Berita

Hotspot di Cengal Naik Hampir 80 Persen, Pencegahan Karhutla Berbasis Warga Diperkuat

Ancaman kebakaran hutan dan lahan kembali meningkat di Sumatra Selatan, terutama di kawasan gambut dan vegetasi kering yang sangat rentan terbakar saat musim kemarau.

Di Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), peningkatan titik panas atau hotspot bahkan disebut mencapai hampir 80 persen dalam beberapa pekan terakhir.

Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan helikopter, water bombing, atau pemadaman ketika api sudah membesar.

Benteng pertahanan pertama justru berada di tingkat paling dekat dengan lokasi kejadian: masyarakat yang mampu mendeteksi dan melaporkan api sejak masih kecil.

Ketika Beberapa Jam Terlambat Bisa Berakibat Fatal

Kawasan seperti Cengal memiliki tantangan tersendiri.

Sebagian wilayahnya berupa lahan gambut dan area yang sulit dijangkau. Ketika titik api muncul di lokasi terpencil, keterlambatan laporan beberapa jam saja dapat membuat api cepat meluas dan semakin sulit dikendalikan.

Karena itu, sistem peringatan dini menjadi sangat penting.

Warga yang tinggal paling dekat dengan kawasan rawan memiliki posisi strategis untuk mendeteksi asap, titik api, atau aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran sebelum berkembang menjadi bencana besar.

Dalam kondisi gambut yang kering, api juga tidak hanya membakar vegetasi di permukaan. Bara dapat masuk ke lapisan bawah tanah dan bertahan lama, sehingga proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit.

Pemadaman Udara Bukan Satu-satunya Jawaban

Helikopter dan operasi water bombing memang memiliki peran penting ketika kebakaran telah meluas.

Namun pendekatan tersebut bersifat responsif.

Biayanya besar dan efektivitasnya juga terbatas apabila api sudah menyebar di kawasan gambut yang luas.

Karena itu, penanganan karhutla perlu bergeser dari pola memadamkan setelah kebakaran terjadi menuju pola mencegah agar api tidak sempat membesar.

Pendekatan inilah yang mulai diperkuat melalui konsep community-based fire prevention atau pencegahan kebakaran berbasis masyarakat.

Masyarakat Menjadi Garda Terdepan

Upaya pencegahan di Kecamatan Cengal dilakukan melalui kerja sama berbagai pihak.

Kepolisian, TNI, pemerintah desa, masyarakat, Regu Penanggulangan Kebakaran (RPK) perusahaan, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) dilibatkan dalam satu sistem pencegahan.

Kolaborasi tersebut diperkuat melalui kegiatan sosialisasi pencegahan karhutla di Balai Desa Sungai Pasir, Kecamatan Cengal, pada 22 Agustus 2026.

Bhabinkamtibmas Polsek Cengal, Brigpol Raden Hidayat, menyampaikan bahwa lonjakan hotspot dalam beberapa pekan terakhir perlu menjadi perhatian serius.

“Kami menyampaikan kepada masyarakat bahwa dalam beberapa minggu terakhir titik hotspot di wilayah ini meningkat hampir 80 persen. Kondisi ini perlu menjadi perhatian dan kewaspadaan kita bersama,” ujarnya.

Delapan Desa Dilibatkan

Kegiatan tersebut diikuti perwakilan dari delapan desa di Kecamatan Cengal, yaitu Ulak Kedondong, Sungai Jeruju, Kuala Sungai Jeruju, Sungai Pasir, Kuala Sungai Pasir, Balam Jeruju, Somor, dan Kebun Cabe.

Selain pemerintah desa dan aparat keamanan, kegiatan juga dihadiri perwakilan perusahaan, Masyarakat Peduli Api, Regu Penanggulangan Kebakaran, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Pelibatan banyak pihak menjadi penting karena kebakaran lahan tidak mengenal batas administrasi.

Api yang muncul di satu desa atau konsesi dapat dengan cepat menyebar ke wilayah lain apabila kondisi kering dan angin mendukung.

Karena itu, koordinasi menjadi bagian penting dari pencegahan.

