Bom waktu krisis air bersih Bandar Lampung (bagian 1)

Bandar Lampung dalam Bayang-Bayang Krisis Air: Sebuah Bom Waktu
Krisis air di Bandar Lampung bukan lagi sekadar prediksi masa depan, melainkan realitas harian yang mulai mencekik warga. Dalam skenario terburuk, 10 hingga 20 tahun ke depan, kota ini berpotensi mengalami kondisi kritis serupa dengan kota-kota besar di Pulau Jawa, di mana air bersih menjadi barang mewah yang langka.
1. Realitas Pahit di Tingkat Rumah Tangga
Warga di berbagai wilayah seperti Teluk Betung Selatan dan Sukabumi harus menghadapi beban ekonomi ganda demi mendapatkan air layak:
- Beban Biaya Tinggi: Warga seperti Suliah di Kangkung Dalam harus merogoh kocek hingga Rp230.000 per bulan untuk mengombinasikan air PDAM dan air galon karena kualitas air yang tidak menentu.
- Ketergantungan pada Air Suteng: Banyak warga masih bergantung pada penjual air keliling (Suteng) karena tidak memiliki sumber air bor yang layak atau akses PDAM yang terbatas.
- Paradoks Musiman: Saat kemarau, warga mengalami kekeringan ekstrem hingga harus membeli air atau berharap bantuan pemerintah. Sebaliknya, saat musim hujan, mereka menghadapi banjir akibat sistem drainase yang buruk.
2. Kualitas Air yang Terancam Bakteri
Ancaman kesehatan mengintai di balik keran air warga:
- Cemaran E. Coli: Riset menunjukkan sekitar 70% sumber air rumah tangga di Indonesia tercemar bakteri E. Coli. Di Bandar Lampung, YKWS menemukan mayoritas air tanah di permukiman padat telah tercemar E. Coli dan Salmonella.
- Kasus Keracunan: Pada September 2025, sebanyak 247 siswa di Bandar Lampung mengalami keracunan makanan yang setelah ditelusuri berasal dari kontaminasi bakteri dalam air yang digunakan untuk memasak.
- Sanitasi Buruk: Rendahnya kesadaran sedot tinja (hanya 30-40% dari potensi yang masuk ke IPLT) menyebabkan kebocoran tangki septik yang langsung merembes ke sumur warga.
3. Tekanan Eksploitasi dan Perubahan Iklim
Secara kuantitas, cadangan air tanah Bandar Lampung terus tergerus tanpa adanya upaya konservasi:
- Eksploitasi Tak Terkendali: 70% penduduk bergantung pada sumur bor. Masifnya pembuatan sumur bor di perumahan tanpa proses isi ulang (recharge) memicu penurunan muka tanah (land subsidence).
- Anomali Iklim: Suhu regional Lampung telah naik sekitar 1°C dengan tren curah hujan yang menurun. Siklus fenomena El Niño yang semakin rapat (setiap 2-3 tahun) memperparah risiko kekeringan panjang.
- Intrusi Air Laut: Di kawasan pesisir seperti Panjang dan Teluk Betung, tinggi muka air tanah sudah berada di bawah permukaan laut (mencapai -2,2 meter), menyebabkan intrusi air laut yang membuat air tanah terasa asin dan tidak layak konsumsi.
4. Tantangan Infrastruktur PDAM Way Rilau
PDAM sebagai garda terdepan juga menghadapi kendala internal yang berat:
- Pipa Tua & Rapuh: Banyak jaringan pipa yang berusia puluhan tahun masih menggunakan paralon lama yang sering pecah saat menerima tekanan air besar dari sistem baru (SPAM KPBU).
- Kebocoran Tinggi: Angka Non-Revenue Water (NRW) masih menjadi tantangan besar. Estimasi biaya peremajaan jaringan total mencapai Rp50–60 miliar.
- Penurunan Debit: Sumber air baku utama seperti di Sumur Putri terus mengalami penurunan debit setiap tahunnya akibat perubahan iklim dan pertumbuhan penduduk.
5. Strategi dan Risiko Bencana (Kajian KRB)
Berdasarkan Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) 2016–2020:
- Populasi Terpapar: Sebanyak 939.195 jiwa di seluruh kecamatan masuk kategori risiko tinggi terpapar kekeringan.
- Kerugian Ekonomi: Potensi kerugian ekonomi akibat kekeringan di Bandar Lampung mencapai Rp392,7 miliar.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




