Berita

Perumahan tangguh iklim jadi keharusan Nasional hadapi risiko bencana di Indonesia

Keharusan Nasional: Menuju Ekosistem Perumahan Tangguh Iklim di Indonesia

Bagi Indonesia, perumahan tangguh iklim bukan lagi sekadar wacana hijau, melainkan strategi pertahanan nasional. Dengan 80% bencana nasional yang berakar pada fenomena hidroklimatologi (banjir, longsor, badai, dan kekeringan), kegagalan dalam mengadaptasi sektor perumahan akan membawa konsekuensi ekonomi dan sosial yang masif.

1. Urgensi Ekonomi dan Risiko Sistemik

Tanpa langkah adaptasi yang terintegrasi, perubahan iklim diproyeksikan menjadi beban fiskal yang berat bagi negara:

  • Kehilangan PDB: Estimasi kerugian mencapai 2,87% dari PDB setiap tahun pada 2045.
  • Kerentanan Sosial: Masyarakat di permukiman informal, terutama rumah tangga yang dikepalai perempuan, menanggung beban biaya hidup dan kesehatan tertinggi akibat kenaikan suhu dan banjir rob.

2. Pilar Teknis: Desain Adaptif dan Ekonomi Sirkular

Lokakarya Climate Adaptation through Housing merumuskan bahwa rumah masa depan harus mampu “bekerja” selaras dengan alam melalui dua pendekatan utama:

A. Passive Cooling & Low Carbon Design

Mengadopsi kearifan lokal untuk menurunkan suhu ruangan tanpa ketergantungan pada energi listrik.

  • Studi Kasus: Penerapan desain di Desa Wunung, Gunung Kidul, terbukti meningkatkan kesejukan dan kualitas udara dalam ruang secara signifikan.
  • Material: Penggunaan material rendah karbon untuk mengurangi emisi sekaligus memperkuat struktur bangunan terhadap cuaca ekstrem.

B. Ekonomi Sirkular dalam Konstruksi

Inovasi material seperti yang dipelopori oleh Rebricks menunjukkan bahwa limbah dapat diolah menjadi bahan bangunan berkualitas. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi risiko iklim tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal berbasis pengolahan sampah.

3. Ekosistem Pembiayaan Inklusif

Pembangunan 3 juta rumah per tahun adalah peluang strategis untuk menyisipkan standar ketangguhan iklim. Namun, hambatan utama bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) adalah biaya. Solusi yang ditawarkan meliputi:

  • Pembiayaan Mikro: Skema kredit kecil untuk peningkatan rumah secara bertahap (incremental housing).
  • Indikator Ketangguhan Berjenjang: Menetapkan standar ketangguhan yang dapat dicapai secara berkelanjutan agar tetap terjangkau oleh komunitas MBR.
  • Kemitraan Pemerintah-Swasta (PPP): Membangun kerangka kerja yang memungkinkan sektor swasta terlibat dalam penyediaan hunian adaptif bagi kelompok rentan.

4. Rekomendasi Strategis untuk Kebijakan Nasional

Berdasarkan hasil curah gagasan para pakar dari Bappenas, ITB, UII, dan KLH, berikut adalah tiga pilar aksi bagi pemerintah:

Pilar AksiPenjelasan Singkat
Pendekatan Berbasis BuktiMenggunakan evidence-based design dengan pengukuran dampak yang jelas sebelum dan sesudah intervensi pada perumahan MBR.
Inklusi KomunitasMemanfaatkan material lokal dan memperkuat kapasitas tukang bangunan setempat melalui pelatihan teknis rumah tahan gempa dan banjir.
Studi Percontohan (Pilot)Menguji efektivitas panduan teknis di berbagai zona rawan bencana sebagai landasan regulasi nasional yang lebih luas.

“Mengadaptasi bangunan untuk menghadapi perubahan iklim dan mengurangi emisi adalah dua hal yang saling memperkuat.” — Khairunnisa, Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim KLH

Kesimpulan

Integrasi prinsip adaptasi iklim ke dalam RPJPN-RPJMN harus segera diturunkan ke tingkat tapak. Melalui regulasi yang inklusif dan skema pembiayaan yang fleksibel, Indonesia dapat memastikan bahwa target hunian layak dan tangguh tahun 2030 bukan sekadar angka, melainkan perlindungan nyata bagi seluruh rakyat.

sumber:

https://koran-jakarta.com/2025-12-22/perumahan-tangguh-iklim-jadi-keharusan-nasional-hadapi-risiko-bencana-di-indonesia#google_vignette

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO