Berita

TPA Terbesar Akan Ditutup, Pemulung Terancam Kehilangan Sumber Penghidupan

Rencana pemerintah Indonesia untuk menutup salah satu tempat pembuangan akhir (TPA) terbesar kembali menjadi sorotan. Kebijakan tersebut diambil setelah insiden nahas pada Maret lalu yang menewaskan tujuh orang dan sekaligus menjadi perhatian serius terhadap kondisi lingkungan serta keselamatan di kawasan TPA.

Selain faktor keselamatan, penutupan TPA juga diarahkan untuk mengatasi kondisi lingkungan yang semakin kumuh sekaligus menekan emisi gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah.

Namun, di balik upaya memperbaiki lingkungan tersebut terdapat persoalan sosial yang tidak kalah penting. Rencana penutupan TPA menimbulkan kekhawatiran bagi para pemulung yang selama ini menggantungkan kehidupan mereka dari sampah.

TPA Bukan Sekadar Tempat Sampah

Bagi pemerintah, TPA merupakan bagian dari sistem pengelolaan sampah yang harus dibenahi agar lebih aman dan ramah lingkungan.

Namun bagi ribuan orang yang mencari barang bernilai ekonomi di antara tumpukan sampah, TPA memiliki arti yang berbeda.

Setiap hari, pemulung memilah sampah untuk mencari material seperti plastik, kardus, botol, logam, dan berbagai barang lain yang masih memiliki nilai jual. Hasil dari kegiatan tersebut kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Karena itu, penutupan TPA tanpa skema transisi yang jelas berpotensi memberikan dampak langsung terhadap kelompok masyarakat yang selama ini bergantung pada aktivitas tersebut.

Menekan Metana, Menata Lingkungan

Di sisi lain, persoalan lingkungan di kawasan TPA memang tidak dapat diabaikan.

Timbunan sampah organik yang membusuk dalam kondisi minim oksigen dapat menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang memiliki dampak besar terhadap perubahan iklim.

Selain emisi, TPA yang tidak dikelola dengan baik juga dapat menimbulkan berbagai persoalan lain, mulai dari bau, pencemaran air, risiko kebakaran, hingga ancaman keselamatan bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi.

Insiden yang menewaskan tujuh orang pada Maret lalu menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga menyangkut keselamatan manusia.

Jangan Sampai Solusi Lingkungan Melahirkan Masalah Sosial Baru

Penutupan TPA dapat menjadi momentum untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah Indonesia. Namun, keberhasilan kebijakan tersebut tidak cukup hanya diukur dari berkurangnya timbunan sampah atau emisi metana.

Nasib masyarakat yang selama ini bergantung pada TPA juga perlu menjadi bagian dari perencanaan.

Pemerintah perlu menyiapkan program transisi bagi pemulung, seperti pelatihan keterampilan, akses pekerjaan alternatif, penguatan bank sampah, koperasi, hingga keterlibatan mereka dalam sistem pengelolaan sampah yang lebih modern.

Para pemulung sebenarnya memiliki pengalaman penting dalam proses pemilahan material. Pengetahuan tersebut dapat menjadi modal untuk melibatkan mereka dalam sistem ekonomi sirkular, bukan justru menghilangkan peran mereka ketika TPA ditutup.

Membangun Sistem Sampah yang Lebih Berkelanjutan

Penutupan TPA seharusnya tidak berhenti pada pemindahan masalah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Yang dibutuhkan adalah perubahan sistem dari hulu hingga hilir.

Sampah harus mulai dikurangi sejak dari sumbernya, dipilah dari rumah, dikumpulkan berdasarkan jenisnya, kemudian diolah dan dimanfaatkan kembali sebanyak mungkin.

Dengan pendekatan tersebut, TPA tidak lagi menjadi tujuan utama seluruh sampah, melainkan hanya menjadi bagian terakhir dari sistem pengelolaan sampah untuk material yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan kembali.

Pada akhirnya, lingkungan yang lebih bersih dan aman harus berjalan beriringan dengan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera.

Menutup TPA mungkin menjadi langkah penting untuk memperbaiki lingkungan. Tetapi memastikan para pemulung tidak kehilangan masa depan adalah bagian lain dari pekerjaan besar yang tidak boleh dilupakan.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO