Berita

Bukit Tengkorak Terbakar, Kawasan Hijau Penyangga IKN Kembali Terluka

Angin di lereng Bukit Tengkorak kini tak lagi terasa sejuk.

Aroma asap menyusup di antara pepohonan, menjadi tanda bahwa kawasan hijau ini sedang menghadapi ancaman serius. Selama hampir sepekan, api dilaporkan terus muncul dan berpindah dari satu titik ke titik lain, meninggalkan tanah menghitam, vegetasi terbakar, serta jejak kehancuran di kawasan yang seharusnya menjadi ruang perlindungan alam.

Bukit Tengkorak berada di Desa Suko Mulyo, Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, dan menjadi bagian penting dari bentang alam Taman Hutan Raya Bukit Soeharto.

Kawasan ini memiliki fungsi ekologis penting, terlebih di tengah perkembangan wilayah sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN) yang berlangsung semakin pesat.

Hutan yang Menjadi Rumah bagi Banyak Kehidupan

Di balik rimbunnya pepohonan Bukit Tengkorak terdapat kehidupan yang jauh lebih kompleks daripada yang terlihat dari permukaan.

Akar-akar pohon membantu menjaga kestabilan tanah. Vegetasi menjadi tempat berlindung dan mencari makan bagi berbagai jenis satwa. Tutupan hutan juga berperan menjaga kelembapan, menyimpan air, dan membantu mengatur kondisi mikroklimat di sekitarnya.

Namun, setelah kebakaran, sebagian lanskap tersebut kini berubah.

Hijau pepohonan berganti menjadi warna kelabu.

Batang-batang yang terbakar berdiri di atas tanah yang tertutup abu. Vegetasi bawah menghilang dan beberapa bagian kawasan meninggalkan jejak hangus yang membutuhkan waktu panjang untuk pulih.

Kerusakan seperti ini bukan hanya soal hilangnya pepohonan.

Ketika hutan terbakar, habitat satwa ikut terganggu, fungsi tanah menurun, dan kemampuan kawasan menahan air juga dapat ikut terdampak.

Petugas Mulai Mengukur Dampak Kebakaran

Di tengah sisa-sisa kebakaran, petugas dari Otorita Ibu Kota Nusantara mulai melakukan pengecekan dan pengukuran terhadap kawasan yang terdampak.

Luas pasti area yang terbakar masih memerlukan pendataan lebih lanjut.

Namun kondisi di lapangan sudah memperlihatkan bahwa kebakaran meninggalkan kerusakan yang tidak kecil.

Pendataan menjadi penting bukan hanya untuk mengetahui berapa hektare lahan yang terbakar, tetapi juga sebagai dasar menentukan langkah pemulihan.

Kawasan yang terbakar perlu dipetakan berdasarkan tingkat kerusakannya, jenis vegetasi yang hilang, potensi erosi, kondisi tanah, hingga kemungkinan dampaknya terhadap satwa liar.

Kekeringan Membuat Hutan Semakin Rentan

Kondisi cuaca kering memperbesar risiko terjadinya kebakaran.

Ketika hujan jarang turun, tanah kehilangan kelembapan dan vegetasi mengering. Daun serta ranting kering kemudian menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.

Dalam kondisi seperti itu, satu titik api kecil dapat berkembang dengan cepat, terutama ketika angin membantu menyebarkan api ke area lainnya.

Kawasan hutan yang mengalami tekanan lingkungan sebelumnya juga dapat menjadi lebih rentan terhadap kebakaran berulang.

Karena itu, musim kering bukan satu-satunya persoalan.

Kondisi tutupan hutan, aktivitas manusia di sekitar kawasan, sistem pengawasan, serta kemampuan mendeteksi api sejak dini juga menentukan seberapa besar kerusakan yang dapat terjadi.

Bukit Soeharto Pernah Mengalami Kebakaran Besar

Kawasan Bukit Soeharto bukan pertama kali menghadapi ancaman kebakaran.

