Hari Kesembilan, Kebakaran TPA Jatiwaringin Belum Padam: Ancaman Gas Metana Jadi Sorotan Pengelolaan Sampah

Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, masih belum sepenuhnya berhasil dipadamkan meski telah berlangsung selama sembilan hari. Hingga Rabu (8/7), petugas mencatat sekitar 30 persen titik api atau sekitar 4 hektare lahan masih menyala dari total area terdampak seluas 15 hektare.
Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, fokus penanganan kini dipusatkan di sektor barat TPA, lokasi yang masih menyimpan sejumlah titik api aktif.
Proses pemadaman melibatkan ratusan personel gabungan dari BPBD Kabupaten Tangerang, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta tim Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan. Operasi dilakukan melalui dua jalur, yakni darat dan udara. Di darat, petugas pemadam kebakaran bersama Manggala Agni terus melakukan penyisiran, sementara tiga helikopter water bombing milik BNPB mengguyur area yang sulit dijangkau.
Kebakaran Sulit Dipadamkan karena Api Berasal dari Dalam Timbunan Sampah
Berbeda dengan kebakaran biasa, api di TPA Jatiwaringin tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga menjalar ke bagian dalam timbunan sampah. Kondisi ini membuat proses pemadaman menjadi jauh lebih kompleks.
Selama bertahun-tahun, tumpukan sampah yang terus bertambah menghasilkan gas metana, salah satu gas yang sangat mudah terbakar. Ketika suhu udara meningkat, gas tersebut dapat memicu munculnya api dari bawah permukaan sehingga kobaran dapat kembali terjadi meski bagian atas tampak sudah padam.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, alat berat terus dikerahkan guna membongkar lapisan sampah sehingga titik api yang tersembunyi dapat dijangkau dan dipadamkan secara menyeluruh.
Dampak terhadap Warga Mulai Berkurang, Namun Kewaspadaan Tetap Ditingkatkan
Seiring berkurangnya sebaran asap di sekitar lokasi, sebagian besar warga yang sebelumnya mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing. Saat ini hanya sekitar 20 orang yang masih bertahan di posko pengungsian.
Meski demikian, pemerintah daerah tetap bersiaga mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali kobaran api akibat akumulasi gas metana. Arah penyebaran asap yang bergantung pada kondisi angin juga menjadi perhatian utama. Apabila asap kembali mengarah ke kawasan permukiman, proses evakuasi akan kembali dilakukan.
Di sisi lain, tenaga medis dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang masih disiagakan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang terdampak paparan asap, baik yang berada di pengungsian maupun yang tetap tinggal di rumah.
Kebakaran TPA Menjadi Pengingat Pentingnya Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Peristiwa kebakaran TPA Jatiwaringin kembali menunjukkan besarnya risiko yang ditimbulkan oleh sistem pembuangan sampah terbuka (open dumping). Penumpukan sampah organik dalam jumlah besar tanpa pengelolaan gas yang memadai dapat menghasilkan gas metana, gas rumah kaca yang tidak hanya berkontribusi terhadap perubahan iklim, tetapi juga meningkatkan potensi kebakaran.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pengumpulan dan pembuangan. Diperlukan pengurangan sampah dari sumbernya melalui penerapan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R), peningkatan fasilitas pengolahan sampah, serta pemanfaatan gas metana menjadi sumber energi agar risiko kebakaran dan dampak lingkungan dapat diminimalkan.
Dengan kebakaran yang telah berlangsung lebih dari sepekan, upaya pemadaman dan pendinginan masih terus dilakukan hingga seluruh titik api benar-benar padam. Peristiwa ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah yang lebih aman, modern, dan berkelanjutan demi melindungi lingkungan serta kesehatan masyarakat.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




