Praktik Baik

Indore Buktikan Masalah Sampah Kota Bisa Dibalik dalam Tiga Tahun

Kota Indore di India memberikan pelajaran menarik tentang bagaimana persoalan sampah perkotaan dapat ditangani dalam waktu relatif singkat. Transformasi kota berpenduduk sekitar 3,5 juta jiwa tersebut tidak dimulai dari pembangunan teknologi mahal, melainkan dari pembenahan layanan dasar, kepemimpinan yang konsisten, dan perubahan sistem pengumpulan sampah.

Delapan tahun lalu, sebuah kawasan seluas sekitar 40 hektare di Indore merupakan lokasi pembuangan terbuka. Sekitar 1,3 juta ton sampah telah menumpuk selama puluhan tahun, mencemari air tanah dan bahkan dapat terbakar ketika musim kemarau. Kini kawasan tersebut telah dipulihkan dan dimanfaatkan untuk berbagai fasilitas, termasuk pengolahan biogas dan daur ulang.

Perubahan Indore berlangsung cepat. Pada 2016, kota ini masih berada di peringkat ke-25 dalam survei kebersihan nasional India. Hanya setahun kemudian, Indore berhasil menduduki peringkat pertama dan mempertahankan posisi tersebut selama delapan tahun berturut-turut hingga 2025.

Memperbaiki Layanan Sebelum Menuntut Warga Memilah

Salah satu pelajaran penting dari Indore adalah urutan kebijakannya.

Pemerintah kota tidak langsung membangun fasilitas pengolahan berteknologi tinggi. Mereka terlebih dahulu memperbaiki sistem pengumpulan dan secara bertahap menghapus tempat pembuangan serta kontainer publik yang menjadi lokasi bercampurnya berbagai jenis sampah.

Sebagai gantinya, pengumpulan dilakukan langsung dari rumah ke rumah. Dalam waktu sekitar satu tahun, cakupan layanan door to door mencapai hampir 100 persen.

Setelah layanan pengumpulan berjalan dengan baik, masyarakat kemudian diwajibkan melakukan pemilahan dari sumber. Pemerintah tidak hanya memberikan aturan, tetapi juga melakukan edukasi secara intensif.

Sekitar 800 kendaraan pengangkut didampingi relawan yang setiap hari mengingatkan dan mengedukasi masyarakat. Dalam waktu kurang dari tiga tahun, sekitar 95 persen warga disebut telah melakukan pemilahan dari rumah.

Teknologi Hadir Setelah Bahan Bakunya Siap

Setelah sistem pemilahan berjalan, barulah pembangunan fasilitas pengolahan dilakukan. Salah satunya adalah pabrik biogas berkapasitas sekitar 550 ton per hari serta fasilitas pemilahan material kering berkapasitas sekitar 400 ton per hari.

Hal ini memberikan pelajaran penting bagi pengelolaan sampah di Indonesia.

Fasilitas pengolahan modern tidak akan bekerja optimal apabila material yang masuk masih bercampur. Teknologi seharusnya menjadi bagian dari sebuah sistem, bukan menjadi satu-satunya solusi.

Dengan memastikan pemilahan berlangsung dari sumber, kualitas material yang masuk ke fasilitas pengolahan menjadi lebih baik dan proses pemanfaatannya jauh lebih efektif.

Pelayanan yang Baik Membangun Kepercayaan

Transformasi Indore juga menunjukkan hubungan kuat antara kualitas pelayanan dan kesediaan masyarakat membayar retribusi.

Sebelum reformasi dilakukan, tingkat pembayaran retribusi hanya sekitar 25 persen. Setelah masyarakat merasakan layanan pengumpulan yang teratur dan dapat diandalkan, tingkat kepatuhan meningkat menjadi sekitar 95 persen.

Tarif bukan menjadi faktor utama. Yang berubah adalah kualitas pelayanan dan tingkat kepercayaan masyarakat.

Pemerintah kota terlebih dahulu berinvestasi pada armada, manajemen, edukasi masyarakat, serta sistem pemantauan digital. Ketika pelayanan menjadi nyata dan konsisten, masyarakat kemudian lebih bersedia memenuhi kewajibannya.

Kepemimpinan Menjadi Faktor Penentu

Di balik keberhasilan tersebut terdapat komitmen pemerintah kota yang sangat kuat. Pada tiga tahun pertama transformasi, pimpinan kota dan tim teknis disebut melakukan pertemuan hampir setiap hari untuk membahas perencanaan, pendanaan, persoalan operasional, hingga hambatan di lapangan.

Mereka juga turun langsung menemui masyarakat dan memastikan keputusan tidak berhenti sebagai dokumen atau hasil rapat.

Kerja sama antara eksekutif, kekuatan politik, tenaga ahli, dan organisasi masyarakat menjadi salah satu fondasi keberhasilan Indore.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak selalu terhambat oleh kekurangan teknologi. Sering kali hambatan terbesar justru berada pada koordinasi, konsistensi kebijakan, pembagian tanggung jawab, dan keberanian menjalankan perubahan.

Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?

Banyak praktik Indore sebenarnya dapat diterapkan di kota-kota Indonesia, mulai dari pengumpulan dari rumah ke rumah, pemilahan beberapa kategori sejak sumber, pemantauan armada berbasis digital, sistem pengaduan cepat, hingga pemulihan lokasi pembuangan lama.

Pelajaran terpentingnya adalah membangun sistem secara berurutan:

layanan pengumpulan diperbaiki terlebih dahulu, masyarakat diberikan edukasi dan diwajibkan memilah, kualitas material dijaga, kemudian teknologi pengolahan dan investasi masuk mengikuti sistem yang telah siap.

Pengalaman Indore memperlihatkan bahwa transformasi pengelolaan sampah tidak selalu membutuhkan waktu puluhan tahun.

Dengan pelayanan yang konsisten, pemilahan dari sumber, teknologi yang tepat guna, keterlibatan masyarakat, serta kepemimpinan yang memiliki target jelas, perubahan besar bahkan dapat mulai terlihat hanya dalam beberapa tahun.

Bagi Indonesia yang banyak menghadapi TPA kelebihan kapasitas dan persoalan pengelolaan sampah perkotaan, Indore memberikan satu pesan penting: yang harus dibangun pertama kali bukan mesin, melainkan sistem yang membuat seluruh rantai pengelolaan bekerja.

Sumber: Republika ESG Now — Masalah Sampah Tuntas dalam Tiga Tahun: Pelajaran dari Kota Indore di India untuk Indonesia Republika Online
https://esgnow.republika.co.id/berita/tm4ck3416/masalah-sampah-tuntas-dalam-tiga-tahun-pelajaran-dari-kota-indore-di-india-untuk-indonesia

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO