Perjanjian Paris terbukti menahan laju pemanasan global

Riset Baru Mengonfirmasi: Perjanjian Paris Berhasil Menahan Laju Pemanasan Global
Sebuah penelitian terbaru yang melibatkan konsorsium ilmuwan dari World Weather Attribution dan Climate Central mengungkapkan peran krusial Perjanjian Paris 2015 dalam memitigasi dampak terburuk perubahan iklim. Riset ini menggunakan simulasi komputer untuk memproyeksikan perbedaan dampak gelombang panas dengan dan tanpa adanya kesepakatan iklim global tersebut.
Dampak Signifikan Perjanjian Paris
Temuan kunci dari riset, meskipun belum melalui peer review, menunjukkan bahwa ambisi global yang disepakati melalui Perjanjian Paris telah mencegah lonjakan hari-hari panas ekstrem secara drastis.
| Skenario Kenaikan Suhu Global (Akhir Abad ke-21) | Kenaikan Jumlah Hari “Superpanas” (Dibanding Kondisi Saat Ini) | Keterangan |
| Tanpa Perjanjian Paris (4 C Kenaikan) | 114 Hari (Hampir 2 bulan ekstra) | Skenario terburuk; peningkatan hari ekstrem melonjak dua kali lipat. |
| Dengan Komitmen Paris (2.6 C Kenaikan) | 57 Hari | Hasil dari penekanan emisi karbon global yang telah disepakati. |
| Kondisi Saat Ini (Sejak 2015) | ~ 11 Hari | Tambahan rata-rata hari superpanas yang dialami dunia setiap tahun. |
Definisi Hari Superpanas: Hari dengan suhu yang lebih tinggi dari 90 persen hari yang tercatat pada periode referensi 1991–2020.
Menurut Kristina Dahl dari Climate Central, perbedaan antara skenario 4 C dan 2.6 C mencerminkan keberhasilan ambisi manusia selama sepuluh tahun terakhir dalam menahan laju bencana.
Proyeksi Dampak Regional yang Meningkat
Riset ini juga menggarisbawahi bagaimana gelombang panas yang terjadi baru-baru ini telah diperburuk oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia:
- Eropa Selatan (Gelombang Panas 2023): Kini 70% lebih mungkin terjadi dan 0.6 C lebih panas dibandingkan satu dekade lalu. Jika upaya mitigasi gagal, gelombang panas serupa pada akhir abad ini bisa mencapai 3 C lebih panas.
- Amerika Serikat Barat Daya dan Meksiko: Gelombang panas di wilayah ini diproyeksikan meningkat hingga 1.7 C pada akhir abad ini jika tidak ada penekanan polusi karbon yang lebih ketat.
Isu Keadilan Iklim (Climate Justice)
Penelitian ini secara tegas menyatakan bahwa beban perubahan iklim tidak terbagi secara adil.
- Ketimpangan Global: Negara-negara miskin akan mengalami peningkatan jumlah hari superpanas yang jauh lebih besar dibandingkan dengan negara-negara maju penghasil emisi besar.
- Kerentanan Kesehatan: Peningkatan hari superpanas dapat mengakibatkan lonjakan korban, dengan perkiraan jumlah korban jiwa mencapai puluhan ribu hingga jutaan orang pada dekade mendatang. Gelombang panas ekstrem mematikan dan membuat orang berakhir di rumah sakit.
Relevansi Menjelang COP30
Laporan ini dirilis menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30), di mana hampir 200 negara akan bertemu untuk memperbarui komitmen iklim mereka. Hasil riset ini menjadi pengingat yang penting mengenai keberhasilan sekaligus kekurangan dari Perjanjian Paris, menyoroti bahwa upaya mitigasi harus ditingkatkan untuk menghindari dampak yang jauh lebih parah.
sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