Jangan Tunggu Api Membesar

Salah satu pesan utama yang disampaikan kepada masyarakat adalah pentingnya pelaporan cepat.

Warga diminta segera menghubungi aparat atau tim pemadam apabila melihat titik api atau tanda-tanda awal kebakaran.

“Jika memungkinkan, lakukan penanganan awal dan jangan menunggu api membesar karena dapat dengan cepat meluas,” kata Raden Hidayat.

Pendekatan seperti ini dapat menentukan apakah sebuah titik api berhenti sebagai kejadian kecil atau berkembang menjadi kebakaran yang membutuhkan operasi besar.

Karena pada karhutla, kecepatan respons sangat menentukan.

Pembakaran Lahan Tetap Menjadi Ancaman

Masyarakat juga kembali diingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Praktik pembakaran tradisional seperti sonor dinilai memiliki risiko tinggi ketika dilakukan di tengah kondisi lahan dan vegetasi yang sangat kering.

Api yang awalnya dimaksudkan untuk membersihkan area tertentu dapat dengan cepat keluar dari batas dan menjalar ke kawasan lainnya.

Selain membuka lahan dengan api, kelalaian kecil seperti membuang puntung rokok pada vegetasi kering juga dapat menjadi sumber kebakaran.

Dalam kondisi kemarau ekstrem, hal yang tampak sepele dapat berkembang menjadi kebakaran besar.

Gambut Membutuhkan Perlindungan Khusus

Kawasan gambut memiliki karakter berbeda dari lahan mineral.

Gambut yang masih basah relatif sulit terbakar. Namun ketika kehilangan air dan mengering, lapisan organik di dalamnya dapat berubah menjadi bahan bakar dalam jumlah sangat besar.

Karena itu, pencegahan karhutla di wilayah gambut tidak cukup hanya dengan patroli.

Pengelolaan tata air, menjaga kelembapan lahan, sekat kanal, ketersediaan sumber air, dan pemantauan kondisi gambut juga menjadi bagian penting dari strategi pencegahan.

Jika gambut tetap basah, risiko kebakaran dapat ditekan sejak awal.

MPA dan RPK Punya Peran Strategis

Masyarakat Peduli Api dan Regu Penanggulangan Kebakaran perusahaan memiliki posisi penting karena mereka berada dekat dengan wilayah rawan.

Mereka dapat melakukan patroli, memantau kondisi lahan, memastikan peralatan siap digunakan, serta melakukan penanganan awal sebelum api berkembang.

Namun keberhasilan mereka tetap membutuhkan dukungan.

Pelatihan, peralatan, komunikasi antarwilayah, akses menuju lokasi kebakaran, hingga sistem informasi hotspot harus tersedia secara memadai.

Pencegahan berbasis warga tidak boleh hanya menjadi slogan.

Masyarakat harus benar-benar memiliki kemampuan untuk bertindak.

Karhutla Harus Dicegah dari Titik Api Pertama

Setiap musim kemarau, pola yang sama sering berulang.

Titik panas meningkat.

Api muncul.

Asap mulai menyelimuti permukiman.

Helikopter dikerahkan.

Dan perhatian baru meningkat ketika kebakaran sudah besar.

Cengal mencoba mendorong pendekatan sebaliknya.

Api harus dihentikan ketika masih kecil.

Laporan harus masuk ketika asap pertama terlihat.

Masyarakat, pemerintah, aparat, dan perusahaan harus bergerak sebelum kebakaran meluas.

Karena pada akhirnya, keberhasilan penanganan karhutla bukan diukur dari seberapa banyak helikopter yang dikerahkan atau berapa kali water bombing dilakukan.

Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika api berhasil dicegah sebelum menjadi bencana.

Di tengah lonjakan hotspot dan ancaman kekeringan, penguatan masyarakat sebagai penjaga pertama menjadi salah satu pertahanan paling penting bagi gambut, hutan, dan udara yang kita hirup.

https://lestari.kompas.com/read/2026/08/23/191226886/tekan-risiko-kebakaran-gambut-sinergi-lintas-sektor-di-cengal-diperkuat

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO