GeoTalk IUGC 2024 Bahas Inovasi Penangkapan Karbon untuk Mewujudkan Emisi Nol di Indonesia

Himpunan Mahasiswa Teknik Geofisika HIMA TG “TERRA” ITB sukses menyelenggarakan International Undergraduate Geophysics Competition (IUGC) 2024 dengan salah satu acara unggulannya, GeoTalk, yang bertema “Integrating Carbon Capture with Renewable Energy Systems: Opportunities and Challenges,” pada Sabtu, 3 Agustus 2024. Acara ini menghadirkan Djad Marthin Aponno, S.T., seorang HSE Officer di LNG Tangguh, yang memberikan wawasan mendalam mengenai peran penting teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dalam mengatasi tantangan perubahan iklim di Indonesia.
CCS adalah teknologi yang dirancang untuk menangkap CO2 dari proses industri, kemudian mengompresnya dan menyimpannya secara permanen dalam formasi batuan yang dalam. Menurut Djad Marthin Aponno, CCS bukan hanya solusi untuk mengurangi emisi, tetapi juga merupakan langkah strategis menuju pencapaian Net Zero Emission (NZE). Teknologi ini memiliki banyak manfaat, termasuk mitigasi pemanasan global, pengurangan emisi di sektor energi, dan kontribusi terhadap industri berat seperti pabrik semen dan kimia, yang memiliki jejak karbon yang signifikan.
Indonesia saat ini menghadapi berbagai ancaman serius akibat perubahan iklim, seperti kenaikan permukaan air laut, gelombang panas, dan kekeringan. Ancaman ini mendorong pemerintah untuk mengeluarkan regulasi seperti Peraturan Menteri ESDM No. 2 Tahun 2023, yang mengatur penyelenggaraan CCS sebagai upaya untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
Namun, Djad Marthin Aponno juga menjelaskan bahwa pengembangan CCS di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal kebutuhan investasi yang besar. Sebagai contoh, proyek pengembangan CCS antara Pemerintah Indonesia dan ExxonMobil membutuhkan investasi sebesar 15 miliar dolar AS. “Regulasi yang jelas dan infrastruktur yang memadai sangat penting untuk mendukung keberhasilan CCS di Indonesia,” tegasnya.
Dalam webinar tersebut, Djad Marthin Aponno juga menyoroti potensi besar Indonesia untuk mencapai NZE pada tahun 2060. Ia menyatakan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan teknologi CCS dan membentuk hub CCS yang tidak hanya mampu menyimpan CO2 domestik tetapi juga membuka peluang kerja sama internasional dalam perdagangan karbon. Menurutnya, CCS dapat menjadi “license to invest,” terutama di sektor-sektor beremisi rendah seperti blue ammonia, blue hydrogen, dan advanced petrochemical.
Meskipun CCS bukanlah solusi tunggal, Djad Marthin Aponno menekankan bahwa teknologi ini bisa diandalkan untuk mencapai NZE. Ia mendorong industri minyak dan gas untuk menjadi pemimpin dalam pengembangan dan penerapan teknologi CCS, dengan potensi menangkap hingga 30 juta ton CO2 dari industri besar, yang bisa mencapai sekitar 70% dari total emisi.
Webinar GeoTalk ini tidak hanya memberikan wawasan mengenai manfaat dan tantangan CCS, tetapi juga membuka diskusi mengenai peran teknologi dalam mencapai keberlanjutan energi dan perlindungan lingkungan di Indonesia. Integrasi teknologi CCS dengan sistem energi terbarukan, serta kolaborasi antara sektor industri, pemerintah, dan akademisi dalam menciptakan solusi inovatif dan berkelanjutan, menjadi poin penting yang diangkat dalam acara ini.
sumber :
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




