Berita

Mikroplastik dari pakaian bisa cemari dan bahayakan ekosistem sungai

Ancaman Senyap dari Lemari Kita: Mikroplastik Pakaian Merusak Ekosistem Sungai dan Udara

Penelitian terbaru menyoroti ancaman serius dari mikroplastik yang berasal dari sampah pakaian (fashion waste), yang tidak hanya mencemari sungai tetapi juga memasuki siklus atmosfer dan membahayakan kesehatan ekosistem serta manusia.

Rafika Aprilianti, Peneliti dari Ecological Observation and Wetland Conservations (ECOTON), menekankan bahwa serat sintetis dari pakaian menjadi kontributor signifikan terhadap polusi perairan.

Bahaya Ganda: Kimia Asal dan Penyerapan Racun

Mikroplastik pakaian menimbulkan bahaya ganda, yaitu risiko kimia bawaan dan kemampuan menyerap polutan lingkungan:

  • Risiko Bawaan: Mikroplastik sendiri mengandung zat aditif berbahaya seperti ftalat dan BPA (Bisphenol A), yang diketahui dapat mengganggu sistem hormon (endokrin) organisme air dan manusia.
  • Peran Sponge Racun: Di perairan, partikel mikroplastik berfungsi seperti “spons” yang sangat efektif dalam menyerap racun lain, seperti pestisida dan logam berat yang ada di lingkungan sungai.

Dampak pada Ekosistem Air

Ketika organisme air menelan mikroplastik ini, racun yang melekat pada partikel tersebut ikut masuk ke dalam tubuh mereka. Dampaknya meliputi:

  • Kerusakan Organ dan gangguan pada fungsi fisiologis.
  • Gangguan Reproduksi, yang dapat menurunkan populasi dan keberlanjutan spesies.
  • Penurunan Jumlah Ikan Endemik, mengganggu keseimbangan ekosistem sungai.

Akumulasi polusi dari mikroplastik dan pewarna kimia tekstil pada akhirnya mengganggu fungsi vital sungai sebagai sumber air bersih dan penopang kehidupan.

Sumber Utama: Material Sintetis dan Fast Fashion

Rafika Aprilianti mengidentifikasi bahan-bahan sintetis sebagai penyumbang utama serat mikroplastik ke lingkungan, termasuk:

  • Polyester
  • Nylon
  • Spandex

Bahan-bahan ini banyak digunakan dalam industri mode cepat (fast fashion) yang mendorong konsumsi berlebihan dan masa pakai pakaian yang singkat.

Siklus Polusi Atmosfer: Mikroplastik dalam Air Hujan

Ancaman mikroplastik ternyata tidak terbatas pada sungai. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova, melaporkan temuan mikroplastik di setiap sampel air hujan Jakarta sejak penelitian tahun 2022.

  • Asal Polutan Udara: Partikel mikroplastik di atmosfer berasal dari berbagai sumber, termasuk serat sintetis pakaian, debu dari ban dan kendaraan, sisa pembakaran plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka.
  • Siklus Global: Temuan rata-rata 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari di kawasan pesisir Jakarta menunjukkan bahwa plastik telah memasuki siklus atmosfer dan kembali turun ke bumi melalui hujan. Bahayanya bukan pada air hujan itu sendiri, melainkan pada partikel mikroplastik di dalamnya yang membawa atau menyerap polutan kimia.

Solusi dan Rekomendasi Aksi

Untuk menekan polusi dan risiko paparan mikroplastik, tindakan kolektif dan individual sangat diperlukan:

1. Mengubah Perilaku Konsumsi (Individu)

  • Kurangi Fast Fashion: Masyarakat disarankan untuk mengurangi konsumsi pakaian baru, terutama yang berbahan sintetis.
  • Kelola Pakaian Lama dengan Bijak: Pakaian yang masih layak harus dialihkan, misalnya melalui:
    • Sumbangan atau disetorkan kepada yang membutuhkan.
    • Sistem Tukar Pakaian (clothing swap atau proyek bersaling-silang).
    • Aksi Mix and Match untuk memperpanjang usia pakai dan menghindari kebosanan.
  • Pilih Serat Alami: Saat membeli pakaian, prioritaskan produk dengan kandungan serat alami yang lebih tinggi untuk mengurangi pelepasan mikroplastik saat pencucian.

2. Mitigasi Polusi (Sistemik)

  • Minimalkan Penggunaan Plastik: Reza Cordova menyarankan minimisasi produk plastik secara umum untuk mengurangi sumber utama partikel mikroplastik di lingkungan.
  • Regulasi dan Inovasi: Diperlukan regulasi yang lebih ketat terhadap industri tekstil dan investasi dalam teknologi filter air limbah yang mampu menangkap serat mikroplastik dari laundry.

Mikroplastik dari pakaian adalah masalah lingkungan yang kompleks, menuntut kesadaran bahwa kebiasaan konsumsi kita sehari-hari memiliki dampak yang meluas hingga ke udara dan sungai yang menopang kehidupan.

sumber:

https://www.kabarin.com/baca/17121/mikroplastik-dari-pakaian-bisa-cemari-dan-bahayakan-ekosistem-sungai?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=widget_home

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO