lagi hanya terdiri dari bangunan dan manusia, tetapi juga menyediakan ruang bagi bentuk kehidupan lain.

Solusi untuk Infrastruktur yang Sudah Ada

Keunggulan lain dari konsep ini adalah potensinya untuk diterapkan pada infrastruktur yang sudah ada.

Tidak semua kota memiliki ruang untuk membangun taman baru.

Di kawasan yang sangat padat, ketersediaan lahan menjadi salah satu tantangan utama.

Karena itu, memanfaatkan permukaan bangunan yang sudah tersedia bisa menjadi pendekatan yang menarik.

Dinding beton, struktur transportasi, hingga elemen infrastruktur publik dapat berpotensi digunakan sebagai permukaan ekologis tambahan.

Bukan Solusi Ajaib untuk Krisis Iklim

Meski konsep beton bioreseptif terdengar menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa teknologi ini bukan solusi instan untuk persoalan kota.

Kinerja lumut sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti:

  • ketersediaan air,
  • suhu,
  • kelembapan,
  • jenis lumut,
  • paparan sinar matahari,
  • kondisi cuaca,
  • serta karakteristik permukaan beton.

Tantangan terbesar adalah memastikan organisme dapat bertahan dalam jangka panjang.

Kondisi perkotaan sering kali ekstrem, terutama saat terjadi gelombang panas dan kekeringan.

Karena itu, penelitian saat ini juga berfokus pada cara meningkatkan ketahanan lumut terhadap kondisi kering serta meningkatkan keberhasilan pertumbuhan lumut di permukaan beton bioreseptif.

Mengubah Cara Kita Memandang Beton

Selama ini, beton sering dipandang sebagai simbol pembangunan yang bertentangan dengan alam.

Permukaan keras menggantikan tanah, mengurangi vegetasi, dan memutus habitat alami.

Konsep beton bioreseptif mencoba mengubah paradigma tersebut.

Alih-alih membuat beton sepenuhnya terpisah dari ekosistem, material ini dirancang agar memiliki hubungan dengan kehidupan biologis di sekitarnya.

Ini bukan berarti beton akan menggantikan taman, hutan kota, atau ruang terbuka hijau.

Namun beton dapat menjadi bagian dari strategi yang lebih luas untuk membuat kota menjadi lebih hidup.

Dari Infrastruktur Abu-Abu Menjadi Infrastruktur Hidup

Konsep beton bioreseptif memperlihatkan bahwa masa depan infrastruktur berkelanjutan mungkin tidak hanya tentang mengurangi jumlah bangunan.

Pertanyaannya juga bisa berubah menjadi: bagaimana bangunan yang sudah kita buat dapat memberikan manfaat ekologis tambahan?

Jika permukaan beton bisa membantu lumut tumbuh, menahan air, menyerap sebagian suara, dan menciptakan mikrohabitat, maka infrastruktur perkotaan dapat memperoleh fungsi baru.

Dinding tidak lagi hanya menjadi dinding.

Fasad tidak lagi hanya menjadi kulit bangunan.

Dan beton tidak lagi harus sepenuhnya menjadi penghalang bagi kehidupan.

Masa depan kota hijau mungkin bukan hanya tentang membangun lebih sedikit.

Bisa jadi, masa depan tersebut juga tentang membangun permukaan yang mampu mendukung lebih banyak kehidupan.

https://www.linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:7502989674580393984/?utm_source=share&utm_medium=member_desktop&rcm=ACoAAAtGGkQBsxwMBmX3lEJO8btihnfBCaHqTz4

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO