El Nino Menguat, Ketergantungan Energi Fosil Indonesia Kembali Jadi Sorotan

JAKARTA – Ancaman El Nino kuat yang berpotensi memperpanjang musim kemarau di Indonesia kembali memunculkan kekhawatiran terhadap dampak perubahan iklim. Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat penting bagi pemerintah untuk mempercepat transformasi sektor energi dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Yayasan CERAH menilai meningkatnya risiko kekeringan, gelombang panas hingga kebakaran hutan dan lahan seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi arah kebijakan ketenagalistrikan nasional. Terlebih, Indonesia masih merencanakan penambahan pembangkit berbahan bakar gas dan batu bara dalam beberapa tahun mendatang.
Evaluasi tersebut dinilai semakin relevan menjelang putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terkait gugatan terhadap Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
El Nino Berpotensi Bertahan hingga Setahun
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Nino berpotensi berkembang dan bertahan selama 9 hingga 12 bulan.
Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi peningkatan suhu akibat El Nino tahun ini dapat mencapai sekitar 2 derajat Celsius. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan fenomena El Nino 2023 yang tercatat sekitar 1,6 derajat Celsius.
Kondisi tersebut berpotensi membawa konsekuensi luas bagi Indonesia, terutama apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dan intens.
Risiko kekeringan dapat meningkat di berbagai daerah, sementara suhu udara yang lebih tinggi berpotensi memicu gelombang panas dan memperburuk kualitas udara. Kondisi lahan yang semakin kering juga meningkatkan kerawanan kebakaran hutan dan lahan.
Dampak lainnya dapat merembet pada sektor pertanian. Berkurangnya ketersediaan air dan perubahan pola musim berpotensi memengaruhi produktivitas tanaman, yang pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap ketahanan pangan.
Kebijakan Energi Fosil Dipertanyakan
Policy and Program Associate CERAH Delly Ferdian menilai risiko yang dihadapi Indonesia tidak dapat dilepaskan dari persoalan perubahan iklim yang berkaitan erat dengan penggunaan energi berbasis fosil.
Menurut CERAH, arah kebijakan energi nasional masih memberikan ruang cukup besar bagi penggunaan batu bara dan gas untuk pembangkitan listrik.
Melalui RUPTL dan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), pemerintah disebut masih merencanakan pembangunan sekitar 10,3 gigawatt (GW) pembangkit listrik berbahan bakar gas dan 6,3 GW pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara.
Rencana pembangunan pembangkit berbasis fosil tersebut dikhawatirkan memperpanjang ketergantungan Indonesia terhadap sumber energi beremisi tinggi.
Pasalnya, pembangkit listrik merupakan infrastruktur berumur panjang. Ketika investasi baru pada pembangkit fosil terus dilakukan, penggunaannya berpotensi berlangsung selama puluhan tahun untuk mengembalikan nilai investasi dan memenuhi kebutuhan operasional.
Ancaman Carbon Lock-in
CERAH mengingatkan rencana investasi pada pembangkit batu bara dan gas berpotensi menciptakan kondisi yang dikenal sebagai carbon lock-in.
Istilah tersebut menggambarkan situasi ketika suatu negara atau sistem energi terlanjur bergantung pada infrastruktur berbahan bakar fosil sehingga proses peralihan menuju energi rendah karbon menjadi semakin sulit dan mahal.
Pembangunan pembangkit baru tidak hanya berkaitan dengan pembangkit itu sendiri, tetapi juga membutuhkan berbagai infrastruktur pendukung. Semakin besar investasi yang telah dikeluarkan, semakin kuat pula dorongan untuk mempertahankan penggunaan fasilitas tersebut dalam jangka panjang.
Situasi ini dinilai dapat menjadi tantangan bagi upaya Indonesia menekan emisi gas rumah kaca sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih.
El Nino Jadi Peringatan Mempercepat Transisi Energi
Meningkatnya ancaman El Nino memperlihatkan bagaimana perubahan kondisi iklim dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, penurunan kualitas udara hingga ancaman terhadap produksi pangan merupakan sejumlah risiko yang perlu diantisipasi.
Karena itu, kebijakan mitigasi perubahan iklim dinilai perlu berjalan beriringan dengan upaya adaptasi menghadapi cuaca ekstrem.
Sektor energi menjadi salah satu bagian penting dalam upaya tersebut. Percepatan pengembangan energi terbarukan, peningkatan efisiensi energi, serta pengurangan ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun sistem energi yang lebih rendah emisi.
Momentum El Nino sekaligus menjadi pengingat bahwa keputusan investasi energi yang dibuat hari ini dapat menentukan struktur ketenagalistrikan Indonesia selama puluhan tahun mendatang.
Di tengah meningkatnya risiko iklim, evaluasi terhadap kebijakan ketenagalistrikan menjadi semakin penting agar pemenuhan kebutuhan energi nasional dapat berjalan seiring dengan upaya mengurangi emisi dan memperkuat ketahanan Indonesia menghadapi perubahan iklim.



