Proyek bioetanol 60 ribu liter di Lampung dikebut

Pemerintah Kebut Proyek Bioetanol 60 Ribu KL di Lampung untuk Ketahanan Energi
Pemerintah Indonesia resmi mempercepat pengembangan industri bahan bakar nabati melalui proyek ekosistem bioetanol terintegrasi di Provinsi Lampung. Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Pencanangan proyek ini ditandai dengan penandatanganan deklarasi bersama (Joint Declaration) bertajuk “Collaboration in Establishing Bioethanol Ecosystem Development in Lampung Province” oleh Pemerintah Provinsi Lampung, PT Pertamina New and Renewable Energy (PNRE), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), dan PT Toyota Tsusho Indonesia (TTI).
Mengapa Lampung Dipilih?
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, menjelaskan bahwa Lampung memiliki posisi geografis yang sangat strategis. Wilayah ini mampu memasok kebutuhan energi untuk seluruh Sumatra dan sebagian Jawa, yang notabene merupakan pusat konsumsi energi terbesar di Indonesia. Selain itu, Lampung didukung oleh infrastruktur yang siap dan potensi bahan baku yang melimpah.
Potensi Bahan Baku Berbasis Multi-Feedstock
Salah satu keunggulan proyek di Lampung adalah penerapan konsep multi-feedstock (menggunakan lebih dari satu jenis bahan baku). Lokasi yang diproyeksikan berada di Kecamatan Tegineneng (Kabupaten Pesawaran) dan Desa Rejosari (Kabupaten Lampung Selatan) ini akan mengolah:
- Generasi Pertama (1G): Memanfaatkan molases (tetes tebu).
- Generasi Kedua (2G): Memanfaatkan tanaman sorgum dan limbah biomassa lainnya.
Proyek ini juga membuka peluang kemitraan besar antara pihak industri dengan petani lokal, khususnya dalam budi daya sorgum sebagai sumber bahan baku alternatif.
Target dan Timeline Pengembangan Proyek
Pengembangan proyek ekosistem bioetanol ini dibagi menjadi dua tahapan utama:
| Tahapan Proyek | Skala Budi Daya Sorgum (Varietas Enryu) | Kapasitas Produksi Bioetanol | Target Waktu |
| Tahap Awal (Percontohan) | 10 Hektare | 60 Kiloliter (KL) / tahun | Segera dilaksanakan |
| Tahap Komersial | 6.000 Hektare | 60.000 Kiloliter (KL) / tahun | Konstruksi: Q3-2027 Operasional: Q4-2028 |
Sebagai tindak lanjut dari kunjungan lapangan dan deklarasi bersama, para pemangku kepentingan (Pemerintah, Pertamina, dan Toyota Group) akan segera melakukan akselerasi pada beberapa poin krusial:
- Percepatan pelaksanaan studi kelayakan bersama (joint feasibility study).
- Penyusunan perencanaan proyek secara mendetail.
- Pengembangan budi daya sorgum percontohan (pilot project).
- Finalisasi skema pembiayaan dan formula kemitraan strategis dengan petani.
Melalui kolaborasi ini, diharapkan rantai pasok dari sektor hulu (pertanian) hingga hilir (pabrik produksi dan distribusi) dapat terbentuk dengan matang demi memastikan keberlanjutan investasi.
sumber:
https://finance.detik.com/energi/d-8526208/proyek-bioetanol-60-ribu-liter-di-lampung-dikebut
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




