Organisasi Buruh Sambas Gelar Aksi Nyata di Perbatasan Aruk-Malaysia: Pungut Sampah Jadi Pesan Damai untuk Keadilan Sosial

Di tengah momentum Hari Buruh Internasional (May Day) yang biasanya identik dengan aksi unjuk rasa, Federasi Kehutanan, Industri Umum, Perkayuan, Pertanian dan Perkebunan (F-HUKATAN) Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, memilih jalur berbeda. Mereka melaksanakan bakti sosial pungut sampah di kawasan perbatasan Aruk-Malaysia , sebuah inisiatif yang menggabungkan kepedulian lingkungan dengan pesan mendalam tentang kesejahteraan buruh dan keadilan sosial.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan May Day 2025 dengan tema “Aksi Nyata Buruh, Peduli Lingkungan, Bersihkan Negeri” . Menurut Ketua F-HUKATAN Kabupaten Sambas, Abelnus , langkah ini bertujuan mengubah persepsi masyarakat terhadap buruh yang selama ini sering diidentikkan dengan protes dan demonstrasi. “Kami ingin menunjukkan bahwa buruh juga bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga lingkungan dan membangun bangsa melalui aksi-aksi damai yang mendidik,” ujarnya.
Perbatasan Aruk: Simbol Kedaulatan dan Kolaborasi Buruh
Lokasi kegiatan dipilih tidak sembarangan. Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk , yang berbatasan langsung dengan Malaysia, menjadi simbol kedaulatan Indonesia sekaligus wilayah rawan pencemaran akibat aktivitas lintas negara. Sampah plastik, kayu bekas, dan limbah rumah tangga kerap ditemukan berserakan di sepanjang jalur perbatasan, mencemari lingkungan dan merusak citra kawasan strategis nasional.
Dalam aksi ini, puluhan anggota F-HUKATAN bersama masyarakat membersihkan area seluas 2 hektare, mengumpulkan lebih dari 500 kilogram sampah. Sampah kemudian diangkut ke tempat pembuangan sementara (TPS) setempat untuk dipilah dan didaur ulang. “Ini bukan sekadar kegiatan fisik. Ini adalah pesan bahwa buruh bisa menjadi mitra pemerintah dalam menjaga kebersihan dan keamanan wilayah perbatasan,” kata Abelnus.
Tujuh Pernyataan Sikap: Keadilan Buruh, Kesetaraan, dan Perlindungan Lingkungan
Selain aksi lingkungan, F-HUKATAN menyampaikan tujuh pernyataan sikap sebagai refleksi perjuangan buruh di Kalimantan Barat:
- Mengapresiasi komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan buruh dan mendorong kebijakan ketenagakerjaan yang inklusif.
- Mendukung stabilitas ekonomi dengan tetap menjunjung hak-hak pekerja dalam iklim investasi kondusif.
- Mendorong kesetaraan gender di tempat kerja, termasuk perlindungan dari diskriminasi dan kekerasan.
- Menolak eksploitasi buruh melalui sistem kerja tidak adil, upah murah, dan PHK sepihak.
- Memperkuat serikat pekerja dan dialog sosial antara pemerintah, pengusaha, dan buruh.
- Menghargai kontribusi pekerja informal , termasuk pekerja rumah tangga dan kelompok rentan.
- Mendukung aparat keamanan dalam menciptakan ketertiban masyarakat melalui pendekatan dialogis.
Pernyataan ini menjadi penegas bahwa isu buruh tidak hanya berkutat pada upah dan jam kerja, tetapi juga hak sosial, lingkungan, dan keterlibatan dalam pembangunan nasional.
Respons Positif dari Masyarakat dan Pemerintah Daerah
Camat Sajingan Besar, Obertus , menyambut baik inisiatif F-HUKATAN yang dinilai langka di tengah dominasi organisasi massa yang lebih sering melakukan aksi anarkistis. “Tidak banyak ormas yang peduli pada lingkungan. F-HUKATAN telah membuktikan bahwa organisasi bisa menjadi contoh positif melalui kerja nyata,” katanya.
Ketua Panitia, M. Yayan , menambahkan bahwa aksi ini juga bertujuan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kebersihan lingkungan. “Selama ini organisasi dipandang hanya jago unjuk rasa dan merusak. Kini, F-HUKATAN membuktikan bahwa organisasi juga bisa peduli pada lingkungan,” ujarnya.
May Day 2025: Momentum Refleksi dan Aksi Nyata
Bagi buruh Indonesia, May Day bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi refleksi atas perjuangan panjang untuk hak-hak pekerja. Di Sambas, aksi pungut sampah menjadi simbol bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil: menjaga lingkungan, menghargai sesama, dan membangun kolaborasi lintas sektor.
Abelnus menegaskan, “Kami memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh buruh Indonesia yang menjadi kekuatan utama membangun bangsa. Tuntutan keadilan tidak harus melalui protes keras, tetapi juga melalui aksi damai yang berkelanjutan.”
Harapan untuk Masa Depan: Buruh sebagai Agen Perubahan
Kasus Sambas menjadi inspirasi bagi organisasi buruh di daerah lain untuk menggabungkan isu lingkungan dengan perjuangan sosial. Dengan pendekatan ini, buruh tidak hanya menjadi korban struktur ekonomi yang tidak adil, tetapi juga agen perubahan yang aktif dalam menjaga keberlanjutan bumi.
Sebagaimana disampaikan Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah , dalam peringatan May Day 2025, “Pekerja dan buruh adalah pilar utama pembangunan bangsa. Kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja akan menjadi kunci kesejahteraan bersama.”
Dengan langkah kreatif seperti ini, F-HUKATAN Sambas membuktikan bahwa buruh bisa menjadi garda terdepan dalam membangun Indonesia yang lebih adil, bersih, dan berkelanjutan.
Sumber : Antara News
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