Pada 1997, kebakaran hutan besar yang melanda Kalimantan juga meninggalkan dampak serius di kawasan ini.

Jejak kerusakan tersebut membutuhkan waktu panjang untuk pulih.

Ekosistem hutan tidak dapat kembali seperti semula hanya dalam hitungan satu atau dua musim hujan.

Pohon membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh. Struktur hutan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk terbentuk. Satwa juga membutuhkan habitat yang cukup luas dan saling terhubung agar dapat kembali hidup secara stabil.

Karena itu, kebakaran yang kembali terjadi menjadi pukulan tambahan bagi kawasan yang sebelumnya telah mengalami tekanan ekologis.

Hutan Penyangga IKN Harus Dijaga Lebih Serius

Lokasi Bukit Tengkorak yang berada di sekitar wilayah pembangunan IKN membuat perlindungan kawasan ini semakin penting.

Pembangunan kota baru seharusnya tidak hanya berbicara tentang gedung, jalan, dan infrastruktur.

Keberadaan hutan di sekitarnya juga merupakan bagian penting dari sistem kota.

Hutan membantu menjaga kualitas udara, mengendalikan suhu, melindungi sumber air, menjaga tanah, dan menyediakan ruang hidup bagi satwa liar.

Jika kawasan penyangga terus mengalami kebakaran atau kerusakan, maka fungsi ekologis yang seharusnya mendukung pembangunan kota berkelanjutan dapat semakin berkurang.

Karena itu, perlindungan kawasan seperti Bukit Tengkorak harus ditempatkan sebagai bagian penting dari pembangunan IKN, bukan sebagai isu yang berdiri sendiri.

Pemadaman Saja Tidak Cukup

Ketika kebakaran terjadi, pemadaman memang menjadi prioritas utama.

Namun setelah api padam, pekerjaan sebenarnya belum selesai.

Kawasan terdampak perlu dipulihkan.

Tanah harus dijaga agar tidak mengalami erosi. Vegetasi perlu kembali tumbuh. Area yang memiliki tingkat kerusakan tinggi harus dipantau. Jalur satwa juga perlu diperhatikan agar fragmentasi habitat tidak semakin parah.

Lebih penting lagi, penyebab kebakaran harus ditelusuri.

Jika kebakaran disebabkan oleh aktivitas manusia, maka pencegahan dan penegakan hukum menjadi bagian penting agar peristiwa serupa tidak terus berulang.

Sebab tanpa mengetahui akar persoalan, pemadaman hanya akan menjadi siklus tahunan: api muncul, petugas datang, kebakaran padam, lalu hutan kembali terbakar ketika musim kering berikutnya tiba.

Jangan Biarkan Hutan Hanya Menjadi Kenangan

Bukit Tengkorak hari ini memberi peringatan.

Hutan yang membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh dapat rusak hanya dalam hitungan jam ketika api tidak terkendali.

Kerusakan itu tidak berhenti ketika asap menghilang.

Bekasnya dapat bertahan bertahun-tahun.

Pohon yang mati harus tumbuh kembali. Satwa harus mencari habitat baru. Tanah harus kembali stabil. Dan keseluruhan ekosistem harus membangun kembali keseimbangannya.

Karena itu, menjaga hutan jauh lebih mudah daripada mencoba mengembalikannya setelah terbakar.

Di tengah pembangunan besar yang sedang berlangsung di Kalimantan Timur, kawasan hijau seperti Bukit Tengkorak harus tetap memiliki ruang untuk hidup.

Sebab kota yang dibangun untuk masa depan juga membutuhkan hutan yang tetap berdiri di sekitarnya.

Jika hutan penyangga terus terbakar, pembangunan yang disebut berkelanjutan akan kehilangan salah satu fondasi terpentingnya: alam yang sehat.

https://www.antaranews.com/berita/5729031/menjaga-bukit-soeharto-tetap-bernapas

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO