Pencemaran Sungai Cisadane Belum Terungkap Sepenuhnya, Hasil Uji Laboratorium Masih Ditunggu

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) hingga kini belum dapat mengumumkan hasil pemeriksaan laboratorium terkait pencemaran pestisida di Sungai Cisadane. Pencemaran ini terjadi setelah kebakaran gudang milik PT Biotek Saranatama di kawasan BSD Serpong pada Februari 2026.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyampaikan bahwa hasil uji laboratorium dari Institut Pertanian Bogor masih belum keluar. Padahal, data tersebut sangat penting untuk mengetahui tingkat konsentrasi pestisida yang mencemari air sungai.
“Laboratorium IPB ini akan menjelaskan konsentrasi pestisida yang ada,” ujar Hanif di Jakarta, Senin (16/3/2026).
Ia menjelaskan, hasil uji tersebut nantinya akan menjadi dasar utama dalam menghitung kerugian lingkungan yang harus ditanggung oleh pihak perusahaan. Perhitungan dilakukan secara ilmiah dengan mengacu pada kadar pencemar yang ditemukan, kemudian dikalikan dengan nilai kerugian lingkungan yang telah ditetapkan.
Saat ini, KLH juga tengah memantau kemungkinan adanya endapan pestisida di dasar sungai. Pengambilan sampel lanjutan direncanakan pada awal bulan depan di enam titik yang sama untuk memastikan kondisi sedimentasi. Pemantauan akan dilakukan secara berkala setiap bulan guna melihat apakah residu berbahaya masih tersisa.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi ikan dari Sungai Cisadane. Hal ini mengingat tingginya risiko kontaminasi zat beracun terhadap biota perairan.
Sebelumnya, KLH telah melakukan upaya penanganan awal dengan menuangkan 10.000 liter eco enzyme ke aliran Sungai Jeletreng. Pencemaran ini diketahui melibatkan senyawa organofosfat yang bersifat toksik, menyebabkan kematian ikan secara massal hingga mencapai wilayah Teluk Naga dengan panjang dampak sekitar 41 kilometer.
KLH juga telah mengamankan sisa bahan kimia dari lokasi kejadian, memasang garis pengawasan lingkungan, serta menempuh langkah hukum baik pidana maupun perdata terhadap perusahaan terkait.
Jika kandungan pestisida masih tinggi, pemerintah akan melakukan bioremediasi bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional untuk memulihkan kualitas lingkungan menggunakan organisme alami.
Data dari BRIN menunjukkan bahwa sekitar 2,5 ton pestisida tumpah ke sungai dengan area terdampak mencapai radius 22,5 kilometer. Peneliti BRIN, Ignasius D A Sutapa, menyebut bahwa Sungai Cisadane merupakan sumber vital bagi kebutuhan air baku, irigasi, serta ekosistem di kawasan padat penduduk dan industri.
Ia juga menekankan bahwa insiden ini tergolong pencemaran akut, berbeda dari pencemaran kronis yang selama ini terjadi akibat limbah domestik dan industri. Penyebaran cepat zat beracun tersebut dipengaruhi oleh dinamika aliran sungai yang mempercepat distribusi pencemar.
Kasus ini menjadi pengingat serius akan pentingnya pengawasan ketat terhadap penyimpanan dan pengelolaan bahan kimia berbahaya, terutama di kawasan industri yang berdekatan dengan sumber air utama masyarakat.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




